
Lima hari sebelum yusuf ke Bandung.
Hari ini Yusuf pergi ke pesantren tempat dimana Yusuf menimba Ilmu. Pasalnya Yusuf hanya ingin Izin dan do'a restu kalau Yusuf akan berangkat ke Bandung selama dua bulan untuk seminar.
Sesampainya di pesantren Yusuf bertemu dengan Hafidzah sedang menyapu di halaman pesantren.
"Assalamuallaikum, Ukhti...?" kata Yusuf mengucapkan salam pada Hafidzah.
"Waalaikumsalam, Akhi." hafidzah menjawab salam Yusuf.
"Hafidzah apa Abah ada?" tanya Yusuf ingin bertemu dengan Abah.
"Ada A di kursi tempat Abah istirahat!" jawab Hafidzah dengan menunjuk ke tempat Abah.
"Terimakasih Hafidzah."
"Iya sama-sama, A."kata Hafidzah.
Abah adalah sebutan para Santri di pesantren. Namanya KH. Ahmad Junaedi.
Abah terkenal dengan sosok yang ramah, tegas dan di segani semua santri.
"Assalamuallaikum, Bah..." kata Yusuf mengucapkan salam ke Abah.
"Waalaimumsalam, eith kemana saja Author terkenal, lama tak berjumpa?" kata Abah dengan memuji Yusuf.
"Duh... Maafkan saya Bah?! akhir-akhir ini saya sibuk dengan seminar."kata Yusuf sambil mencium punggung tangan Abah.
"Wih.... hebat kamu,Nak?!" kata Abah terus memujinya.
"Hehehe... ah biasa aja, Bah!" wajah Yusuf memerah.
"Kamu harus bersukur Yusuf... sekarang cita-cita kamu tercapai. Tapi kamu juga jangan sampai melupakan pesantren tempat kamu mencari ilmu!" kata Abah menasehati Yusuf.
"Iya, Bah aku tak akan melupakan Abah dan pesantren ini." kata Yusuf meyakinkan Abah.
Hari itu Yusuf dan Abah terus mengobrol.
"Oh ya, Yusuf datang ke sini mau minta do'a dan restu ke Abah, bahwa lima hari lagi Yusuf mau melaksanakan seminar di Bandung selama satu bulan," kata Yusuf meminta izin pada Abah.
"Iya tentu saja Abah Izinkan, Yusuf. Kamu itu anak Solih, jaga dirimu baik-baik dirimu di sana, ya?!" kata Abah terus menasehati yusuf.
"Iya, Bah." jawab Yusuf sambil mengangguk tanda setuju.
"Yusuf karna kamu anak baik, Abah berharap kamu bisa jodoh dengan Hafidzah!" kata Abah penuh harap. Yusuf hanya tersenyum dan pamit pulang.
"Ya sudah Bah, Yusuf pamit pulang dulu ya, semoga Abah, Umi, Hafidzah dan seluruh santri di sini di berikan ke sehatan," kata Yusuf mendo'akan.
__ADS_1
"Aamiin!" Abah mengaminkan.
"Assalamuallaikum?"
"Waalaikumsalm."
Setelah itu Yusuf langsung bergegas meninggalkan pesantren dan sesampainya di halaman depan Yusuf bertemu lagi dengan Hafidzah.
"Sudah, A?" kata Hafidzah ingin tahu.
"Sudah, Zah." jawab Yusuf Simple.
"Aku pamit dulu ya, Assalamuallaikum Hafidzah..." kata Yusuf meninggalkan Hafidzah.
"Waalaikumsalam..." hafidzah menjawabnya dengan sopan.
"Hafidzah itu wanita solihah, sopan, cantik dan agamanya bagus. Tapi aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai Raisa seorang" batin Yusuf sambil menaiki mobil pribadinya.
Siang itu waktu menunjukan pukul 11.00 siang. Sepulangnya dari pesantren Yusuf langsung menuju ke rumah pribadinya di Cipanas untuk mengepak barang-barang yang akan dibawa ke Bandung.
Sesampainya di rumah, Yusuf memasukan barangnya kedalam mobil. Setelah masuk tiba-tiba ada Chat dari nomor yang tidak di kenal.
Raisa : "Assalamuallaikum..."
Yusuf : " Waalaikumsalam..."
Raisa : "Kamu jadi ke Bandung?"
Raisa : "Oh, sampai ketemu di Bandung!"
Aku senyum-senyum sendiri sambil membaca Chat dari Yusuf, begitupun Yusuf.
Yusuf bangun pagi jam 04.00 untuk menunaikan shalat tahazud dan di sambung shalat Subuh di maszid. Ia tidak sabar ingin segera ke Bandung untuk bertemu denganku. Yusuf segera naik ke mobil dengan membawa barang-barang keperluannya selama di Bandung. Yusuf lalu mengendarai mobilnya ke jalan raya dengan penuh semangat sambil senyum-senyum sendiri.
Yusuf sampai kebandung jam 04.00 sore. Sesampainya di Bandung Yusuf memlilih hotel ternama yang tidak jauh dengan tempat seminarnya. Yusuf masuk ke dalam kamar lantai 7 nomor 156. Kemudian Yusuf kekamar mandi untuk mengambil wudlu kemudiam Yusuf melaksanakan Shalat Ashar. Kemudian Yusuf merebahkan badannya dan beristirahat.
Kini hari sudah mulai petang. Yusuf kemudian terbangun dari tidurnya dan bergegas kekamar mandi untuk melaksanaka Shalat magrib. Setelah Shalat magrib Yusuf mengaji sampai datangnya Shalat Isya. Setelah Shalat Isya Yusuf merebahkan lagi badannya di ranjang lalu membuka Handphonenya untuk Chat Aku.
Yusuf : "Assalamuallaikum, Caca?" Chatan.
Yusuf sambil senyum-senyum sendiri.
Raisa : " Waalaikumsalam, Yusuf."
Yusuf : " Aku besok mulai seminar dari jam 08.00 pagi sampai jam 10.00 pagi. Setelah Shalat Dzuhur aku rencananya mau bertemu denganmu!"
Raisa : " Oke, aku bisa!" kataku bersemangat.
__ADS_1
Setalah Chatan sama Yusuf aku langsung gulang-guling di kasur karena saking senangnya.
Pagi itu menunjukan pukul 04.30. seperti biasa aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudlu. Aku langsung menunaikan Shalat Subuh lalu aku memasak dan sarapan pagi sama-sama dengan keluarga.
"Ca, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Ibu penasaran sambil menyuapi makanan ke mulutnya.
"Engga, Bu" kataku tersipu malu.
"Ah jangan Bohong kamu?!" kata Ibu meledeku.
"Engga!" sambil mencubit tangan Ibu.
"Ah kamu Ca, gak jelas banget..." kata Kak Rangga sambil pergi ke kamar mandi setelah menyelesaikan makananya.
"Apaan sih, Kak...?"kataku kesal.
"Sudah-sudah, lanjutin makan!" kata ayah menyuruh kami diam dan melanjutkan makan.
Hari menunjukan pukul 11.00, itu artinya dua jam lagi aku akan bertemu dengan Yusuf. Aku bergegas pergi ke super market untuk membeli bahan membuat kue. Rencananya aku akan membawakan kue untuk Yusuf.
Sesampainya di super market aku bertemu dengan Astuti setelah sekian lama aku tak bertemu dengannya karena kesibukan masing-masing. Kalau sama Delia sih aku sering ketemu kerena Delia bekerja satu pekerjaan denganku.
"Permisi, Mbak?" kata Astuti. dan setelah menatap aku Astuti kaget siapa yang ada di hadapan Astuti.
"Astuti..." Sambil tercengang.
"Caca..." kata Astuti sama-sama tercengang.
"Tut..." Sambil berpelukan.
"Ca..." Astuti pun membalas pelukan aku.
" Gimana kabarnya, Tut?" kataku menanyakan kabar Astuti.
"Baik Ca, kamu?" tanya Astuti balik.
"Ia Sama aku juga baik." kataku.
"Eh Ca, kok aku Telepon gak pernah aktif sih..." tanya Astuti.
"Duhhh... Sorry Tut, handphone aku hilang jadi gak punya kontak. Tapi kamu suka chatan kan sama Delia?" tanyaku.
" Sama... dengan handphone Delia juga gak aktif." balas Astuti kesal.
"Iya pasti gak aktiflah! Orang handphone hilang barengan. Waktu di tempat kerjaku ada perampokan semua barang-barang berharga yang ada di tempat kerjaku mereka ambil," aku menceritakan kejadian perampokan panjang lebar.
"Oh, aku minta nomor handphone kamu donk! Ca," lalu kami berdua tukaran nomor Handphone.
__ADS_1
Setelah pulang dari super market, aku langsung membuat kue kesukaan Yusuf waktu dulu. Aku gak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Yusuf.
Setelah selesai membuat kue aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melaksanakan Shalat Dzuhur.