VIRA ( Virtual Account )

VIRA ( Virtual Account )
Novel : Penyesalan Seorang Ketua Mafia


__ADS_3

Seorang pemuda tampan yang bernama Maximus Alexander Roberto atau di kenal dengan nama Maximus merupakan seorang ketua mafia di mana dirinya mempunyai dua orang kepercayaan yang bernama Valen dan Moko.


Di bawah pimpinan Maximus banyak orang mati di tangannya termasuk para pemimpin mafia. Hal itu membuat para mafia lainnya tidak berani mengusiknya. Hanya beberapa orang yang berani melawan nya secara diam-diam.


Kini Maximus, Valen dan Moko pergi keluar kota untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan rekan bisnisnya yang bernama Tuan Alexander.


Perjalanan yang sangat panjang sekitar enam jam lebih membuat Valen dan Moko bergantian menyetir mobil.


Mereka bisa saja naik pesawat tapi saat ini Maximus menginginkan naik mobil membuat Valen dan Moko terpaksa mengikuti perintah Maximus karena bagaimanapun mereka tidak berani membantah apapun permintaan Maximus.


Tidak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan pada siang hari. Lebih tepatnya di hotel tempat diadakannya acara ulang tahun pernikahan Tuan Alexander.


Semua tamu undangan yang mengikuti acara ulang tahun pernikahan Tuan Alexander mendapatkan fasilitas menginap di hotel bintang lima dan kebetulan pemiliknya Tuan Alexander sendiri.


Maximus, Valen dan Moko mendapatkan fasilitas penginapan di hotel bintang lima namun kamar mereka berbeda. Di mana Maximus sebagai seorang CEO tentu saja mendapatkan fasilitas vvip sedangkan Valen dan Moko fasilitas biasa saja.


"Setelah ini kita mau ngapain?" tanya Maximus ketika mereka sudah berada di dalam lobby hotel.


Ketika Moko dan Valen ingin berbicara seorang pemuda berjalan ke arah Maximus kemudian memberikan hormat membuat Moko dan Valen tidak jadi bicara.


"Maaf Tuan, Saya Vincent putra dari Tuan Alexander." Ucap Vincent memperkenalkan dirinya.


"Ada apa?" Tanya Moko.


"Saya di minta Tuan Alexander untuk membawa koper milik Tuan Muda Maximus ke hotel VVIP di lantai dua belas nomer 555 dan ini kartu aksesnya." Jawab Vincent sambil memberikan kartu akses.

__ADS_1


Maximus hanya menganggukan kepalanya kemudian Vincent mengambil koper milik Maximus lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Terserah Tuan apalagi acaranya diadakan pada malam hari." Jawab Moko dan Valen bersamaan setelah melihat Vincent sudah pergi.


'Aduh Tuan, baru juga sampai masa mau pergi lagi.' Ucap Moko dalam hati.


'Badanku sangat lelah dan ingin istirahat.' Ucap Valen dalam hati.


Mereka hanya bisa mengeluh dalam hati karena bagaimanapun mereka masih sayang dengan nyawanya.


"Kita jalan - jalan saja," usul Maximus.


"Baik Tuan." jawab Valen dan Moko patuh.


"Maaf Tuan, bolehkah saya mandi dulu karena badan ku sangat lengket." Ucap Valen memberanikan diri.


"Baik Tuan." Jawab Moko dan Valen bersamaan.


Mereka pergi ke arah lift di mana Maximus di lantai dua belas nomer 555 sedangkan Valen dan Moko di lantai delapan nomer 088.


Skip


Kini Maximus, Valen dan Moko keluar dari kamarnya dan sudah selesai mandi serta memakai pakaian santai. Mereka bertiga berjalan mengelilingi tempat tersebut.


Maximus, Valen dan Moko berjalan dengan santai sambil menikmati udara segar hingga tanpa sengaja Maximus, Valen dan Moko melihat dua orang gadis cantik sedang berkelahi dengan dua orang preman.

__ADS_1


Maximus, Valen dan Moko yang ingin membantu terpaksa membatalkan niatnya karena ke dua gadis cantik tersebut berhasil mengalahkan ke dua preman tersebut.


Ke dua gadis tersebut memberikan tas milik seorang nenek kemudian berjalan ke arah mereka.


"Sore kak," sapa ke dua gadis cantik tersebut dengan serempak sambil tersenyum ke arah Maximus, Valen dan Moko.


Tanpa menjawab Maximus, Valen dan Moko pergi meninggalkan mereka ke dua gadis tersebut. Hal itu membuat ke dua gadis itu saling menatapnya dengan tatapan bingung.


"Sombong banget," ucap gadis ke dua.


"Sudahlah lebih baik kita masuk ke dalam hotel tubuhku sangat lengket," ucap gadis pertama sambil berjalan ke arah lobby hotel.


Maximus, Valen dan Moko mendengar ucapan gadis pertama dan ke dua karena pendengaran mereka sangat tajam jadi walau mereka berjalan agak jauh Maximus, Valen dan Moko masih bisa mendengar percakapan ke dua gadis tersebut tapi mereka tidak memperdulikannya asalkan tidak mengusik mereka.


Tanpa sepengetahuan mereka dua pasang mata menatapnya dengan tatapan tajam dari lantai empat belas dengan menggunakan teleskop.


"Malam ini harus berjalan sesuai yang kita rencanakan." Ucap pria tersebut yang tidak lain bernama Tuan Alexander.


"Daddy tenang saja karena Aku mempunyai kunci akses untuk masuk ke kamarnya." Ucap pemuda tersebut yang tidak lain bernama Vincent.


"Bagus, Daddy ingin membalaskan kematian Opamu dan juga Pamanmu." Ucap Tuan Alexander sambil menahan amarahnya.


"Begitu pula dengan Vincent, Dad." Ucap Vincent sambil ikut menahan amarahnya.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

__ADS_1


Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :



__ADS_2