
Setelah meeting, semua karyawan keluar ruangan termasuk Rey yang kini menjadi menejer Morgan. Baru saya Rey melangkahkan kakinya menuju keluar Morgan menghentikan langkah Rey.
“Kamu jangan dulu keluar!” perintah Morgan pada Rey.
“Memangnya kenapa?” tanya Rey penasaran.
“Ayo duduk saja!”
“Aku udah dua minggu nggak saling sapa dengan Raisa, aku merasa kehilangan dia,” balas Morgan lirih.
“Ya mau gimana lagi Gan? Kalau masalahnya dengan keyakinan susah…” ucap Morgan pada Rey yang kini menjadi karyawan sekaligus tempat curhatnya.
“Apa aku harus mengubah keyakinanku dulu?”
“Gini, Morgan masalah agama itu tak bisa di permainkan seperti itu, masalah keyakinan harus dari hati! Mualaf itu harus benar-benar kamu sudah meyakininya! Nggak bisa kamu sembarangan pindah agama hanya karena cinta saja, kamu harus bena-benar dari hati!” Setelah mendengar pernyataan dari Rey, Morgan lansung menunduk mencerna semua yang di katakana oleh Rey.
“Oke, thankyou…” Morgan langsung bergegas keluar ruangan meninggalkan Rey.
***
Melepas seseorang itu rasanya pahit seperti obat, meskipun rasanya pahit namun akan membuat rasa sakit itu sembuh. Namun sekarang aku berpikir buat apa menangis, takdir telah di atur oleh Sang Pencipta. Bukankah di surah An-naba sudah di jelaskan :
وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا
Yang artinya “dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,”
Aku akan terus berusaha tegar menerima semua kenyataan yang menghampiri diriku dan menerima segala takdir yang di berikan Allah Tuhanku. Karena jika kita ikhlas dengan segala ujian, maka Allah akan memberikan yang terbaik untuk mahluknya.
“Semoga aku bisa mendapatkan jodoh yang terbaik…” kataku dalam hati.
Sore itu aku tak hentinya menyelesaikan persiapan menjelang pernikahan Kak Rangga. Membantu mendekorasi rumah, memasak untuk konsumsi dan persiapapn-persiapan lainnya agar mempermudah pekerjaan panitia.
Ketika aku keluar rumah, kulihat langit sangat cerah. Kupastikan esok hari ketika Kak Rangga melangsungkan pernikahan, aku berharap harinya secerah sore ini.
Hari ini entah mengapa aku merasa sakit di kepalaku. Rasanya ada yang memutuskan urat kepalaku. Mungkin karena aku semalam kurang tidur di tambah dari pagi aku tak henti-hentinya membantu persiapan pernikahan Kak Rangga.
“Caca…” sapa Kak Rangga.
“Iya Kak,” balasku lirih.
“Kamu istirahat aja Ca! Wajahmu terlihat pucat. Kamu pasti capek dari pagi sudah bantu-bantu persiapan pernikahan Kakak…” ucap Kak Rangga sambil memasang bunga di atas pintu.
“Ya udah kak, aku masuk kamar dulu…”
***
Hari ini adalah hari minggu, dimana hari pernikahan Kak Rangga di gelar. Pernikahan yang selama ini Kak Rangga impikan bersama perempuan yang di cintainya. Bukan hanya sekedar pesta mewah namun pernikahan adalah sakral bagi semua umat manusia.
__ADS_1
Ka Rangga telah duduk di samping Delia calon istrinya yang kini masih tetap menjadi sahabatku. Ijab qobul pun akan segera di mulai tamu undangan sudah hadir di tengah-tengah Kak Rangga dan Delia. Sahabatku Astuti juga telah hadir bersama pasangannya dengan memakai seragam sama dengan keluargaku.
Hari ini Delia terlihat cantik memakai kebaya berwarna putih senada dengan jas yang di kenakan oleh Kak Rangga. Wajahnya pun penuh dengan senyuman. Kak Rangga yang mendampinginya pun merasa bahagia dan tak henti-hentinya tersenyum.
Ijab qobul telah selesai. Kedua mempelai di persilahkan naik keatas pelaminan untuk bersalaman dengan seluruh tamu undangan.
“Selamat ya, Kak…’ ucapku padak Kak Rangga sambil memeluk Kak Rangga.
“Selamat ya Anakku…” ucap Ibu pada Kak Rangga sambil terisak-isak tangis dalam pelukan Kak Rangga dan Delia.
“Selamat Ya Rangga…” Seluruh tamu undangan bersalaman dan mengucapkan selamat.
Sementara yang lain terlihat menikmati pesta, tiba-tiba mataku mengalihkan pandanganku, melihat kearah gapura yang di hiasai bunga-bunga cantik. Aku melihat Morgan baru saja datang dengan menggunakan setelan jas berwarna navi membuat diriku terpesona padanya. Aku berusaha memalingkan pandanganku kearah lain agar aku tidak terlihat bahagia kedatangan Morgan.
POV MORGAN
Hari ini adalah hari minggu. Dimana aku harus menghadiri suatu pesta pernikahan teman sekolahku. Aku harus berpenampilan menarik karena di pesta itu telah hadir sosok sang pelangi bernama Raisa sang pujaan hatiku. Setelah aku berpenampilan rapi, aku langsung bergegas pergi ke pernikahan Delia menggunakan mobil.
Dua puluh menit kemudian aku telah sampai di tempat pernikahan Delia. Mobil memasuki pintu utama, aku melihat kesekeliling tempat itu ada beberapa penjaga. Semua memandang ke arahku dan ada dua mata yang diam-diam melirikku yaitu sang pelangi itu, namun aku berpura-pura tidak melihatnya karena sudah dua minggu ini aku tidak bertutur sapa dengannya.
“Selamat datang di pernikahanku, Morgan!” Delia menyapaku ketika aku naik ke atas pelaminan.
“Selamat atas pernikahannya.” Balasku seraya tersenyum.
“Trimakasih, semoga kamu dapat istri yang baik dan seiman denganmu,” ucap Kak Rangga padaku.
Pernikahan pun selesai aku pamit pulang kepada kedua mempelai lalu aku menghampiri Raisa.
“Raisa, aku pamit pulang dulu ya…” kataku pada Raisa.
“Iya…” balas Raisa singkat namun matanya berkaca-kaca seperti memendam sesuatu.
“Aku mencitai tuhanku,begitu juga aku mencintaimu
Namun begitu menyiksa,untukku memilih
Antara kau atau Tuhanku.
Karna kau telah membuat hatiku menyatu dengan hatimu.
Di setiap malam detikan jam membangunkanku
Terdiam aku merenungkan semua tentangmu
Dalam sujudku aku selalu berdo’a
Memohon petunjuk yang akan membawaku,
__ADS_1
Keluar dari kebimbangan
Terlintas dalam pikiranku.
Tuk melupakan semua tentangmu
Tapi kau semakin dekat,dan mendekat denganku
Semakin lama,semakin aku takut
Takut dengan dosa
Bagaimana kau menjadi istriku,
Jika Tuhanku dan Tuhanmu tak sama
Jika perbedaan menghalangi kita
Mengapa ada perbedaan?
Perbedaan antara aku dan engkau
Akankah menjadi sebait puisi yang indah?
Atau menjadi debu yang diterpa angin,dan terlupakan
Andai saja tidak ada Tuhan
Biar kita semua sama
Biar kita saling mencinta
Namun,dapatkah kita hidup bersama?
Diatas keyakinan kita yang berbeda
Tapi,semua ku kembalikan pada mu
untuk memilih suatu yang menentukan kehidupanmu.”
( Puisi By Erna febrianti )
Setelah aku selesai membacakan puisi untuk Raisa, tiba-tiba Raisa meneteskan air matanya denga deras. Tanganku ingin sekali mengusapi matanya namun Raisa menepisnya lalu pergi meninggalkanku. Aku pun tak berdaya lalu pergi dari tempat itu.
Sepulang dari acara pernikahan aku langsung bergegas pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi bahan meeting besok.
Sesampainya di toko buku ketika aku sedang memilih-milih buku aku menemukan sebuah buku yang membuat diriku meliriknya yang berjudul “ISLAM ITU INDAH” entah apa yang ada dalam benakku sehingga aku tertarik ingin membacanya.
__ADS_1
“Semoga buku ini bisa di jadikan petunjuk tentang semua pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah aku temukan jawabannya.” gumamku sambil memegangi buku itu lalu membawanya ke kasir untuk di bayar.