
"Tentu saja tahu, jadi terimalah hukuman Kalian." Jawab Vira sambil berjalan meninggalkan mansion tersebut.
Vira berjalan tanpa memperdulikan teriakan sumpah serapah dari mulut Ririn hingga di sudut yang sepi Vira menghilangkan dan masuk ke dalam sistem.
"Selanjutnya misi apalagi?" Tanya Vira.
"Ini misi terakhir di mana Nona Vira menyelamatkan Tuan Victor dari tidur panjangnya."
"Kalau misi terakhir, bagaimana denganku?" tanya Vira.
"Maksud Nona?"
"Hampir seluruh tubuhku menggunakan alat-alat yang canggih. Jika Tuan Victor menikah dengan gadis lain bagaimana denganku? Sedangkan Anda tahu sendiri kalau energiku bisa terisi jika memeluk tubuh Kak Victor." ucap Vira menjelaskan.
"Nona jangan kuatir setelah misi Nona berhasil maka Nona tidak perlu lagi mengisi energi."
"Syukurlah kalau begitu, oh ya bagaimana caranya agar menyelamatkan Kak Victor dari tidur panjangnya?" Tanya Vira.
"Nona harus memikirkan caranya."
"Aish... susahnya ... oh ya bagaimana dengan Moko? Pria itu sangat jahat masa tidak ada hukumannya? Sedangkan Ririn, Vincent dan Valen mendapatkan hukuman nya yaitu mereka lumpuh dan tinggal di kolong jembatan." Ucap Vira penasaran dengan hukuman Moko.
"Mansion mereka akan didatangi oleh para perampok di mana para perampok menguras habis harta mereka hingga akhirnya Moko dan keluarganya tinggal di kolong jempatan."
"Bukankah keluarga Moko mempunyai perusahaan dan properti yang lainnya?" Tanya Vira dengan wajah terkejut.
"Memang benar tapi karena mereka sangat jahat maka mereka mendapat karmanya di mana rekan bisnisnya menipu Moko hingga mereka tidak punya apa-apa lagi."
"Baguslah karena itu hukuman yang pantas untuk mereka." Ucap Vira.
"Oh ya, bukankah waktu itu Anda mengatakan : Selesaikan misi sebanyak lima puluh kali maka kamu akan kembali menjadi manusia biasa sedangkan Tuan Victor jika programnya tidak eror lagi atau sudah dibetulkan maka bisa kembali menjadi manusia biasa. Sedangkan Aku menyelesaikan misi belum ada lima puluh kali tapi kenapa misiku sudah selesai?" Tanya Vira dengan wajah bingung.
"Nona sudah melakukan banyak kebaikan karena itulah sebagai gantinya gunakan alat-alat canggih yang ada di dalam tubuh Nona untuk melakukan kebaikan. Nona harus menolong orang-orang yang mengalami kesulitan sampai lima puluh kali di dunia nyata dan otomatis alat-alat yang di tanam di tubuh Nona menghilang dengan sendirinya."
"Jika hilang berarti Aku hanya seorang gadis biasa? Padahal Aku lebih suka bisa bela diri, apakah bisa bela dirinya tidak dihilangkan?" Tanya Vira penuh harap.
"Untuk apa Nona ingin bela diri?"
"Aku ingin bisa membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan." Jawab Vira.
"Tentu saja bisa tapi yang lainnya hilang."
"Tidak masalah yang penting Aku bisa bela diri." Jawab Vira sambil tersenyum bahagia.
"Oh ya, berarti sekarang Aku dipindahkan ke mansion milik Kak Victor?" Tanya Vira.
"Tepat sekali, pemindahan sistem."
"Pemindahan berhasil."
Kini Vira berada di ruangan milik Victor di mana Victor berbaring di ranjang dengan mata masih setia terpejam. Vira melihat seorang pria sedang duduk di kursi samping ranjang sambil menatap dirinya dengan tatapan berbeda membuat Vira bingung.
"Ada apa melihat diriku seperti itu?" Tanya Vira.
"Tuan Muda tidak sadarkan diri, bisakah Nona berkorban untuk Tuan Muda Victor? Mengingat waktu itu Nona di tolong oleh Tuan Victor." Pinta pria tersebut.
"Aku bersedia walau nyawa menjadi taruhan ku." Jawab Vira dengan nada yakin.
"Di meja itu ada pisau dan mangkok, Aku minta Nona melukai tubuh Nona hingga darah segar keluar barulah dimasukkan ke dalam mangkok." ucap pria tersebut menjelaskan.
Tanpa menjawab Vira berjalan ke arah meja kemudian berlutut di depan meja. Vira mengambil pisau tersebut kemudian mulai memotong urat nadinya.
Tusk
__ADS_1
Darah segar keluar dari pergelangan tangannya kemudian dimasukkan ke dalam mangkok tersebut sesuai permintaan pria tersebut.
"Kenapa Nona memotong pergelangan tangan? Itu kan bisa membahayakan nyawa Nona?" Tanya pria tersebut sambil berjalan ke arah Vira dengan membawa kotak P3K.
"Tidak apa-apa asalkan Tuan Victor hidup itu sudah lebih dari cukup." Jawab Vira sambil tersenyum.
"Sudah cukup Nona, sekarang saya akan obati luka Nona." Ucap pria tersebut.
"Tapi darahku yang berada di mangkok belum cukup." Ucap Vira.
"Maaf Nona, saya hanya ingin mengetes apakah Nona mau berkorban untuk Tuan Muda Victor atau tidak dan ternyata Nona mau berkorban." Jawab pria tersebut.
"Sekarang Noba duduklah biar saya obati luka Nona." Sambung pria tersebut.
Vira menghembuskan nafasnya kemudian duduk di samping pria tersebut.
"Apa yang harus Aku lakukan agar Tuan Victor sadar dan bangun dari tidur panjangnya?" Tanya Vira sambil mengarahkan tangannya agar pergelangan tangannya di obati.
"Maaf Nona, Saya kurang tahu karena yang saya tahu hanya Nona yang bisa membangunkan Tuan Muda Victor dari tidur panjangnya." Jawab pria tersebut sambil mengobati luka Vira.
Vira terdiam beberapa saat hingga beberapa menit lagi pria tersebut sudah selesai mengobati luka Vira kemudian pria tersebut meninggalkan Vira bersama Victor yang masih setia memejamkan matanya. Vira berjalan ke arah ranjang hingga akhirnya Vira berdiri tepat di samping Victor.
"Aku tidak tahu apa yang harus Aku lakukan tapi yang pasti Aku bersedia melakukan apapun yang Kak Victor minta tanpa protes sedikitpun asalkan Kak Victor sadar dan terbangun dari tidur panjangnya." Ucap Vira.
Tanpa sadar Vira mengarahkan tangannya ke arah tangan Victor kemudian menggenggam tangannya lalu mencium punggung tangan Victor.
"Aku mohon sadarlah." Mohon Vira.
"Kak Victor, Aku sangat berhutang budi jadi izinkan Aku untuk membalas kebaikan Kak Victor." Sambung Vira.
Selesai mengatakan hal itu Vira menatap wajah tampan Victor yang masih tetap memejamkan matanya dan tanpa sengaja menatap bibir Victor.
"Kenapa Aku ingin merasakan lagi bibir Kak Victor?" Tanya Vira dengan wajah bingung.
Cup
Grep
"Syukurlah Kak Victor sudah sadar." Ucap Vira sambil memeluk tubuh kekar Victor.
"Kamu kuatir padaku?" Tanya Victor sambil membalas pelukan Vira.
"Tentu saja dan Aku sangat senang Kak Victor sadar." Jawab Vira.
"Di antara sadar dan tidak sadar Aku mendengar kalau Kamu mengatakan : bersedia melakukan apapun yang Kak Victor minta tanpa protes sedikitpun asalkan Kak Victor sadar dan terbangun dari tidur panjangnya. Apakah benar yang Aku dengar?" Tanya Victor.
"Tentu saja benar, apa yang Kak Victor minta?" Tanya Vira.
"Seandainya Aku meminta kita melakukan hubungan suami istri, apakah Kamu bersedia?" Tanya Victor sambil menatap wajah Vira.
"Sebelum Aku menjawab pertanyaan Kak Victor, bolehkah Aku bertanya dua hal?" Tanya Vira.
"Apa yang Kamu tanyakan?" Tanya Victor.
"Setelah Kita melakukan hubungan suami istri, apa yang akan Kak Victor lakukan selanjutnya? Menjadikan Aku sebagai penghangat ranjang di mana setelah Kak Victor puas maka Kak Victor mengusirku? Atau menikah denganku?" Tanya Vira.
"Jika Aku memilih yang pertama, apa Kamu tetap memberikan?" Tanya Victor sambil masih menatap Vira.
"Tetap memberikannya sampai Kak Victor puas hingga Kak Victor membuangku karena bosan." Jawab Vira.
"Setelah Kamu di usir dari mansion Ku apa yang akan Kamu lakukan?" Tanya Victor.
"Aku akan pergi sejauh mungkin di mana Kita tidak pernah bertemu lagi." Jawab Vira.
__ADS_1
"Bukankah Kamu bisa mati karena kehabisan energi jika jauh dariku?" Tanya Victor sambil mengangkat salah satu alis matanya.
"Mungkin sudah takdirku asalkan Kak Victor bahagia dengan gadis pilihan Kak Victor." Jawab Vira dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa Kamu mau melakukan ini semua padaku?" Tanya Victor dengan wajah terkejut.
"Karena Aku sangat mencintai Kak Victor dengan sangat tulus dan ingin Kak Victor selalu bahagia walau tidak bersamaku." Jawab Vira sambil tersenyum namun terlihat jelas kalau hatinya sangat terluka.
Grep
"Terima kasih." Jawab Victor sambil memeluk tubuh mungil Vira.
"Terima kasih untuk apa?" Tanya Vira dengan wajah bingung sambil membalas pelukan Victor.
"Terima kasih karena Kamu sangat tulus mencintaiku." Jawab Victor.
"Seminggu lagi kita akan menikah dan Kita sama-sama membantu orang-orang yang mengalami nasib sepertimu." sambung Victor sambil melepaskan pelukannya begitu pula dengan Vira.
"Maksud Kak Victor Kita menikah? Terus yang tadi?" Tanya Vira dengan wajah bingung.
"Kakak hanya mengetesmu." Jawab Victor sambil tersenyum.
Vira membalas senyuman Victor kemudian Victor turun dari ranjang dan berjalan bersama Vira untuk menemui pria yang tadi berbicara dengan Vira sekaligus bodyguard milik Victor.
Satu Tahun Kemudian
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepatnya Vira dan Victor sudah menikah selain itu mereka dikaruniai seorang bayi mungil yang sangat tampan mirip Victor dan di beri nama Vernon.
Vira dan Victor selalu melakukan kebaikan dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan termasuk Ayah kandung Vira, Ibu tiri Vira dan ke dua saudara tiri Vira.
Namun karena sikap mereka tidak berubah maka Victor terpaksa mengirim mereka ke mansion milik Victor yang berada di tengah hutan di mana setiap seminggu sekali ada helikopter mengirimkan makanan untuk mereka.
"Akhhhhhhhhhhh... Sampai kapan kita seperti ini?" Tanya Alex yang merupakan kakak tirinya Vira dengan nada frustrasi.
"Kita harus cari cara untuk pergi dari sini." Ucap Ibunya Alex
"Sangat sulit karena Kita semua cacat dan hanya menunggu kematian." Ucap putrinya yang nomer dua yang tidak bisa melihat karena dirinya buta.
"Tidak, Aku tidak mau mati." Ucap Ibunya.
Wanita tersebut berusaha bangun namun karena ke dua kaki dan ke dua tangannya cacat membuat dirinya bertambah frustrasi.
"Vira! Aku sangat membencimu!" Teriak wanita tersebut.
"Jika Aku mati akan Aku hantui Kamu." Ucap kakak tirinya Vira yang nomer dua.
"Aku juga." Jawab mereka bersamaan.
Mereka berteriak memaki Vira dengan sumpah serapah hingga beberapa saat kemudian tiba-tiba tubuh mereka kejang-kejang dan akhirnya hampir satu jam kemudian mereka menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata melotot.
Mereka meninggal dunia dengan membawa dendam terhadap Vira tanpa menyadari kalau sebenarnya merekalah yang bersalah dan mereka mendapatkan karmanya.
Vira dan Victor yang melihat kejadian tersebut lewat cctv hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian Victor meminta anak buahnya untuk mengubur mereka di taman belakang yang berada di mansion pinggiran hutan.
Vira dan Victor hidup bahagia bersama putra semata wayangnya dan memberikan kasih sayang yang berlimpah.
Tamat
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Terima kasih buat para pembaca setiaku yang sudah mengikuti cerita novelku dari awal hingga tamat semoga dapat menghibur para pembaca novel. Terima kasih atas komentar dari pembaca dan maaf kalau author tidak membalas satu persatu tapi jujur author sangat senang dengan komentar kalian semuanya semoga kita selalu di beri kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan.
Inti dari cerita ini adalah jangan patah semangat atau berputus asa di kala kita mengalami kesusahan, kita pasrah dan percaya pada Tuhan karena suatu saat nanti Tuhan akan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kita duga sama sekali. Terima kasih.
__ADS_1
Salam Author,
Yayuk Triatmaja.