
"Halo Ayah apa kabar? Pria ini adalah kekasihku, memang kenapa Ayah?" Tanya Vira berbohong.
"Dasar Anak tidak tahu diri, bawa pria ke mansion milik Ayah dan kalian bermain di kamarku!" Bentak Ayahnya.
Grep
"Apa Ayah lupa atau sudah amnesia? Mansion ini milik Oma dan Opa yang diwariskan ke Ibuku jadi secara otomatis menjadi milikku karena Ibu sudah meninggal." Ucap Vira sambil memeluk Victor dan menatap tajam ke arah Ayahnya.
"Ibu meninggal itu akibat Ayah berselingkuh dengan wanita yang tidak punya rasa malu. Ayah mengatakan Aku tidak tahu diri karena membawa pria lain ke kamar lalu bagaimana dengan Ayah? Pria yang tidak tahu diri numpang sama istri di tambah selingkuh. Cihhhhh ... mirip pria murahan yang tidak punya rasa malu." Ucap Vira sambil melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke arah Ayahnya.
Plak
"DASAR WANITA ...." Ucapan Ayahnya terputus ketika Vira menampar Ayahnya.
"Jangan pernah berteriak di wajahku! Apakah yang Aku katakan benar kalau Ayah adalah pria yang tidak punya rasa malu sekaligus pria jahat?" Tanya Vira sambil masih menatap tajam.
Grep
"Akhhhhhhhh..." Teriak Ayahnya.
Ayahnya sangat marah membuat Ayahnya mengangkat tangannya dan bersiap menampar Vira namun gerakannya terbaca oleh Vira membuat Vira menahan tangan Ayahnya kemudian menekuknya. Hal itu membuat Ayahnya berteriak kesakitan dan berusaha melepaskannya.
Bruk
Duag
"Akhhhhhhhh..." Teriak Ayahnya.
Vira mendorong tubuh Ayahnya hingga terjatuh terlentang membuat Ayahnya berusaha berdiri namun salah satu kakinya di tendang oleh Vira.
"Ibu sangat tulus mencintai Ayah dan memberikan apapun tapi Ayah membalasnya selingkuh dan membawanya ke mansion. Parahnya Ayah melakukan hubungan suami istri tepat di depan Ibuku tanpa punya perasaan bersalah sama sekali." Ucap Vira sambil masih menatap Ayahnya dengan tatapan kebencian.
"Bukan itu saja, Ayah tidak pernah sekalipun perduli ketika istri muda Ayah dan ke dua anak tiri Ayah menyiksaku setiap hari. Aku sangat membencimu dan jika Aku bisa memilih Aku tidak mau mempunyai Ayah sepertimu." Ucap Vira.
"Binatang saja sangat mencintai anaknya dengan tulus tapi Ayah lebih mencintai ke dua anak tiri Ayah dari pada anak kandungnya. Pria sepertimu sudah seharusnya mendapatkan hukuman agar kelak tidak menyakiti orang lain terlebih anak kandungnya." Sambung Vira sambil berjalan ke arah kaki Ayahnya.
Krek
"Akhhhhhhhh..." Teriak Ayahnya.
Vira mengangkat kaki kanannya kemudian menginjaknya dengan kekuatan penuh hingga terdengar suara tulang patah. Ayahnya berteriak kesakitan, Vira yang merasa belum puas mengangkat kaki kanannya kembali dan diarahkan ke kaki satunya.
krek
"Akhhhhhhhh..." Teriak Ayahnya kembali berteriak kesakitan.
Ayahnya ingin menghindar namun karena kaki satunya sangat sakit membuat Ayahnya tidak bisa menghindarinya hingga terdengar suara tulang patah. Hal itu membuat Ayahnya berteriak kesakitan sambil memegangi ke dua kakinya.
"Ini yang Aku rasakan ketika mereka menyiksaku tapi Ayah sama sekali tidak perduli padaku. Hanya kepala pelayan dan para pelayan yang perduli ketika Aku sakit dan merawat ku namun lukaku yang belum sembuh kembali terluka." Ucap Vira.
"Akhhhhhhhh..." Teriak Ayahnya.
Vira mengangkat kaki kanan satunya kemudian menginjak tombak sakti kebanggaan Ayahnya membuat Ayahnya kembali berteriak kesakitan.
"Aku ingin membuat ke dua kaki Ayah cacat dan impoten agar tidak lagi melakukan bersama wanita lain." Ucap Vira.
__ADS_1
"Kenapa itunya di injak?" Tanya Victor sambil memegangi tombak sakti kebanggaan para pria.
"Selain sama Ibuku, Ayahku juga melakukan hubungan suami istri sama Ibu tiriku dan Kakak tiriku karena itulah Ayahku membiarkan mereka menyiksaku." Jawab Vira.
"Apa? Pria itu pantas mendapatkannya." Ucap Victor.
Vira hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju hingga beberapa saat Ayahnya tidak sadarkan diri.
"Kita pergi dari sini dan membagikan semua harta ini ke semua penghuni mansion." Ucap Vira sambil berjalan meninggalkan kamar tersebut tanpa memperdulikan Ayahnya yang tidak sadarkan diri.
"Ok, kebetulan pengacaraku dan notaris sudah menunggu di bawah." Ucap Victor sambil mengikuti langkah Vira.
"Bagus lebih cepat lebih baik karena tinggal di sini terlalu sesak buatku." ucap Vira dengan suara tercekat sambil menahan agar air matanya tidak keluar.
Grep
"Kalau tidak kuat, menangislah." Ucap Victor sambil memeluk Vira dari arah belakang.
Vira membalikkan badannya kemudian memeluk Victor sambil menangis. Vira menangis untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya sedangkan Victor membalas pelukan Vira sambil mengusap punggungnya agar mengurangi rasa sesak.
'Kenapa hatiku sangat sakit mendengar Vira menangis?' Tanya Victor dalam hati.
Setelah beberapa saat Vira selesai menangis kemudian melepaskan pelukannya begitu pula dengan Victor. Mereka keluar dari kamar tersebut menuju ke ruang keluarga.
Kini mereka berada di ruang keluarga di mana sudah ada dua pria yang menunggu mereka. Vira dan Victor duduk bersebelahan saling berhadapan yang hanya dibatasi oleh meja.
"Kenalkan mereka adalah Latex yang bekerja sebagai notaris dan Later yang bekerja sebagai pengacara." Ucap Victor.
Vira langsung berdiri begitu pula dengan Latex dan Later untuk berkenalan setelah selesai mereka kembali duduk di sofa masing-masing.
Ayahnya Vira mengira tidak apa-apa jika nama istrinya karena selama ini dirinya mengurus perusahaan milik mertuanya dan tidak pernah mengalami masalah sedikitpun terlebih Vira tidak mungkin mengambil alih perusahaan dan aset berharganya.
Namun ternyata perkiraannya salah, Vira mengambil alih semuanya dan menjadikan Ayah, Ibu tirinya dan ke dua kakak tirinya tinggal di kolong jembatan karena mereka pantas mendapatkannya.
"Sudah selesai semuanya." Ucap notaris tersebut sambil menyimpan berkas-berkas dokumen tersebut.
"Aku percayakan semuanya sama Tuan Latex dan Tuan Later." Ucap Vira.
"Hasil penjualan mansion tolong diberikan ke semua penghuni mansion dan sisanya tolong di atur untuk diberikan ke panti asuhan dan semua orang membutuhkannya." Ucap Vira.
"Apa Nona yakin? Hasil penjualan semua aset berharga sangat banyak dan tidak akan habis tujuh turunan." Ucap Latex dengan wajah terkejut begitu pula dengan Later.
"Aku sangat yakin, mengenai biaya semuanya termasuk biaya untuk Tuan Latex dan Tuan Later di ambil dari penjualan aset milik Oma dan Opa Ku." Jawab Vira dengan nada yakin.
"Baiklah kalau begitu, kami pamit pulang." Ucap Tuan Latex dan Tuan Later bersamaan sambil berdiri.
"Hati-hati dan terima kasih atas bantuannya." Ucap Vira sambil ikut berdiri.
"Sama-sama Nona." Jawab Tuan Latex dan Tuan Later bersamaan.
Mereka bersalaman kemudian ke dua pria tersebut pergi meninggalkan mansion tersebut. Vira memanggil kepala pelayan untuk memanggil semua penghuni mansion.
Setelah semua berkumpul Vira mulai berbicara sedangkan yang lainnya mendengarkan perkataan Vira.
"Sebelum kalian pergi, Aku akan membagi-bagikan uang untuk kalian semuanya. Setelah mansion ini laku terjual maka kalian akan mendapatkan uang tambahan dari hasil penjualan mansion ini" Ucap Vira.
__ADS_1
"Sebenarnya kami sudah lama ingin pergi tapi karena kami membutuhkan uang maka Kami terpaksa bekerja di sini." Ucap Kepala pelayan.
"Benar, Kami sebenarnya sangat membenci Tuan Besar, Nyonya Besar ke dua dan ke dua anaknya yang suka semena-mena terhadap Kami terlebih terhadap Nona tapi mereka mengancam keluargaku jika Kami keluar kerja." Ucap pelayan lainnya.
"Betul, jawab mereka bersamaan.
"Aku tahu, sekarang Aku bagi-bagikan uangnya sekarang." Ucap Vira.
Vira membagi-bagikan uang dan logam mulia ke mereka dengan di bantu Victor dan kepala pelayan. Setelah selesai mereka pergi menuju ke kamar masing-masing.
"Paman dan Bibi ini perhiasan milik Ibu Tiri ku, silahkan dijual jika membutuhkan uang." Ucap Vira sambil memberikan dua set perhiasan.
"Nona, ini terlalu banyak Nona." Jawab kepala pelayan.
"Tidak Paman, Paman dan Bibi yang selalu menolongku dan mengobati ku ketika Aku terluka. Itu tidak sekali tapi berkali-kali Aku terluka selain itu Paman dan Bibi sangat tulus menyayangiku dan Aku merasa sangat berhutang budi dengan Paman dan Bibi." Ucap Vira.
"Karena Kami menganggap Nona seperti Anak kami sendiri." Ucap pelayan tersebut.
"Apa yang dikatakan istriku benar adanya, Kami sudah menganggap Nona sebagai putri kandung kami dan menyayangi Nona dengan tulus. Jadi jangan pernah mengatakan hutang budi atau apapun." Ucap Kepala pelayan.
Vira tersenyum kemudian memeluk sepasang suami istri tersebut kemudian mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Lima belas menit lagi kalian berdua akan hilang dan mulai masuk ke dunia virtual account."
"Lima menit lagi kita akan menghilang dan mulai masuk ke dunia virtual account jadi sebelum menghilang Aku ingin berpamitan dengan mereka." Ucap Vira.
"Ok." Jawab Vira singkat.
Setelah mereka membereskan semua barang milik mereka, mereka datang kembali ke ruang keluarga untuk berpamitan dan mendoakan dengan tulus agar Vira selalu berbahagia.
"Semoga kalian segera menikah dan hidup bahagia, jangan lupakan kami untuk mengundang ke acara pernikahan kalian." Ucap Kepala pelayan.
"Amin." Jawab mereka bersamaan.
Satu persatu pergi meninggalkan mansion tersebut hingga mansion tersebut sepi seperti tidak berpenghuni.
"Ibu tirimu dan ke dua kakak tirimu berada di rumah sakit, apakah Kamu akan pergi ke sana?" Tanya Victor.
"Tidak, lebih baik kita bersiap untuk masuk ke dunia virtual account." Jawab Vira.
Victor dan Vira tahu kalau ke tiga orang tersebut di antar oleh sopir pribadi dan dua bodyguard menuju ke rumah sakit.
"Kalau Ayahmu?" Tanya Victor.
"Ya ampun Aku lupa, kalau tidak di bawa keluar dari sini yang ada pria itu mati di sini." Ucap Vira sambil berlari menuju ke arah tangga.
Victor mengikuti langkah Vira menuju ke kamar orang tua Vira. Sampai di kamar Victor menggendong tubuh Ayahnya Vira kemudian di bawa keluar mansion.
"Mau diletakkan dimana?" Tanya Victor.
"Di pinggir jalan saja." Jawab Vira sambil berjalan begitu pula dengan Victor.
"Ok." Jawab Victor singkat.
Victor perlahan meletakkan tubuh Ayahnya Vira di pinggir jalan dan tidak beberapa lama Vira dan Victor perlahan menghilang dan masuk ke dalam dunia virtual account untuk pertama kalinya.
__ADS_1