
"Kau siapa? Tolong jangan apa-apa kan kami."
Wanita paruh baya itu ketakutan ketika melihat Vannesa mendekat kearah mereka.
"Berhenti kau pembunuh! Jangan coba-coba sentuh aku!"
Langkah Vannesa terhenti mendengar suara Maya yang sedikit berteriak,ia memandang tak suka kepada Maya. Lalu melanjutkan langkahnya mendekati sang ayah.
Vannesa membungkuk dan jongkok dihadapan ayahnya yang sudah terlihat berkeriput,ia tersenyum tipis. Melihat wajah ayah yang sangat ia rindukan selama ini, meskipun dahulu ia sering disiksa oleh ayahnya. Vannesa mengalihkan perhatiannya kepada sang ibu yang terlihat berlindung dibalik punggung lebar suaminya,ibu yang juga sama jahatnya kepada Vannesa dulu namun bagaimanapun ia tetaplah ibunya.
"Kau kau mau apa? Jangan sakiti keluarga kami! Semua harta ini bisa kau ambil,tapi jangan sakiti keluarga kami!" Ujar sang ayah.
Vannesa menatap ayahnya kembali,kali ini tatapannya terlihat kecewa bercampur amarah. Mendengar kata keluarga entah kenapa hati Vannesa seperti terkoyak,sakit sekali. Ngilu rasanya,mau menangis tapi amarah sudah menguasai dirinya.
Dengan perlahan ia menghela nafas dan menatap lekat netra ayahnya "Apakah kau fikir aku mau membunuh kalian? Apakah aku ini seperti gadis penggila harta?"
Vannesa menatap kearah Maya "Seharusnya kalau aku memang mau membunuh kalian aku mulai dari dia. Tapi aku tidak mau membunuh kalian."
"Lalu apa maumu? Katakan!" Tanya ibu Vannesa dengan suara sedikit gemetar.
Mendengar itu Vannesa tersenyum,mereka dapat melihatnya dari mata Vannesa yang sedikit menyipit.
"Membebaskan kalian." Dan tanpa banyak basa-basi Vannesa segera berdiri dan berjalan menuju kebelakang ayahnya, terlihat mata mereka waspada terhadap gerak-gerik yang Vannesa lakukan.
Ketika Vannesa mengarahkan belatinya ke tali yang mengikat ayahnya, Vannesa teralihkan oleh teriakan Hans yang tiba-tiba.
"Sist,awas!"
Mendengar itu Vannesa bangkit dan menangkis serangan dari salah satu lawannya yang muncul dari belakang Vannesa.
"Jangan dilepaskan! Kau tidak seharusnya ikut campur urusan kami!" Sarkas lawan Vannesa.
Vannesa hanya memasang wajah datarnya sembari menatap lekat mata hitam lawannya yang terlihat sangat marah.
__ADS_1
Jlebb!
"Aaaaa!" Maya berteriak kencang melihat kejadian yang berlalu cepat itu. Reflek tangannya menutupi matanya.
"AKHH! Shh apa yang? Ahh!" Laki-laki itu memegang perutnya sendiri yang berdarah, meskipun lukanya tidak dalam tapi luka itu mampu membuatnya meringis kesakitan.
"KAU! Beraninya!" Laki-laki itu berusaha bangkit dan mengayunkan pisaunya kearah Vannesa berharap bisa membunuh atau minimal melukai Vannesa.
Namun sayangnya Vannesa sudah bisa membaca gerakan lawannya itu,dengan cepat ia mengelak dan memelintir tangannya serta merebut paksa belati ditangannya itu. Mendapatkan perlakuan itu membuat laki-laki itu limbung apalagi tangan kirinya memegangi perut sebelah kanannya yang terluka akibat Vannesa.
Tanpa bicara sepatah kata pun Vannesa segera berjalan kembali ke belakang ayahnya, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Kau! Bunuh saja aku,jangan siksa aku begini!" Ucap musuhnya dengan suara parau.
Vannesa menoleh kearahnya "Nikmatilah kekalahanmu walau hanya beberapa menit saja, lagipula aku adalah orang yang tidak suka buang-buang tenaga." Jawab Vannesa tenang,ia melepaskan tali yang mengikat kedua tangan ayahnya dalam sekali potong.
"Mengapa kau bantu mereka?" Tanya musuhnya lagi.
Namun Vannesa hanya diam,ia tetap fokus mengarahkan belatinya ke tali yang mengikat tangan ibunya.
"Ka kau pasti punya hubungan dengan mereka kan?"
Tepat ketika belati Vannesa berhasil memotong tali yang mengikat tangan ibunya, Vannesa mematung mendengar pertanyaan itu,lebih tepatnya adalah tebakan. Musuh Vannesa menganggap diamnya Vannesa sebagai 'ya' begitupun dengan ketiga orang lainnya.
Tapi Vannesa segera menyeringai dan menatap tajam kearah musuhnya yang memang hampir mati itu.
"Hahahah! Aku lebih baik membantu mereka daripada membantu kalian,karena apa? Karena aku tidak suka kalian!"
Jawabnya Vannesa adalah hal yang terakhir kali dapat musuhnya itu dengar,karena bersamaan dengan itu ia benar-benar telah kehilangan nafas dan nyawanya. Membuat ayah dan ibu Vannesa serta Maya terkejut sekaligus takut.
Vannesa hanya berdecih pelan,ia lalu mendekati Maya yang beringsut ketakutan.
"Diamlah atau belati ini akan menggores tanganmu!" Tentunya Vannesa tidak bercanda dengan kata-kata itu,karena kalau Maya terus bergerak akan membuatnya sulit memotong tali dengan benar,dan bisa jadi akan mengenai tangan Maya.
__ADS_1
Namun Maya masih tidak mendengarkan kata-kata Vannesa akibatnya tangannya sedikit terluka karena terkena belati Vannesa yang sangat tajam.
"Aww! Kau sengaja ya?" Tuduh Maya sedikit berteriak,ia mengelus luka gores yang tidak terlalu dalam itu sambil meringis.
Vannesa menaikkan satu alisnya melihat Maya yang sangat kekanak-kanakan "Bukan sengaja,aku sudah memperingatkanmu tadi." Jawabnya dingin.
Namun Maya malah emosi dan mengambil belati milik lawan Vannesa yang tergeletak agak jauh darinya,ia mengarahkan belatinya ke leher Vannesa.
"Astaga Maya! hentikan itu!" Ucap ibunya yang segera menutup mulutnya karena sedikit panik.
"Maya apa yang kau lakukan! Cepat turunkan!" Titah ayahnya.
Namun Maya sangat keras kepala entah apa yang ada dipikiran gadis itu sampai berbuat hal yang nekat.
"Dia sengaja melukai tanganku,aku akan memberikan dia luka supaya impas!" Jawab Maya penuh ambisi.
Vannesa tidak takut,justru ia melangkah mendekati Maya,dan Maya yang melihat itu segera mundur, berusaha menjauhi Vannesa.
"Ayo lukai aku!" Tantang Vannesa kepada Maya.
Melihat Maya yang sedikit gemetar membuat Vannesa tersenyum "Kalau aku sengaja melukaimu,pasti kau akan berakhir seperti pria disana itu. Aku tidak hanya akan menggoresmu tapi akan memotong kedua tanganmu sekali tebas!"
Vannesa merebut belati ditangan Maya dan maya beringsut memeluk ibunya dengan gemetar.
"Jangan sok mau melawan! Kau tidak tau siapa aku!" Tatapan Vannesa beralih menatap kedua orangtuanya secara bergantian "Didik dia dengan baik! Tidak punya etika sama sekali! Memalukan!" Ucap Vannesa penuh penekanan.
Vannesa membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari teras tempat ke-tiga orang tadi berada.
"Nona? Terimakasih sudah menolong kami." Ucap ayah Vannesa.
Vannesa terus berjalan tanpa menghentikan langkahnya "Jangan senang dulu,aku membela kalian hanya karena aku musuh mereka,bukannya tulus membantu kalian!" Jawab Vannesa dingin.
Mendengar itu ke-tiganya diam, bahkan Maya terisak di pelukan ibunya. Membuat Vannesa yang mendengarnya berdecih.
__ADS_1
Vannesa menghampiri Hans yang memang sudah selesai bertarung dan membunuh semua lawannya, mereka lompat keatas pagar dan pergi meninggalkan lokasi.