
"Vannesa kau? Apa yang kau lakukan?"
"Aku? Tentu saja berganti gaun." Jawab Vannesa santai.
"Astaga Vannesa! Kau ini menolak memakai gaunku dan malah merobek gaun milikmu? Kenapa kau tidak sopan seperti itu?" Ucap Syerly pura-pura simpati.
Vannesa menyunggingkan senyum "Aku bukannya tidak sopan Syerly,setidaknya gaun yang sudah aku sobek ini tapi masih layak pakai. Dan jujur aku lebih percaya diri dengan tampilanku sekarang ini." Vannesa melirik Rio yang sedang memperhatikannya saat ini.
Rio bangkit dari duduknya,dia mendekati Vannesa "Ini yang mau aku lihat darimu. Enjoy this party." Bisiknya didekat telinga Vannesa.
"Vannesa kau baik-baik saja?" Hans berjalan mendekat,gurat khawatir diwajahnya terlihat jelas .
"Hans,i'am okey. Don't worry about this." Vannesa tersenyum,itu membuat Hans lega. Bagaimana mungkin Hans mengkhawatirkan mafia berdarah dingin seperti Vannesa? Hans lalu ditarik oleh Rian untuk bertemu beberapa orang penting.
Maya mendekati Vannesa,dia memegang kue dan garpu ditangannya.
"Kau mau kue? Sayang sekali pidato penyambutannya sudah berakhir ya,kau tidak ada waktu untuk melihatnya." Vannesa mengernyit,dia bahkan tidak perduli kehadirannya disambut atau tidak.
"Kenapa kau diam? Apakah kau kecewa?" Maya menyuapkan kue kemulutnya.
"Tidak sama sekali." Vannesa sangat acuh kepada Maya.
"Hey nona sombong,kau sebaiknya jaga sikap disini. Tidak enak dilihat orang lain." Ucap Zana sambil memalingkan wajahnya.
"Hey kau suka sekali ikut campur."
"Ah aku minta maaf,tidak sengaja." Ucapnya lalu pergi dari hadapan Maya. Maya yang merasa jengkel,akhirnya juga memilih pergi. Berbanding terbalik dengan Vannesa yang memilih tinggal disana dan duduk menikmati hingar bingar pesta. Vannesa merasa bosan,selama perjamuan tidak ada orang yang bisa diajaknya bicara,kini teman-temannya sedang sibuk sendiri.
"Tidak punya teman? Biar aku temani." Vannesa melihat keatas,dia melihat seorang laki-laki yang terlihat tampan. Vannesa mengangguk,lalu laki-laki itu duduk disampingnya.
"Aku lihat kau sangat berpengaruh,tapi kenapa tidak ada teman mengobrol?" Tanyanya pada Vannesa.
Vannesa mengendikkan bahu "Bukan urusanmu."
Laki-laki itu terkekeh "Baiklah namaku Bryan Stewart ahli mode. Kau siapa?" Bryan mengulurkan tangannya.
Vannesa menerima uluran tangan Bryan "Aku Vannesa, sekretaris ceo Rio dari Bigantara Grub."
Bryan terlihat terkejut mendengar pengakuan Vannesa. "Benarkah? Rio mengangkat sekretaris perempuan? Sungguh perubahan besar."
"Kau sepertinya sangat mengenal bosku,bukankah begitu?"
"Hahaha tentu saja,dia adalah teman masa kecilku sebelum aku tinggal di luar negeri. Tapi sekarang aku sudah kembali." Jelasnya pada Vannesa.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, seleramu tidak buruk. Gaun dan riasanmu sangat sempurna,sangat cocok denganmu dibanding yang tadi. Membawa tema mafia looks. Apalagi model robekan ini." Bryan memperhatikan gaun Vannesa yang telah dirobeknya.
"Bagaimana caramu melakukannya,maksudku apa motivasimu ketika melakukan ini?" Tambah Bryan.
Vannesa melihat gelas yang dia pegang lekat-lekat. "Gaun ini terkena tumpahan air minum tadinya dibagian bawah,aku tidak membawa ganti jadi hanya mencoba keberuntungan dengan merobeknya,dan merubah riasan saja."
"Excellent Vannesa! Ide fashion ini sangat menarik,aku akan membuat terobosan baru dengan memakai namamu sebagai nama dress kali ini." Bryan sangat senang sampai sedikit berteriak.
Vannesa menatap heran Bryan dia tidak tau maksud Bryan itu apa.
"Heh kau tidak tau?" Vannesa menggeleng "Haduh begini,aku akan membuat dress dengan meniru pakaianmu saat ini,seakan-akan seperti menyobeknya dan aku akan memberi model itu dengan namamu, bagaimana? Kalau produk ini laku dipasaran aku akan memberikanmu keuntungannya juga." Jelas Bryan dengan semangat.
"Itu ide yang sangat bagus,aku sendiri tidak keberatan dengan itu,tapi baju ini bukan dari brand milikmu, bagaimana dengan ini?" Vannesa melirik Bryan yang sedang melihat model dan bahan dari dress tersebut.
"Wahh memang keberuntungan bagiku,kebetulan dress ini adalah brand milikku,jadi tidak masalah Vannesa." Bryan memberikan ponselnya kepada Vannesa,disana terdapat model,dan keterangan produk.
"Apakah aku bisa meminta nomor hpmu? Membicarakan kerja sama kita? Dilain hari kita akan membahasnya." Bryan memberikan ponselnya kepada Vannesa.
"Kerja sama? Hanya namaku saja tidak usah."
"Meskipun hanya nama,tapi ide ini adalah milikmu, bekerja samalah denganku." Bryan mengulurkan tangan,dan lagi-lagi Vannesa menyambut uluran tangan itu. Vannesa setuju.
Pukul 23.11,pesta berakhir para tamu sudah berhamburan keluar hotel, Vannesa keluar bersama dengan Hans. Manik mata Vannesa menangkap sosok Rio yang berdiri di depan hotel dengan mobilnya.
Vannesa menggeleng "Aku pulang bersama Hans." Vannesa menjawab tak kalah dingin.
Rio melirik Hans yang berada disebelah kiri Vannesa dengan tatapan tajam.
"Wah tuan Alexander rupanya. Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu di perjamuan tadi." Rio mendekati Hans,mereka bersalaman sambil beradu pandang.
"Tidak masalah tuan Bigantara,tamu hari ini sangat banyak."
Genggaman tangan mereka berdua terlihat semakin erat, serta senyuman mereka terlihat sangat menakutkan, seperti musuh lama yang bertemu kembali.
"Aku akan mengantarkan Vannesa,semoga tuan Bigantara maklum." Sejurus kemudian mereka berdua melepaskan tautan tangan mereka.
Rio merapikan jasnya dan melirik Vannesa "Jaga Vanny baik-baik tuan Alexander,dia sangat berharga untukku." Ucapnya lalu masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.
"Sepertinya raja es sudah menemukan ratu es hmm." Ledek Hans pada Vannesa.
"Darahku cukup panas untuk membunuh orang saat ini Hans, berdoalah semoga bukan kau korbanku selanjutnya." Vannesa mengedipkan satu matanya pada Hans,membuat Hans merinding membayangkan nyawanya direnggut oleh Vannesa.
Vannesa dan Hans,berada didalam mobil menuju ke markas threenity.
__ADS_1
Threenity Headquarters
Vannesa berjalan dengan cepat menuju ruangan karantina.
Belum sempat Vannesa masuk ke dalam ruangan itu, penghuni didalamnya sudah menyadari kehadiran Vannesa.
"Kau datang? Aku sudah lama menunggumu... Elvia!"
Vannesa terperanjat,selama ini hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan Elvia. Ingatan Vannesa menguar melawan kesadaran Vannesa yang semakin lama semakin pudar.
Gelap. Itulah hal pertama kali yang Vannesa lihat, Vannesa mengedarkan pandangannya ke segala penjuru,dia melihat secercah cahaya putih yang cukup menyilaukan mata. Vannesa berjalan mendekat kearah cahaya itu.
Vannesa melihat dua anak kecil yang berlari saling mengejar satu sama lain bersenda gurau. Derap langkah mereka semakin cepat,secepat memori Vannesa yang berganti. Kini Vannesa melihat remaja yang berlari dikejar oleh sekelompok preman, kedua remaja gadis ini berlari tak tentu arah,mereka saling bergandengan tangan.
DOR!
Sampai saat itu juga,salah satu dari mereka terkena tembakan tepat dibagian jantung. Remaja itu meluruh ketanah,dia tidak bisa berlari lagi. Tidak terasa Vannesa meneteskan air mata,dia mencoba meraih remaja yang terkulai lemas di pangkuan temannya itu. Para preman terlihat semakin dekat,remaja yang sudah hampir kehilangan nyawa itu memaksa temannya untuk berlari menyelamatkan diri. Dengan terpaksa dia meninggalkan temannya yang sudah tidak berdaya disana,dia berlari sambil menangis tersedu-sedu.
"LAKSMI!" Teriak Vannesa ketika dia tersadar.
"Vannesa kau kenapa? Apakah kau sakit?" Tanya Rista khawatir dengan keadaan Vannesa.
"Siapa orang yang kau sebut namanya barusan?" Hans yang berada disamping Vannesa juga terlihat khawatir.
Vannesa mengerjap beberapa kali,dia mengedarkan pandangannya.
"Dia? Dimana Laksmi? Kenapa aku ada disini?" Vannesa merasa bingung,dia berada di ruang perawatan saat ini.
"Vannesa calm down,kau pingsan di ruang karantina tadi,komandan yang menemukanmu tergeletak di lantai." Hans menjelaskan kepada Vannesa.
Vannesa yang mendengar penjelasan Hans segera turun dari kasur,dia ingin bertemu Laksmi.
"Akhh." Vannesa merasa sangat pusing,dia hampir terjatuh karenanya,tapi Vannesa tidak menyerah dia segera berlari keluar menuju ruang karantina.
"Vannesa apa yang kau lakukan!" Hans dan Rista panik segera menyusul Vannesa.
Vannesa telah sampai di ruang karantina,langkahnya gontai. Laksmi sudah tidak ada disana. Hanya meninggalkan aroma tubuhnya.
Vannesa tidak berdaya,dia meluruh kelantai,menangis tersedu-sedu. Menyesali perbuatannya selama ini, meninggalkan sahabatnya untuk kedua kalinya. Dia terlambat menyadari bahwa Laksmi masih hidup.
Vannesa tidak bisa menahan diri dia pingsan lagi di tempat yang sama.
"Vannesa!" Samar-samar Vannesa masih bisa melihat dan mendengar Hans dan Rista yang datang menolong dirinya.
__ADS_1
Namun semuanya hilang. Gelap, Vannesa kehilangan mereka.