
"Maaf Mam, ada yang mendorongku dari belakang." Jawab Rina sambil berdiri begitu pula dengan yang lainnya.
"Jangan bikin alasan, tidak mungkin putraku mendorongmu." Ucap Maminya dokter Anton.
"Sudah - sudah lebih baik Mami dan yang lainnya pergi untuk menjalankan rencana." Ucap dokter Anton yang tidak suka ribut.
Tanpa banyak bicara mereka keluar dari ruangan dokter Anton sedangkan dokter Anton kembali melanjutkan pekerjaan.
"Vira, sebentar lagi ajalmu akan tiba." Ucap dokter Anton sambil tersenyum menyeringai.
"Sayangnya kalianlah yang akan meninggal." Ucap Victor sambil membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu.
Victor ternyata masih ada di ruangan dokter Anton ketika mendorong tubuh Rina hingga Victor mendengar ucapan dokter Anton. Victor yang mendengar ucapan dokter Anton menjadi kesal dan mulai berbicara tanpa memperlihatkan wujudnya.
"Ka .... Kamu ... Si ... siapa?" Tanya dokter Anton dengan nada gugup.
Ceklek
Brak
Tanpa menjawab Victor membuka pintu kemudian menutupnya dengan kencang dan tentu saja Victor sangat terkejut sekaligus membuat dirinya takut.
"Masa, di ruangan ini ada hantu?" Tanya dokter Anton sambil menatap sekeliling ruangan.
__ADS_1
"Hei hantu, kalau berani tampakkan dirimu!" Teriak dokter Anton.
Hening
Hening
"Sudahlah, mungkin hanya halusinasi ku saja yang penting Aku harus menyelesaikan tugasku terlebih dahulu." Ucap dokter Anton kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tiga Jam Kemudian
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya dan kini waktunya makan siang. Dokter Anton merapikan dokumennya kemudian keluar dari ruangannya menuju ke ruangan dokter Vira.
Ceklek
"Eh Kak Anton, ada apa Kak?" Tanya dokter Vira bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kakak ingin mengajakmu makan siang di luar sekalian ada yang ingin Kakak katakan." Ucap dokter Anton.
"Ok." Jawab dokter Vira singkat sambil berdiri kemudian mengambil tasnya yang diletakan di lemari kecil yang berada di meja kerjanya.
Mereka berjalan meninggalkan ruangan dokter Vira menuju ke arah lift. Dokter Anton diam-diam sesekali tersenyum menyeringai di belakang dokter Vira.
'Sebentar lagi Kamu akan mati, dasar wanita ja x lang.' Ucap dokter Anton dalam hati.
__ADS_1
'Kita lihat siapa yang mati duluan.' Ucap dokter Vira dalam hati.
Skip
Kini dokter Anton dan dokter Vira berada di dalam mobil. Dokter Anton mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dirinya secepatnya ingin mengeksekusi dokter Vira.
Hingga di jalan yang sepi dokter Anton mengurangi kecepatan mobilnya hingga dua mobil menghalangi mobil milik dokter Anton.
Dokter Anton mengerem mobilnya kemudian keluar dari mobilnya begitu pula dengan dokter Vira.
"Bunuh wanita itu!" Perintah dokter Anton dengan nada dingin.
"Baik Tuan." Jawab anak buahnya sambil berjalan ke arah dokter Vira.
"Kak Anton, kenapa ingin membunuhku? Apa salahku?" Tanya dokter Vira dengan wajah polos.
"Kemarin malam kamu bermesraan dengan pria lain karena itulah Kamu harus mati di bunuh oleh anak buah ku." Jawab dokter Anton sambil tersenyum menyeringai.
Dokter Vira tidak lagi bertanya karena saat ini dirinya harus fokus melawan para penjahat. Dokter Vira sesekali memukul, menendang dan terkadang menghindari pukulan hingga lima belas menit kemudian para penjahat satu persatu tumbang alias babak belur.
"Ckckck... Tidak Aku sangka ternyata Kamu bisa melawan para anak buahku." Ucap dokter Anton sambil mengeluarkan pisau lipat dari saku belakang celana panjangnya.
"Hari ini, terimalah kematianmu." Ucap dokter Anton sambil mengarahkan pisaunya ke arah dokter Adira.
__ADS_1