
Vira menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya sambil tersenyum menatap mereka satu persatu.
"Aku berbohong atau tidak, bisa di jawab lewat rekaman cctv yang Aku copy di usb." Jawab Vira.
"Satu lagi, jangan coba merebut usb tersebut kemudian menghancurkannya karena Aku punya banyak rekaman cctv jadi percuma saja melakukan hal itu." Sambung Vira.
Vira membalikkan badan nya dan berjalan meninggalkan mereka sedangkan Maximus membalikkan badannya dan berjalan menaiki anak tangga satu demi satu menuju ke arah kamarnya.
"Tuan Muda, tubuhku sangat sakit di tambah sepertinya pergelangan tanganku patah." Ucap Valen.
Valen berharap agar Maximus tidak melihat isi usb namun ternyata usahanya sia-sia.
"Pergilah ke rumah sakit dengan di antar Moko." Ucap Maximus dengan nada dingin tanpa membalikkan badan nya.
'Apakah usb itu benar rekaman cctv? Jika memang benar, apa yang harus Aku lakukan?' Tanya Valen dalam hati sambil berpikir.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Ucap Moko.
"Tidak usah, Aku akan ikut Tuan Muda Leon." Jawab Valen sambil berjalan mengikuti langkah Leon.
"Bukankah Kamu terluka?" Tanya Moko.
"Apa jangan-jangan yang dikatakan gadis itu benar kalau Kamu berbohong?" Tanya Moko lagi.
Tiba-tiba Maximus menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Valen.
"Aku sudah mendingan hanya minum obat pasti langsung sembuh." Ucap Valen dengan wajah pucat.
"Jika seandainya ternyata Kamu berbohong maka Aku tidak segan-segan menghukummu. Aku tidak perduli walau Kamu orang kepercayaanku." Ucap Maximus dengan nada dingin dan berwajah datar.
__ADS_1
Glek
Valen menelan salivanya dengan kasar dalam hatinya sangat kesal terhadap Moko dan juga Vira karena telah membuat dirinya dalam bahaya.
"Baiklah Aku ke dokter, Moko antarkan Aku ke dokter." Ucap Valen sambil membalikkan badannya dan berjalan menuruni anak tangga.
Tanpa menjawab Moko berjalan diikuti oleh Valen dan ke dua gadis tersebut sedangkan ke empat gadis yang tergeletak di lantai sudah di bawa ke rumah sakit oleh anak buah Maximus.
Sedangkan Maximus membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamarnya.
Skip
Kini Maximus berada di kamarnya dan duduk di sisi ranjang sambil membuka laptopnya. Setelah beberapa saat Maximus memasukkan usb dan mulai membuka isi usb.
"Ada lima folder, folder pertama Bela bekerja sama dengan Orang tuanya dan Kakaknya, folder ke dua Vira di jebak oleh Bela, folder ke tiga Vira keluar dari kamar Tuan Maximus dan folder ke empat Rencana Jahat Valen, folder ke lima Menjebak Vira dan terakhir kehidupan Vira." Ucap Maximus membaca isi folder di laptopnya.
"Aku buka folder pertama : Bela bekerja sama dengan Orang tuanya dan Kakaknya." ucap Maximus sambil mengklik tombol folder.
"Bukankah pria itu Tuan Alexander dan Vincent." Ucap Maximus dengan wajah terkejut.
xxxxxxxxxx Rekaman CCTV On xxxxxxxxxx
"Malam ini harus berjalan sesuai yang kita rencanakan." Ucap pria yang bernama Tuan Alexander.
"Daddy tenang saja karena Aku mempunyai kunci akses untuk masuk ke dalam kamarnya." Ucap pemuda tersebut yang bernama Vincent.
"Bagus, Daddy ingin membalaskan kematian Opamu dan juga Pamanmu." Ucap Tuan Alexander dengan wajah terlihat menahan amarahnya.
"Begitu pula dengan Vincent, Dad." Ucap Vincent sambil ikut menahan amarahnya.
__ADS_1
"Oh ya adikmu Bela akan datang ke sini sambil membawa temannya lebih tepatnya musuhnya Bela jadi kita bisa gunakan gadis itu untuk menjebak Tuan Maximus." Ucap Tuan Alexander.
"Musuhnya Bela? Maksud Daddy?" Tanya Vincent dengan wajah bingung.
"Nama gadis itu Vira, Bela dan Vira bersahabat namun sebenarnya Bela diam-diam membencinya." Ucap Tuan Alexander.
"Selama ini Bela terkenal dengan kecantikan dan sangat pintar di sekolahnya namun sejak kehadiran Vira membuat Bela tidak lagi di puji oleh para guru dan teman-temannya." sambung Tuan Alexander.
"Bela semakin membenci Vira ketika di kampus banyak memuji kepintaran Vira karena itulah Bela berpura-pura menjadi sahabatnya dan tanpa sepengetahuan Vira kalau Bela menyuruh orang untuk mencelakai Vira tapi selalu gagal." Sambung Tuan Alexander.
"Karena itu Bela meminta Kita untuk menjebak Vira bersama pria lain untuk menghancurkan hidupnya bersama pria asing." Ucap Vincent.
"Betul sekali, Bela berharap setelah hidup Vira hancur maka bisa dipastikan Vira bunuh diri." Ucap Tuan Alexander.
"Karena itu Daddy memintamu untuk menyimpan kartu akses milik Tuan Maximus untuk memasukkan Vira ke dalam kamarnya. Bisa dipastikan Tuan Maximus dan Vira melakukan hubungan suami istri karena Kamu memasang dupa perang sang di dalam kamarnya." Sambung Tuan Alexander.
"Vincent paham Dad, kalau begitu Vincent akan menyiapkan semuanya." Ucap Vincent sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu.
xxxxxxxxxx Rekaman CCTV OFF xxxxxxxxxx
Deg
Jantung Maximus berdetak kencang ketika mengetahui kalau ternyata Vira tidak bersalah membuat Maximus menyesali perbuatannya di mana dirinya menghina dan menuduh Vira bukan gadis baik-baik.
"Apa yang telah Aku lakukan? Ternyata dalang dari ini semua adalah Tuan Alexander, Vincent dam Bela." Ucap Maximus sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Rasa penyesalan yang teramat sangat ketika dirinya sudah merenggut kehormatannya dan dengan mudahnya mengatakan : Ini Aku berikan kartu kredit hitam tanpa batas dan aku rasa cukup membeli mahkotamu dan menggugurkan kandungan mu.
Ucapan demi ucapan yang merendahkan Vira membuat Maximus sangat menyesal dan tidak terasa air matanya keluar.
__ADS_1
"Vira, maafkan Aku." Ucap Maximus menyesali perbuatannya.