
Maximus mengusap wajahnya dengan kasar membuat Maximus menghubungi orang kepercayaannya yang terbiasa mencari orang yang susah dicari namun orang kepercayaannya dengan mudah menemukannya.
Setelah selesai Maximus menekan folder yang ke tiga berisi : Vira keluar dari kamar Tuan Maximus kemudian menekan tombol play.
xxxxxxxxxx Rekaman CCTV On xxxxxxxxxx
Vira membuka pintu kamar milik Maximus kemudian keluar dari kamar Maximus sambil sesekali mengusap wajahnya. Terlihat jelas wajah sedih Vira di tambah wajahnya meringis menahan rasa perih pada bagian privasinya ketika Vira lagi berjalan.
Vira berhenti sambil bersandar di tembok kemudian tangan kanan Vira menyentuh privasinya sedangkan tangan kirinya memegang tembok terlihat jelas Vira wajah kesedihan, terluka dan kecewa dalam waktu bersamaan.
Vira menatap ke arah pintu kamar di mana Maximus menginap dengan air mata tidak berhenti keluar.
Setelah beberapa saat Vira berjalan kembali dengan perlahan menahan rasa perih dan terkadang Vira terjatuh. Vira berusaha bangun kemudian berjalan kembali ke arah lorong menuju ke arah kamarnya.
Hingga Vira berhenti yang tidak jauh dari pintu kamarnya kemudian menghapus air matanya. Vira perlahan menghembuskan nafasnya untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya.
Setelah beberapa saat Vira perlahan berjalan ke arah pintu kamarnya bersamaan temannya membuka pintu kamarnya membuat temannya yang bernama Bela pura - pura sangat terkejut melihat wajah sembab Vira.
"Ada apa?" tanya Bela dengan wajah pura-pura perduli.
"Tidak ada apa - apa," Jawab Vira sambil tersenyum menutupi kesedihannya sambil menahan rasa perih pada bagian privasinya di tambah hatinya yang sangat hancur.
"Aku akan temani Kamu," ucap Bela sambil tersenyum jahat ketika melihat cara jalan temannya.
Vira hanya diam dan terus berjalan dengan pikiran kosong membuat Bela pura-pura tidak tega dan membantu Vira berjalan ke arah kamar mereka.
Beberapa saat rekaman terhenti sebentar kemudian suasananya berubah menjadi kamar. Di mana Vira membuka pintu kamarnya kemudian masuk ke dalam kamar di bantu oleh Bela.
"Aku lagi ingin sendiri bolehkah?" Tanya Vira dengan suara serak karena kebanyakan menangis.
"Boleh, silahkan istirahat dan kalau mau mandi silahkan saja." Jawab Bela.
"Di lemari ada pakaianku maka pakailah." Sambung Bela.
__ADS_1
"Baik, terima kasih banyak dan maaf sudah merepotkanmu." Ucap Vira sambil tersenyum namun terlihat jelas hatinya sangat terluka.
"Sama-sama." Jawab Bela sambil membalas senyuman Vira.
Bela pun pergi meninggalkan Vira sendirian sedangkan Vira berjalan ke arah kamar mandi kemudian membuka pintu kamar mandi.
Rekaman cctv terhenti sebentar hingga akhirnya berubah suasananya menjadi kamar mandi. Vira berjalan ke arah shower kemudian duduk di lantai keramik yang sangat dingin.
Ke dua kaki Vira di tekuk di bawah guyuran air shower sambil menyandarkan kepalanya di ke dua pahanya lalu Vira pun menangis menghilangkan rasa sesak dihatinya.
Tangisan yang menyayatkan hati membuat siapa saja ikut menangis merasakan penderitaan Vira begitu pula yang dirasakan oleh Vira.
Setelah beberapa saat Vira mengangkat kepalanya dan menatap ke arah tembok.
"Untuk apa Aku hidup lebih baik Aku mati." Ucap gadis cantik tersebut dengan air mata tidak berhenti keluar.
Gadis itupun berusaha berdiri kemudian berjalan ke arah tembok hingga ....
Duag
Bruk
Perasaannya yang sangat hancur membuat Vira nekat membenturkan kepalanya ke dinding dengan sangat keras hingga darah segar keluar dari keningnya. Bersamaan Vira berteriak kesakitan dan langsung ambruk ke lantai dengan darah segar yang tidak berhenti keluar dari kepalanya.
''Aku tidak terima, selama ini Aku selalu berbuat baik tapi apa yang Aku dapatkan? Jika Aku diberikan kesempatan ke dua Aku ingin membalas perbuatan mereka yang telah menyakiti diriku.'' Ucap Vira.
Vira pun perlahan menutup matanya dan tidak berapa lama tidak sadarkan diri bersamaan kedatangan Bela.
Bela datang sambil tertawa jahat, setelah puas Bela menghubungi Kakaknya dan tidak berapa lama Kakaknya datang bersama dokter untuk menolong Vira.
"Bagaimanapun caranya Aku ingin bekas luka nya hilang tanpa bekas." Ucap Bela.
"Agak susah Nona kecuali lukanya di samarkan dan tidak terlihat lukanya." Jawab dokter tersebut.
__ADS_1
"Terserah dokter saja dan Aku ingin temanku cepat sadar bagaimanapun caranya." Ucap Bela.
Dokter itupun hanya menganggukan kepalanya kemudian mulai mengobati Vira setelah hampir setengah jam kemudian kening Vira tidak terlihat luka.
"Sudah selesai Nona." Ucap dokter tersebut.
"Sekarang pergilah karena sebentar lagi temanku sadar!" usir Bela.
"Baik Nona." Ucap dokter tersebut.
"Nanti Aku transfer." Ucap Vincent.
"Baik Tuan." Jawab dokter tersebut kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Kenapa Kamu menyelamatkan gadis itu?" Tanya Vincent.
"Karena Aku belum puas karena itulah Aku ingin Dia tersiksa dengan racun yang Aku berikan." Ucap Bela sambil mengeluarkan jarum suntik dan ampul.
"Racun itu membuatnya menjadi apa?" Tanya Vincent.
"Menjadi lumpuh dan tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Mau bunuh diri tapi tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya dan tentu saja membuat Vira sangat tersiksa." Jawab Bela tanpa ada rasa empati sedikitpun.
Selesai berbicara Bela menyuntikkan racun tersebut ke lengan Vira yang tidak sadarkan diri membuat Kakaknya menggelengkan kepalanya.
"Sekarang Kakak pergilah kita lanjut rencana berikutnya." Ucap Bela.
"Oke." Jawab Vincent singkat kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut.
Setelah beberapa saat Vira membuka matanya, Vira menangis membuat Bela memeluk tubuh Vira setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya.
Bela menghibur Vira setelah Vira tenang barulah Bela mengajaknya pergi dari hotel tersebut.
xxxxxxxxxx Rekaman CCTV OFF xxxxxxxxxx
__ADS_1
Maximus tidak henti-hentinya menangis menyesali perbuatannya dan tanpa sepengetahuan oleh Maximus kalau Vira berada di kamarnya namun Maximus tidak bisa melihatnya.
"Nona, kenapa rekaman cctvnya mengikuti alur cerita sebelum Nona memasuki pemilik tubuh?"