Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Mafia girl


__ADS_3

Vannesa berjalan berkeliling kota untuk melepas penatnya selama ini. Sebulan penuh yang ia lakukan hanyalah berlatih dan juga mengerjakan misinya membuat ia menjadi jenuh.


Disaat ia melewati apartemennya netranya tidak sengaja menangkap sosok Rio,ia keluar dari apartemen dan terlihat sangat frustasi, Vannesa memutuskan untuk mendekat kearah Rio. Ia bersembunyi dibalik tiang parkiran yang besar, Netranya sibuk melihat Rio,ia dapat melihat dengan jelas Rio yang sedang menangis. Ia dapat melihatnya karena kaca mobil Rio yang terbuka.


Jujur saja Vannesa merasa tidak tega melihat Rio yang seperti ini, Vannesa rindu dan entah sejak kapan rasa itu singgah dalam hatinya.


Vannesa memicingkan matanya,ia melihat Rio saat ini sedang mengangkat telfon dari seseorang,dan setelah itu ia berlalu pergi. Vannesa yang penasaran segera mengikutinya, Vannesa dengan cepat memberhentikan taksi.


"Pak tolong ikuti mobil itu didepan."


"Baik kak."


Setelah itu mobil yang dinaiki Vannesa melaju mengikuti mobil Rio. Setelah pengejaran yang cukup lama akhirnya mobil Rio berhenti dibuah gang, Vannesa menyuruh sopir taksi untuk tidak terlalu dekat. Setelah membayar ongkos Vannesa turun dari mobil dan berjalan mendekat kearah Rio.


Vannesa mengedarkan pandangannya,ia berada diantara bangunan-bangunan tua yang sudah tidak terawat. Hal itu membuat Vannesa merasa aneh.


'Aneh,dengan siapa dia bertemu? Kenapa di tempat seperti ini?' Pikir Vannesa, pandangannya tidak luput dari gerak-gerik Rio. Setelah cukup lama akhirnya orang yang ditunggu datang, Vannesa mengernyit orang itu adalah Desta. Ia sempat berfikir jika Rio dan Desta bekerja sama untuk membunuh dirinya,namun semua itu salah.


"Dimana Vannesa?" Gertak Rio yang sudah lama menahan amarahnya.


"Hahaha,sabar brother. Kau tidak suka basa basi ternyata." Desta menyulut rokoknya dan menghisapnya. "Sepertinya Vannesa sangatlah berarti untukmu." Ucapnya sembari berjalan mendekati Rio.


"Tidak usah pura-pura. Kau bilang kau tau dimana Vannesa,katakan sekarang!" Amarah Rio sudah berada dipuncaknya, Vannesa sedikit ngeri melihatnya.


"Cih,baiklah. Vannesa sudah mati."


DEG!


Jantung Rio seakan berhenti berdetak,ia sama sekali tidak percaya dengan kata-kata Desta. Sedangkan Vannesa tidak sabar ingin mendengar ucapan Desta selanjutnya.


"Apa katamu? Bagaimana bisa?"


Desta kembali menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya "Kau harus tau Rio,aku menyukai Vannesa. Dan kau! Kau merebut dia dariku,bahkan kami bertemu lebih dulu dibandingkan denganmu namun kau merebutnya dan semenjak dia berada disisimu dia berubah. Malam itu aku ingin menjadikan dia sebagai istriku namun dia menolak dan aku menyuruh anak buahku membunuhnya,dan tadaa.... Vannesa sudah lenyap."


Vannesa tersenyum remeh 'Dia apakah buta? Memang dia melihat ada jenazahku disana?' Gumamnya pelan.


Rio meluruh ketanah tempatnya saat ini berpijak,ia tidak mengira jika Vannesa akan meninggalkan dirinya sendiri didunia ini.


"Kau cukup beruntung Vannesa sangat mencintai dirimu sampai dia menyerahkan nyawanya hanya karena tidak mau menikah denganku." Desta berjalan menjauh, Rio menatap nyalang Desta dan berlari menghajarnya ia memukul belakang kepala Desta dan Desta terhuyung karena kehilangan keseimbangannya.


"Sialan kau Desta!" Ketika Rio akan melayangkan pukulannya yang kedua ada segerombolan orang yang menahannya.

__ADS_1


"Lepas,siapa kalian!" Rio memberontak namun kekuatannya tidak sebanding dengan cekalan 3 laki-laki itu.


"Ck,kau cari mati ya. Kau pikir aku ini bodoh?" Desta berusaha untuk berdiri tegap dibantu oleh seseorang.


"Rio matilah juga menyusul Vannesa,dengan begitu kau bisa bertemu dengannya." Setelah itu Desta berjalan pergi dibantu orang yang memeganginya tadi.


"Keparat kau Desta! Manusia biadap!" Rio memaki Desta yang sudah pergi dengan mobilnya.


Kini tinggal dia dan juga 5 laki-laki yang disebut sebagai bawahan Desta,Rio berhasil lepas dari cekalan pria itu. Namun sepertinya akan ada pertarungan sengit antara mereka.


Vannesa merasa bimbang akan menolong Rio atau tidak,tapi ia tidak bisa muncul dengan penampilannya yang seperti itu. Vannesa merogoh kantong bajunya ia menemukan selembar kain warna hitam yang kontras dengan warna pakaiannya saat ini. Tanpa berpikir panjang ia melepas mantel warna hijau toskanya dan mengenakan kain itu menjadi cadar.


Vannesa melompat keatas sebuah bangunan dan melakukan parkour dari satu bangunan ke bangunan lainnya,kini posisinya tepat berada diatas laki-laki yang berkelahi itu.


Rio berusaha menahan serangan demi serangan dan berusaha membalasnya, ketika Rio memukul salah satunya dan orang itu jatuh,ia justru dipukul perutnya dari arah samping dan membuat tubuhnya limbung. Ia tidak kuat untuk berdiri,tangannya memegang perutnya yang sakit. Rio pasrah saat ini tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain harus menyerah.


Rio dapat dengan jelas melihat ketika sebuah kepalan tangan mengarah tepat padanya, Rio meringis membayangkan apa yang akan ia alami dan juga karena menahan rasa sakit di perutnya.


Jleb!


"Akkhhh." Bruk! Semua orang tercengang, termasuk dengan Rio yang melihat orang itu jatuh tepat didepannya karena luka tusuk di punggungnya. Darah segar mengalir dari tubuh orang itu.


"Bagaimana bisa? Siapa yang membunuhnya?" Tanya salah satu kepadanya rekannya yang lain. Tapi semuanya diam tidak ada yang mengetahui dengan jelas itu pisau dari mana dan dari siapa.


Semua menoleh kebelakang,mereka melihat seorang perempuan yang lompat dari atas bangunan dan berjalan kearah mereka dengan santainya. Begitu pula dengan Rio,ia merasa tidak asing dengan wanita ini.


"Hai? Apa kabar kalian? Maaf ya aku ganggu. Tapi suara kalian mengganggu waktu istirahatku." Ucapnya tenang.


"Siapa kamu? Apa maumu?"


"Aku? Hahaha. Seharusnya aku yang bertanya pada kalian,kenapa kalian ada di wilayahku?" Vannesa tidak sepenuhnya berbohong tentang itu, tempat itu memang masih bagian dari threenity,tempat yang dulunya digunakan untuk merayakan acara tahunan,namun sekarang sudah tidak lagi.


"Wilayahmu? Hahaha,gadis cantik kau sedang berbohong? Bagaimana mungkin ini wilayahmu?"


Vannesa menyeringai,namun tentu saja mereka tidak bisa melihatnya. Vannesa berjalan mendekat ke tubuh orang yang baru saja ia bunuh. Ia mencabut belatinya dengan keras hingga darah kembali mengucur dari lubang itu.


Semua meneguk salivanya dengan susah payah melihat hal itu. Vannesa melihat Rio yang masih terduduk disana sekilas kemudian berdiri kembali.


"Kalian ini diberitahu malah tidak percaya." Vannesa berjalan menjauh dari mereka,ia tidak berniat untuk lari hanya mau menguji apakah mereka mempunyai nyali untuk mengejarnya. Dan benar mereka mengejar Vannesa yang sudah lumayan jauh.


"Tunggu! Kau sudah mengetahui perkelahian kami,dan bahkan membunuh orang kami,kau harus mati."

__ADS_1


Vannesa menyeringai "Kenapa lama sekali? Itulah yang aku tunggu. Ayo majulah kalian." Ucapnya sembari mengelap belatinya dengan kain.


Vannesa berdiri sambil menatap 4 laki-laki yang berbadan lebih besar darinya itu. Mereka menyerang Vannesa secara bersamaan,namun berkat latihannya yang serius selama 1 bulan ini ia tentunya menjadi lebih lihai dan juga sangat hebat


Rio yang menyaksikan itu merasa takut,ia takut jika ia akan disiksa oleh gadis itu. 'Lebih baik jika langsung dibunuh saja daripada harus disiksa.' pikirnya.


Vannesa berhasil membunuh ke 3 orang tadi dan hanya sisa satu,itupun berlari mendekati Rio. "Berhenti kamu? Kau pasti di pihak dia kan? Aku akan membunuhnya." Ancamnya sembari menodongkan pisau dileher Rio.


"Pftt.. Ahahahah kau gila ya? Sudah aku bilang kalian itu penyusup disini dan sudah mengganggu waktuku. "


Vannesa berjalan dengan perlahan,sedangkan penjahat tadi terduduk karena sudah merasakan ketakutan yang luar biasa kepada Vannesa. Melihat itu Vannesa menyentuh dagunya dengan ujung belatinya yang tumpul,ia mendongakkan kepalanya. Vannesa ingin melihat tampang lawannya ini.


"Menarik. Aku bisa memberikanmu kepada buaya disana." Ucapnya sembari menatap aliran sungai yang berada lumayan jauh dari lokasi mereka.


"Tidak,mohon ampuni saya."


"Baiklah,tapi dengan satu syarat." Vannesa memutari lawannya yang masih terduduk itu.


"Apa katakan saja."


"Katakan pada bosmu,jangan lagi cari gara-gara dengan mafia girl,atau akan aku buat mati enggan hidup pun tak mau." Vannesa menyeringai dibalik cadarnya setelah mengatakan itu.


"I iya baik saya mengerti,saya akan sampaikan."


"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran. Dan lagi nanti kau harus kembali kemari, sebelum pukul 5 sore semua jasad dan darah ini harus sudah bersih."


"Baik baik nona. Saya permisi." Orang itu segera bangkit dan berlari dengan cepat,mungkin dia merasa kalau dia tidak cepat maka Vannesa akan membunuhnya.


Tanpa berkata apa-apa Vannesa berpaling dan melangkah.


"Tunggu!"


Vannesa berhenti tatkala mendengar panggilan dari Rio. Vannesa menoleh kebelakang.


"Kenapa kamu tidak membunuhku?" Tanya Rio pada Vannesa,jujur Vannesa saat ini ingin memeluk Rio tapi ia takut jika Rio menjadi membenci dirinya,jujur ia belum siap jika Rio membencinya sekarang.


"Kenapa? Karena aku tidak ingin." Vannesa kembali melanjutkan langkahnya.


"Kau siapa?"


"Aku adalah pembunuh."

__ADS_1


Vannesa yang tidak mau berlama-lama disana segera loncat ke atas bangunan dan melakukan parkour kembali ke tempatnya semula saat ia mengintip tadi, dari sana Vannesa dapat melihat Rio yang perlahan berjalan ke mobilnya.


Hati Vannesa terasa seperti disayat ketika melihat Rio terluka,namun ia tidak mau identitasnya terbongkar dan juga kebohongan tentang kematiannya tadi juga harus dipertimbangkan. Mungkin dengan pura-pura sudah mati ia dapat menjauh dari Rio.


__ADS_2