
"Ya." Jawab dokter Vira singkat sambil membalikkan badannya.
"Apakah Kamu mempunyai ponsel?" Tanya Victor.
"Tentu saja, memang kenapa Tuan?" Tanya dokter Vira balik bertanya.
"Mana ponselmu." pinta Victor.
Dokter Vira tanpa curiga sedikitpun memberikan ponsel nya kemudian Victor mulai mengetik sesuatu setelah selesai Victor menekan tombol warna hijau dan terdengar suara ponsel milik Victor.
"Itu nomernya ponselku kalau ada apa-apa hubungi Aku." Ucap Victor sambil memberikan ponsel milik dokter Vira.
"Ok." Jawab dokter Vira singkat sambil menerima ponselnya.
Dokter Vira kembali membalikkan badannya dan berjalan ke arah taman belakang membuat Victor memanggil dokter Vira.
"Katanya mau pulang kok ke taman belakang?" Tanya Victor.
"Aku memang mau pulang." Jawab dokter Vira.
"Bukan lewat sana tapi lewat ke arah sana." Ucap Victor.
"Aku akan mengantarmu pulang." Sambung Victor sambil berjalan ke arah meja untuk mengambil kunci mobil.
"Apakah tidak merepotkan?" Tanya dokter Vira.
"Tidak." Jawab Victor singkat sambil berjalan ke arah pintu utama.
Dokter Vira hanya terdiam dan mengikuti langkah Victor hingga di garasi mobil mereka masuk ke salah satu mobil mewah milik Victor.
"Ceritakan tentang kehidupan pemilik tubuh." Pinta Victor sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Terlalu menyakitkan untuk diceritakan, Tuan." Jawab dokter Vira.
"Panggil namaku saja." Ucap Victor.
"Tidak sopan, bagaimana kalau Kak Victor?" Tanya dokter Vira.
"Terserah saja asal jangan panggil Tuan, oh ya Kakak ingin mendengarkan cerita tentang pemilik tubuh." Ucap Victor.
__ADS_1
Dokter Vira menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi sedangkan Victor hanya mendengarkan cerita dokter Vira.
"Itulah yang terjadi." ucap dokter Vira mengakhiri ceritanya.
"Mereka sangat jahat begitu pula dengan suaminya dan keluarganya terhadap pemilik tubuh." Ucap Victor.
"Memang mereka sangat jahat karena itulah tugasku membalaskan dendam ke mereka." Ucap dokter Vira.
"Kenapa Kakak tidak bisa ingat kalau Kakak yang menciptakan alat - alat canggih yang di tanam ke dalam tubuhmu?" Tanya Victor sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
'Buatlah Kak Victor ingat." pinta dokter Vira dalam hati.
"Sistem pengingat lima puluh lima poin."
"Point ku sekarang ada berapa?" Tanya dokter Vira.
"Seratus point di kurangi lima puluh lima point menjadi empat puluh lima poin."
"Cara mendapatkan point bagaimana? Terus keuntungan point untuk apa?" Tanya dokter Vira penasaran.
"Point didapatkan jika menolong orang, menghukum orang bersalah tidak dengan kejam dan setiap mencium Tuan Victor mendapatkan dua puluh lima point, menyentuh tubuhnya tiga puluh poin."
"Kenapa bisa begitu?" Tanya dokter Vira dengan wajah terkejut kalau harus mencium bibir Victor.
"Senjata selendang? maksudnya?" tanya dokter Vira dengan wajah bingung.
"Tanganmu bisa mengeluarkan selendang untuk melawan para musuh, selendang itu sama seperti tongkat hanya bedanya selendang lebih lentur dan bisa melompat ke sana ke mari dengan menggunakan selendang."
"Maksudnya bisa lompat ke sana ke mari seperti Spiderman? Hanya Spiderman menggunakan jaring-jaring seperti laba-laba sedangkan Aku menggunakan selendang." Ucap dokter Vera.
"Tepat sekali."
"Berapa harganya?" tanya dokter Vira.
"Harganya lima ratus points."
"Mahal sekali." ucap dokter Vira dengan wajah terkejut.
"Begitulah, oh ya jadi mengembalikan ingatan Tuan Victor?"
__ADS_1
"Jadi." Jawab dokter Vira yang tidak punya pilihan lain.
"Potong lima puluh lima poin."
"Oh ya Aku telah menghukum keluargaku, apakah Aku mendapatkan point?" Tanya dokter Vira penasaran.
"Tidak, karena kamu menghukumnya secara kejam." Jawab Victor yang menjawab pertanyaan dokter Vira.
"Kak Victor sudah ingat dan bisa mendengar percakapanku dengan virtual account?" tanya dokter Vira dengan wajah terkejut.
"Tentu saja, berkat poin mu membuat Kakak ingat." Jawab Victor.
Dokter Vira hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti sedangkan Victor masih mengendarai dengan kecepatan sedang.
"Berarti jika aku menghukum secara kejam tidak mendapatkan point?" Tanya dokter Vira.
"Tepat sekali." Jawab Victor.
"Kalau kejadian di rumah sakit di mana Kakak tiriku dan wanita itu ingin mempermalukan Aku dan juga penyerangan, orang suruhan Ibu tiri pemilik tubuh. Apakah mendapatkan points?" Tanya dokter Vira penasaran.
"Tentu saja dapat." Jawab Victor.
"Syukurlah tidak sia-sia melakukan itu." Ucap dokter Vira.
Victor hanya tersenyum dan tidak berapa lama mobil Victor berhenti tepat di depan gerbang Mansion. Dokter Bela menurunkan kaca spion mobil kemudian menjulurkan kepalanya ke jendela mobil.
"Paman, tolong buka gerbangnya." Pinta dokter Vira.
"Maaf Nona, Nyonya besar melarang kami untuk membuka pintu gerbang." Ucap salah satu penjaga mansion.
"Memang kenapa Paman?" Tanya dokter Vira sambil menahan amarahnya pasalnya mansion tersebut milik keluarga ibunya dokter Vira.
"Maaf Nona, Saya kurang tahu." Jawab penjaga mansion tersebut.
"Wanita itu memang sangat jahat, sudah jelas-jelas mansion itu milik keluarga pemilik tubuh dengan seenaknya menguasai mansion." Ucap dokter Vira sambil menahan amarahnya.
"Apa kita tabrak gerbang ini?" Tanya Victor.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
__ADS_1
Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :