
Ketiga gadis itu kini berjalan beriringan membelah suasana malam yang mencekam dan dingin. Dari dalam ke rimbunan hutan bambu mereka menampakkan diri,mereka sampai di pinggir kota.
Vannesa dan Lisa saling pandang ketika melihat dimana posisi mereka saat ini. Lokasi dan tujuan mereka belum jelas, bagaimana mungkin Vannesa dan Lisa akan terus mengikuti Silya kali ini?
Vannesa menarik pergelangan Silya sehingga membuat sang empunya berhenti melangkah "Ada apa?" Tanya Silya tanpa menoleh.
"Katakan,mau kemana kita sebenarnya?" Tanya Vannesa sambil melepaskan pegangan tangannya. Silya memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Vannesa serta Lisa yang masih berdiri dibelakangnya.
"Nanti kalian akan tau."
"Sudahlah beri tau saja segera! Kenapa harus disembunyikan sih? Kita butuh tujuan yang jelas!" Ucap Lisa dengan nada sedikit meninggi.
Silya melirik kearah Vannesa yang bungkam,ia menghela nafas kasar dan menengadahkan kepalanya melihat ke angkasa.
"Disini kalian bisa melihat apa yang ada dibawah sana. Dari sini juga kalian bisa melihat rumah orang tua Vannesa."
Deg
__ADS_1
Vannesa segera mendekat ke samping Silya,apa yang dikatakan oleh Silya barusan adalah sebuah kebenaran. Vannesa bisa dengan jelas melihat kediamannya orang tuanya dari sana.
"Bagaimanapun ini mungkin?" Tanya Vannesa kepada Silya.
"Semua itu mungkin, lihat saja itu kau bisa melihatnya dengan jelas. Bagaimana kau meragukan itu?" Ucap Silya dengan wajah datar.
Lisa yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua kini berjalan mendekati Vannesa yang masih melihat kebawah. Posisi hutan bambu itu berada sedikit lebih tinggi dari kota. Itulah yang membuat mereka bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kota.
"Vann?" Tanya Lisa kepada Vannesa yang masih menatap kearah salah satu rumah yang Lisa yakini adalah rumah orang tua Vannesa.
"Silya,apa yang terjadi disana?" Tanya Vannesa ketika netranya menangkap pergerakan dari dalam rumah itu.
"Aku membawamu kemari ingin kau mengetahui semua ini. Orang tuamu diculik." Jawab Silya dengan santai tanpa beban apapun.
Berbeda dengan Vannesa dan Lisa,mereka tersentak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Silya barusan. Kata-kata yang membuat jantung Vannesa berdetak semakin cepat,darahnya terasa mengalir dengan deras didalam sana.
"Apa maksudmu katakan!" Tegas Lisa sambil mencengkram erat kerah baju Silya.
__ADS_1
"Tanyakan kepada Vannesa sendiri!" Mendengar itu Lisa melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan menatap kearah Vannesa. Vannesa yang merasa sedang diperhatikan itu memilih untuk membalas tatapan Lisa.
"Orang tuaku menjadi sasaran seseorang. Aku akan bergerak!" Ucapnya datar.
"Tidak jangan! Itu jebakan untukmu!" Ucap Silya sembari menghalangi Vannesa agar tidak melangkah.
"Apa maksudmu?"
"Orang itu ingin menghabisi Vannesa beserta keluarganya. Mereka fikir kau sudah mati jadi mereka akan membunuh orang tuamu,kalau kau muncul saat ini masalah akan semakin besar. Mereka akan curiga dengan identitasmu. Bertahanlah!" Ucapan Silya berhasil membuat Vannesa mengurungkan niatnya, Silya benar dengan semua itu. Ia hanya perlu mengawasi dimanakah penjahat itu membawa orang tuanya.
"Aku curiga kepadamu, jangan-jangan kamu dalang dibalik semua ini." Ucap Lisa sambil menunjuk ke arah Silya.
Silya menggeleng dan tersenyum tipis "Motif apa? Aku bisa tau semua ini karena aku seorang hacker kau lupa? Aku bisa meretas semua yang aku mau, meretas seluruh jaringan yang ada di dunia ini juga bisa kulakukan." Ucapnya menyombongkan diri. Lisa memutar bola matanya malas,ia tidak suka dengan karakter bawaan dari Silya yang cenderung pamer dan menyombongkan dirinya.
"Ck aku bisa percaya untuk saat ini, tapi lain kali aku tidak bisa memastikannya." Ucap Lisa sembari menyilangkan kedua tangannya didadanya.
Tatapan Lisa beralih kearah Vannesa yang sudah pergi menjauhi dirinya dan Silya "Vannesa kau mau kemana?" Tanya Lisa sedikit berteriak karena jarak mereka sedikit jauh.
__ADS_1
"Mencari informasi,ayo ikut." Lisa menyunggingkan senyum dan berlari mendekati Vannesa. Akhirnya Silya kini sendiri,tak ada teman hanya ada suara binatang malam yang terdengar serta tiupan angin malam yang dingin menusuk tulang.
"Semoga kau berhasil." Ucap Silya dengan bibir yang bergetar. Silya meneteskan air matanya mengiringi kepergian kedua gadis itu.