VIRA ( Virtual Account )

VIRA ( Virtual Account )
Novel : Penyesalan Seorang Ketua Mafia 2


__ADS_3

"Tapi kok Aku merasa gadis itu bukan gadis - gadis baik - baik," ucap Maximus spontan.


"Mungkin itu hanya perasaan Tuan Muda," jawab Moko.


"Mungkin," jawab Maximus.


"Mau ikut ke sana, Tuan?" tanya Moko.


"Tidak, Aku ingin mengobrol dengan Tuan Rumah setelah itu Aku mau istirahat," jawab Maximus.


"Aku ikut Tuan Muda Maximus." Ucap Valen.


Maximus hanya menganggukan kepalanya kemudian mereka berjalan ke arah tuan rumah sedangkan Moko pergi ke arah gadis tersebut.


Tanpa sepengetahuan mereka seorang gadis berjalan ke arah ruangan khusus para pelayan untuk menemui seorang pelayan dan membisikkan sesuatu sambil memberikan beberapa lembar uang dan pelayan itu pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dan gadis itu pun pergi meninggalkan ruangan khusus para pelayan tersebut menuju ke tempat pesta.


Gadis itu pun kembali ke temannya sambil tersenyum membuat temannya ikut membalas senyumannya.


Mereka berdua kembali mengobrol hingga tidak berapa lama seorang pelayan datang sambil membawa dua gelas yang berisi anggur dan menawarkan ke dua gadis tersebut.


Salah satu gadis tersebut mengambil dua gelas yang berisi anggur tersebut kemudian diberikan ke temannya. Tanpa curiga sedikitpun temannya meminum anggur tersebut begitu pula dengan teman gadis tersebut sambil diam-diam tersenyum menyeringai.


'Maaf, Aku terpaksa melakukan ini karena Aku tidak bisa menolak permintaan Daddy dan Kakak.' Ucap gadis tersebut dalam hati.


'Apalagi sejak dulu hingga sekarang Aku sangat iri dengan kecantikan dan kepintaranmu membuat banyak orang memuji mu. Sekarang Aku akan menghancurkan reputasimu agar akhirnya kamu malu lalu bunuh diri.' Sambung gadis tersebut dalam hati.


"Aku sangat lelah, kita istirahat di kamarku saja." Ucap gadis tersebut.


"Ok." Jawab temannya.


Ke dua gadis itu pun pergi meninggalkan pesta ulang tahun pernikahan sambil sesekali salah satu gadis tersebut tersenyum jahat.


Dua Jam Kemudian


"Aku ingin istirahat, kalau Kamu masih mengobrol sama Moko silahkan." Ucap Maximus.


"Tidak Tuan Muda, Saya juga ingin istirahat." Jawab Valen.


Maximus hanya menganggukan kepalanya kemudian pergi dari tempat pesta tersebut begitu pula dengan Valen menuju ke kamar mereka masing-masing.


Skip


Kini Maximus berada di dalam kamar hotel dan Maximus sudah selesai mandi kemudian Maximus berbaring di ranjang dengan menggunakan jubah handuk.


"Siapa kamu?" tanya Maximus dengan nada tidak suka sekaligus sangat terkejut karena di ranjangnya ada gadis lain selain dirinya.


Ketika Maximus berbaring di ranjang tanpa sengaja menarik selimutnya dan Maximus melihat di balik selimut seorang gadis ikut berbaring di sampingnya dalam kondisi tidur terlentang dengan tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.


Vira yang tidur pulas memaksakan membuka matanya dan melihat Maximus menatapnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Panas, tolong Aku." mohon gadis tersebut sambil menaiki tubuh Maximus.


Entah kenapa jantung Maximus berdetak lebih cepat tapi berusaha untuk melawannya. Maximus menatap tubuh polos gadis tersebut yang sedang menarik tali jubah handuk milik Maximus.


"Turun." Ucap Maximus sambil memalingkan wajahnya.


"Tolong puaskan Aku." Mohon gadis cantik tersebut sambil menggenggam wortel import milik Maximus.


"Sstttttt.. Ahhhhhhhh.."


Apa yang dilakukan oleh gadis cantik tersebut membuat Maximus seperti tersengat aliran listrik membuat Maximus mengeluarkan suara merdunya.


Maximus memeluk tubuh polos gadis cantik tersebut kemudian menggulingkan tubuh mereka. Kini Vira berada di bawah sedangkan Maximus berada di atas.


Maximus mencium bibir Vira dengan rakus, ciuman pertama Maximus masih terasa kaku karena baru pertama kali dirinya melakukannya sedangkan gadis tersebut hanya diam hingga Maximus menggigit bibir bawah Vira agar terbuka.


Maximus memasukkan lidahnya ke dalam mulut gadis cantik tersebut sambil salah satu tangannya memainkan salah satu gunung kembar milik gadis cantik tersebut.


Maximus memasukkan mulutnya ke dalam salah satu pucuk gunung himalaya sedangkan tangan kanannya memainkan satu pucuk himalaya yang tidak di sentuhnya.


Apa yang dilakukan Maximus terhadap dua gunung kembarnya membuat Vira mengeluarkan suara merdu untuk pertama kalinya hingga tidak membutuhkan waktu lama Vira mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya membuat Maximus tersenyum puas.


Maximus melihat goa yang masih sempit agak basah membuat Maximus tersenyum bahagia sambil melepaskan jubah handuk yang dikenakannya hingga terlihat tombak saktinya yang lumayan panjang dan agak besar.


Senyuman pertama untuk seorang gadis yang tidak di sadari oleh Maximus karena selama ini Maximus tidak pernah memberikan senyuman tulus walau dengan gadis yang disukainya Maximus tidak pernah tersenyum dengan tulus hanya berwajah datar dan dingin.


"Akhhhhhhhh.... Sakit!!!" teriak gadis cantik tersebut ketika kepala wortel import milik Maximus masuk ke dalam goa miliknya yang belum pernah di jamah.


Maximus yang sudah tidak bisa menahannya membuat Maximus tidak memperdulikan teriakan kesakitan gadis cantik tersebut hingga di hentakkan ke tiga tombak saktinya masuk sepenuhnya ke dalam goa bersamaan gadis cantik tersebut menangis dan berteriak kesakitan.


Maximus memberikan pemanasan kembali hingga rasa perih berganti rasa nikmat barulah Maximus menggoyangkan pinggulnya secara berulang kali hingga setengah jam kemudian keluarlah lahar dari tombak sakti milik Maximus dan sengaja dimasukkan ke dalam rahim gadis cantik tersebut.


Setelah beberapa saat Maximus menarik tombak saktinya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping sedangkan gadis cantik tersebut hanya memejamkan matanya karena tubuhnya tiba-tiba seperti tidak bertenaga.


Tidak membutuhkan waktu lama gadis cantik tersebut tidur dengan pulas sedangkan Maximus yang melihat Vira tidur terlentang hanya diam kemudian ikut memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama ikut tertidur dengan pulas.


Dua jam kemudian gadis cantik tersebut merasakan tubuhnya panas kembali dan ingin melakukan hubungan suami istri membuat gadis cantik tersebut menarik selimut Maximus membuat Maximus memaksakan membuka matanya.


"Apa yang Kamu lakukan?" tanya Maximus dengan wajah terkejut.


"Tubuhku panas lagi," jawab gadis cantik tersebut sambil menaiki tubuh Maximus.


Merekapun kembali melakukan hubungan suami hingga tidak terasa sudah empat kali baik Maximus maupun gadis cantik tersebut melakukan hubungan suami istri.


Setelah itu Maximus tumbang begitu pula dengan gadis cantik tersebut yang tubuhnya terasa tidak bertulang dan mereka pun tidur dengan pulas dan tanpa sadar mereka saling berpelukan dan memberikan kehangatan masing-masing.


Malam berganti pagi perlahan gadis cantik tersebut membuka matanya namun matanya membulat sempurna karena dirinya memeluk Maximus membuat Vira melepaskan pelukannya membuat Maximus terusik tidurnya.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Maximus sambil menatap tajam ke arah gadis tersebut tepatnya wanita karena kehormatannya sudah di ambil oleh Maximus.

__ADS_1


Vira hanya diam hal itu membuat Maximus menatap Vira dengan tatapan membunuh.


"Aku tidak mengerti apa yang ..." ucapan gadis tersebut terpotong oleh Maximus.


"Jangan sok polos Kamu, Aku sangat yakin jika Kamu dengan sengaja menyerahkan tubuhmu agar aku mau menikah denganmu? Benar bukan?" tanya Maximus sambil tersenyum menyeringai.


"Aku bukan wanita seperti i..." ucapan gadis cantik tersebut kembali terpotong oleh Maximus.


"Aku tidak akan bertanggung jawab apalagi mau menikah denganmu karena aku tahu kamu wanita licik, berapa yang kamu minta?" tanya Maximus sambil bangun dari ranjang untuk mengambil dompetnya yang tergeletak di meja dekat ranjang.


Duar                Duar


Bagai petir di siang hari itu yang dirasakan oleh oleh gadis cantik tersebut membuat gadis cantik tersebut mengeluarkan air mata sambil berusaha bangun dan turun dari ranjang sambil memunguti pakaiannya dan memakainya sambil menahan rasa perih pada bagian privasinya.


"Ini aku berikan kartu kredit hitam tanpa batas dan aku rasa cukup membeli mahkotamu dan menggugurkan kandungan mu," ucap Maximus sambil melemparkan kartu kredit hitam miliknya ke arah wajah gadis cantik tersebut.


"Tidak perlu," jawab gadis cantik tersebut sambil berjalan ke arah pintu kamar milik Maximus dengan perasaan hancur.


"Cih... Aku tidak percaya kalau kamu tidak mau, apa masih kurang?" tanya Maximus dengan nada menghina.


"Simpan saja uang Tuan," jawab gadis cantik tersebut sambil membalikkan badannya dan menatap wajah tampan Maximus dengan wajah penuh kecewa.


Gadis cantik tersebut membuka pintu kamarnya dan berjalan ke arah lorong menuju ke kamarnya bersamaan temannya membuka pintu kamarnya membuat temannya pura - pura sangat terkejut dengan wajah sembab temannya.


"Ada apa?" tanya temannya dengan wajah pura-pura perduli.


"Tidak ada apa - apa," ucap gadis cantik tersebut sambil tersenyum menutupi kesedihannya sambil menahan rasa perih pada bagian privasinya di tambah hatinya yang sangat hancur.


"Aku akan temani Kamu," ucap temannya sambil tersenyum jahat ketika melihat cara jalan temannya.


Gadis cantik tersebut hanya diam dan terus berjalan dengan pikiran kosong membuat temannya pura-pura tidak tega dan membantu gadis cantik tersebut berjalan ke arah kamar mereka. Hingga di depan pintu gadis cantik tersebut membuka pintunya.


"Aku lagi ingin sendiri bolehkah?" Tanya gadis cantik tersebut.


"Boleh, silahkan istirahat dan kalau mau mandi silahkan saja." Jawab temannya.


"Di lemari ada pakaianku maka pakailah." Ucap temannya.


"Baik, terima kasih banyak dan maaf sudah merepotkanmu." Ucap gadis cantik tersebut.


"Sama-sama." Jawab temannya.


Temannya pun pergi meninggalkan temannya sendirian sedangkan gadis cantik tersebut berjalan ke arah kamar mandi kemudian duduk di lantai keramik yang sangat dingin.


Ke dua kaki gadis cantik tersebut di tekuk di bawah guyuran air shower sambil menyandarkan kepalanya di ke dua pahanya lalu gadis itupun menangis menghilangkan rasa sesak dihatinya.


Setelah beberapa saat gadis cantik tersebut mengangkat kepalanya dan menatap ke arah tembok.


"Untuk apa Aku hidup lebih baik Aku mati." Ucap gadis cantik tersebut dengan air mata tidak berhenti keluar.

__ADS_1


__ADS_2