
Maximus, Valen dan Moko berkeliling menikmati suasana di kota tersebut tanpa memperdulikan tatapan lapar para gadis dan para wanita setelah lelah mereka kembali ke hotel untuk memesan makanan.
Namun semua meja penuh hanya ada satu meja yang sudah di isi oleh dua gadis yang tadi ditemuinya yang hanya menyisakan dua kursi.
"Tuan Muda Maximus semua meja penuh dan hanya ada tiga kursi kosong itu," ucap Moko.
"Baiklah," ucap Maximus yang tidak tega melihat ke dua orang kepercayaannya kelelahan menemani dirinya jalan-jalan.
"Boleh kami numpang duduk di sini?" tanya Moko ketika mereka sudah sampai di meja di mana ada tiga kursi kosong.
"Silahkan," jawab gadis pertama sambil tersenyum.
"Tidak boleh," jawab gadis ke dua secara bersamaan namun jawabannya berbeda satu dengan yang lainnya.
"Sudahlah Moko kita makan di luar saja," ajak Maximus yang kesal dengan gadis ke dua.
"Silahkan makan di luar," ucap gadis ke dua dengan nada cuek.
"Bela sudah, malu di lihat orang," ucap temannya.
"Vira kenapa sih tetap baik sama orang sombong seperti mereka," ucap Bela sambil menatap Maximus dengan tatapan kesal.
"Silahkan duduk kakak - kakak dan maafkan temanku," ucap Vira tanpa memperdulikan ucapan sahabatnya.
"Tidak usah kita makan di restoran tempat lain," ucap Maximus sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
Valen dan Moko menatap tajam ke arah Bela seakan ingin membunuhnya. Betapa tidak ke dua orang tersebut sangat lelah dan harus kembali berjalan kaki. Sedangkan Bela ikut menatap tajam tanpa takut sedikitpun membuat Valen dan Moko pergi mengikuti langkah Maximus.
'Lain kali kalau ketemu Bela maka Aku tidak akan segan untuk membunuhnya.' Ucap Moko dalam hati.
'Bela, akan aku ingat namamu karena Aku akan membunuhmu ketika tidak sengaja kita bertemu lagi." Ucap Valen dalam hati sambil menahan amarahnya.
"Vira sudahlah jadi orang jangan terlalu baik," ucap Bela.
"Lihat semua kursi penuh hanya dua kursi kita yang kosong, jadi ketika ada orang yang ingin duduk kenapa kita tidak mengijinkannya untuk duduk? Kan ini milik umum," ucap Vira.
"Iya aku tahu tapi aku kesal dengan mereka berdua di ajak kenalan malah di tolak mentah - mentah di depan orang banyak kan Aku jadi malu," ucap Bela dengan nada kesal.
__ADS_1
"Jadi ceritanya dendam nih." goda Vira.
"Ya iyalah aku sangat dendam karena baru kali ini aku di tolak padahal kan aku hanya ngajak kenalan," ucap Bela.
"Tidak baik menyimpan dendam, kalau kita diperlakukan seperti itu tentu kita kecewa dan marah," ucap Vira.
"Aku mengerti kamu kesal di tolak di depan banyak orang tapi kan sifat orang berbeda - beda ada yang ramah dan membalas perkenalan kita dan ada juga yang menolaknya dengan tegas seperti ke dua pria tadi," sambung Vira.
"Tapi tetap saja mereka sombong," jawab Bela.
Vira menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berfikir setelah beberapa saat Vira tersenyum menatap sahabatnya.
"Sekarang begini jika ada dua preman berwajah sangar dan ingin mengajak kita kenalan apakah kamu mau menanggapi atau pergi meninggalkan ke dua preman tersebut?" tanya Vira.
"Pergi meninggalkan ke dua preman tersebut," jawab Bela.
"Berarti kita sombong dong seperti ke dua pria tadi," ucap Vira.
"Tapikan kita bukan preman," ucap Bela.
"Memang bukan, intinya kita jangan membalas apa yang telah mereka lakukan pada kita," ucap Vira berusaha menasehati sahabatnya.
"Aku senang bersahabat denganmu karena berkatmu membuatku untuk selalu berbuat baik dan aku akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap Bela.
"Aku juga senang bersahabat denganmu," jawab Vira.
Tidak berapa lama pesanan mereka datang dan mereka pun berdoa terlebih dahulu kemudian mereka makan bersama dalam diam tanpa ada yang bicara sedikitpun.
Tanpa sepengetahuan Vira dan Bela kalau percakapan mereka di dengar oleh dua orang pria berseragam hitam-hitam dari kedatangan Maximus bersama ke dua asistennya juga Vira dan Bela sampai mereka selesai mengobrol.
Ke dua pria berseragam hitam-hitam tersebut tersenyum devil sambil salah satunya mengirim pesan ke bos mereka.
xxxxxxxxxx
Maximus berjalan dengan langkah cepat diikuti oleh Moko dan Valen ke restoran yang berada di sebrang. Sampai di restoran Moko dan Valen langsung duduk karena ke dua kaki mereka lumayan pegal. Seperti biasa Valen memesan makanan untuk Maximus, dirinya dan juga Moko.
"Valen, tumben banyak banget pesanan makanan nya?" Tanya Moko dengan wajah bingung sedangkan Maximus seperti biasa diam saja.
__ADS_1
"Tuan Maximus dan Moko masing-masing satu porsi sisanya buatku." Jawab Valen.
"Kamu tidak salah pesan makanan sebanyak itu?" tanya Moko penasaran.
"Tidak," jawab Valen singkat.
Hening
Hening
"Aku tahu kenapa Kamu memesan makanan sebanyak itu," ucap Moko tiba - tiba setelah beberapa saat mereka saling terdiam.
"Apa?" tanya Valen sambil menatap rekan kerjanya.
"Pasti gara - gara Bela makanya Kamu memesan makanan sebanyak ini," tebak Moko.
"Tidak juga, sudahlah jangan bicarakan membicarakan mereka," ucap Valen.
"Memang kenapa?" tanya Moko kepo.
"Bikin tidak naf*u makan," jawab Valen.
Moko hanya tersenyum melihat wajah rekan kerjanya terlebih sejak lama Moko menyukai Valen namun sayang Valen menyukai Maximus dalam diam.
Valen tahu kalau Moko menyukai dirinya namun Valen hanya menganggap dirinya hanya rekan kerjanya tidak lebih. Valen tidak berani mengatakan ke Maximus kalau dirinya mencintainya karena itulah dirinya hanya bisa mencintainya dalam diam.
Tidak berapa lama pesanan mereka datang, Mereka makan dalam diam hingga setengah jam kemudian makanan yang di meja habis tanpa sisa sedikitpun.
Mereka melanjutkan percakapannya hingga setengah jam kemudian mereka sudah selesai mengobrol dan mereka pergi dari restoran tersebut menuju ke arah hotel tempat mereka menginap.
Detik, menit dan jam berjalan dengan cepatnya dan tidak terasa acara ulang tahun pernikahan sudah di mulai, Maximus, Moko dan Valen sudah berada di ruang pesta bersama rekan bisnisnya dari berbagai kota dan negara lain.
Maximus, Valen dan Moko tidak sengaja bertemu kembali dengan Vira dan Bela begitu pula sebaliknya namun Maximus, Valen dan Moko tidak memperdulikan keberadaan mereka.
"Maaf Tuan Maximus aku ingin ke arah sana," ucap Moko sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang melambaikan tangannya ke arah dirinya.
'Aku harus membuka hatiku untuk orang lain.' Sambung Moko dalam hati.
__ADS_1
"Kamu kenal dengan gadis itu?" tanya Maximus.
"Belum kenal Tuan" jawab Moko dengan jujur.