
Janganlah kau terus meratap perpisahanan itu, bangunlah dari mimpi burukmu itu dan bangkitlah untuk menata masa depan yang bahagia.
Pukul 04.30 aku terbangun dari tidurku, aku melihat Ibu yang sedang terbaring lelap di sampingku karena menemaniku tidur malam ini. Batinku tersenyum melihat keindahan di hadapanku yang tampak nyata. Ibu, terima kasih Ibu sudah ada di setiap keterpurukanku.
Hatiku masih terbayang kejadian kemarin. Ingin rasanya aku menangis dan menjerit sekeras mungkin melepaskan beban di hati. Tapi apalah daya Qodarullah telah berkata lain. Aku harus terlihat tegar di hadapan Ibu agar ibu tak ikut terbebani.
Tak lama kemudian ketika aku sedang memandangi wajah Ibu, Ibu terbangun dari tidurnya, Ibu mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menatapku yang sedang memandanginya.
"Raisa..." Kata ibu sambil mengusap kedua matanya dengan kedua tangannya.
"Ibu..." balasku sambil berusaha tersenyum.
"Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Ibu sambil bangkit dari tidurnya.
"Iya Bu, kita Shalat yuk! Aku udah kangen ingin Shalat berjama'ah sama Ibu..." seruku.
"Ayo!" Ibu pun setuju.
Setelah diriku bersama Ibu melaksanakan Shalat Subuh aku langsung bergegas ke dapur untuk mempersiapkan sarapan karena aku sudah lama tidak membuatkan sarapan untuk Ibu setelah menikah dengan Yusuf.
Tak lama kemudian suara ponselku bergetar tanda ada pesan masuk.
Morgan : "Selamat pagi Raisa, kamu sedang apa?"
Raisa : "Aku sedang masak untuk sarapan pagi.
Morgan : "Raisa gimana kabar kamu?"
Raisa : "Baik,"
Morgan : "Apa kamu sama suamimu baik-baik aja kan? Apa suamimu masih menyanjung istri pertamanya?"
Raisa : "Oya! Ada yang harus aku bicarakan sama kamu...."
Morgan : "Tentang apa?"
Raisa : "Gak bisa di bicarakan melalui chat harus ketemu, bisa ketemu sekarang?"
Morgan : Bisa-bisa..."
Aku pun mengakhiri chat bersama morgan, lalu aku melanjutkan masak lagi.
Setelah aku selesai masak aku langsung mengajak Ibu sarapan bersama.
"Bu aku mau ketemuan sama cowok," aku memulai pembicaraan.
"Apa! Kamu udah ketemuan sama cowok lagi, bukannya kamu setelah bercerai dengan Yusuf belum lama?" Ibu kaget mendengar aku akan nertemu dengan laki-laki.
"Namanya Morgan Bu, Morgan teman Caca waktu sekolah. Morgan orangnya baik Bu, aku juga merasa nyaman kalau berada di dekat Morgan..." ujarku sambil memasukan makanan kedalam mulutku.
__ADS_1
"Tapi Morgan belum punya istri, kan?" tanya Ibu merasa khawatir.
"Ya nggak tahu sih Bu, tapi kayanya belum deh Bu," balasku sambil terus melanjutkan makan.
"Ibu saranin sih kamu harus berhati-hati lagi sama Cowok! Jangan sampai kamu di madu yang kedua kalinya..." kata Ibu sambil menyeruput air putih.
"Ih! Amit-amit sabang bai Bu..." sambil mengetuk-ngetuk kepala lalu di lanjutkan mengetuk-ngetuk meja makan.
***
Setelah selesai makan aku langsung bergegas ke kamar untuk bersiap-siap mau bertemu dengan Morgan. Aku membukakan lemari lalu memilih gamis terbaik yang akan di kenakan pas bertemu dengan Morgan. Entah kenapa perasaanku tak karuan setiap mau bertemu dengan Morgan. Apakah Morgan adalah jodohku? Sehingga ada getaran-getaran aneh yang menyerangku.
Jarum jam memutar begitu cepat. Tak terasa waktu telah menunjukan pukul 08.00 pagi itu artinya pertemuanku dengan Morgan akan segera terjadi.
Sesampaunya di tempat pertemuan aku tak menyangka Morgan sudah berada di tempat itu. Ia mengenakan jas berwarna biru tua yang membuat aku terpana. Aku semakin heran mengapa aku bisa moveon dari Yusuf begitu cepat.
"Morgan..." aku menyapanya dari belakang ketika Morgan sedang menyeruput kopi. Morgan pun menoleh kehadapanku saraya tersenyum.
"Raisa..." Ia melihat penampilanku yang cantik membuatnya tidak mengedipkan mata.
"Kamu nunggu lama, Gan?" tanyaku. Lalu aku duduk di kursi.
"I...Iya, Kamu cantik banget hari ini," ujarnya dengan tatapan yang tak biasanya.
"Apaan sih," balasku sambil melihat menu makanan.
Morgan menghela napasnya secara kasar. Ketika ia berada di dekatku perasaannya semakin tak karuan. Ia ingin sekali rasanya memilikiku di dalam hidupnya.
"Woy!" aku membangunkan lamunannya.
"Sorry..." Morgan pun mengerjapkan matanya terbangun dari lamunannya.
"Kamu kenapa bengong aja?"
"Nggak," ia menggelengkan kepalanya dengan muka memerah.
"Raisa..."
"Morgan..."
Aku dan Morgan dengan kompaknya memanggil nama secara bersamaan.
"Maaf Raisa!"
"Kalau gitu kamu duluan yang ngomong!" kataku.
"Nggak kamu duluan aja!" balas Morgan.
Saat aku memulai pembicaraan awalnya aku akan mengurungkan niatku untuk memberi tahu Morgan. Tetapi aku merasa ini tepat untuk memberi tahu Morgan tentang setatusku sekarang.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi diem sih? Katanya mau ngomong," Morgan membangunkan lamunanku.
"Iya, Morgan aku mau bicara sama kamu tentang hubunganku dengan Yusuf sekarang," ujarku.
"Iya, kenapa dengan hubungan kamu dengan suamimu? Kamu ada masalah?"
"A... Aku... Aku..."
"Iya kenapa?"
"Aku sudah ce..."
Saat aku akan mengatakan sudah cerai dengan Yusuf tiba-tiba ada seorang wanita cantik dengan menggandeng pemuda tampan. Mereka menghampiriku dengan memotong pembicaraanku sehingga belum sempat aku mengatakan bahwa aku sudah cerai dengan Yusuf.
"Morgan!" suara pemuda tampan itu sambil melambaikan tangannya ke arah Morgan.
"Satria! Halo sin!" Morgan membalas lambaian tangan itu dan mengajaknya bergabung. Aku menoleh kepada mereka, ternyata mereka adalah Satria dan Sintia.
"Apa kabar, Bro?!" Tanya Morgan sambil bersalaman dengan Satria.
"Baik, kamu sendiri gimana kabarnya? Masih playboy kah?" balas Satria dengan membalas salaman dari Morgan.
Ketia mereka selesai bersalaman Sintia menoleh kehadalanku.
"Oh jadi korban selanjutnya si Raisa...!" Sintia meledekku sambil memeluk kedua tangannya dab mengangkatkan alisnya tanda benci.
"Apaan sih Sin?" balasku kesal kenapa harus bertemu dengan dia lagi?
"Dasar cewek murahan!"
Ku dengar suara hinaan itu mendenging di telingaku membuatku terbawa emosi.
Plak...
uara tamparan keras menghampiri pipi mulus Sintia. Aku sepontan menamparnya karena ini sudah kesekian kalinya membuat masalah denganku dari sejak sekolah dulu. Kali ini aku tak mau lagi ada yang menghinaku seperti dulu.
"Jaga mulutmu ya!"
"Berani-beraninya ya kamu menampar aku!" kata Sintia sambil memegangi pipinya yang kesakitan.
"Ini peringatan terakhir untukmu ya! Aku sebenarnya tak pernah takut sama kamu, kalau kamu sekali lagi berbicara busuk lagi, aku gak akan segan-segan bikin perhitungan sama kamu!" aku menyimpan telunjukku di atas kepalanya lalu meninggikan suaraku memberikan peringatan.
"Emang kamu pikir aku takut?"
"Terserah!" aku pun langsung mengambil tasku lalu pergi meninggalkan mereka.
Satria yang melihatku menampar Sintia hanya diam saja. Aku tahu sebenarnya Satria masih memendam rasa cinta di hatinya, hanya saja ia sedang menjaga perasaannya Sintia.
Morgan yang melihat diriku di hina oleh Sinta ia memberikan peringatan pada Sintia agar tidak pernah mengulangi lagi hinaannya padaku.
__ADS_1
"Sintia, kalau kamu cewek baik-baik jaga mulut kamu ya! Kalau kamu masih menyakiti Raisa, aku tidak akan segan-segan memberikan pelajaran sama kamu!" ujar Morgan lalu pergi mengejarku.
"Halo...! Emangnya kamu siapanya Raisa? Pacarnya?"