
Pagi hari mentari telah merangkak ke atas langit yang biru senada dengan sinar cahayanya yang menyinari bumi yang begitu cerah. Hafidzah sedang duduk di sopa ruang tamu sambil memikirkan perubahan Yusuf yang derastis.
"Kenapa A Yusuf akhir-akhir ini sikafnya berubah begitu derastis?" batin Hafidzah sambil mengusapi perutnya yang buncit.
Yusuf melihat kearah Hafidzah yang hanya diam saja di sofa ruang tamu, Yusuf menghampiri Hafidzah yang pandangannya kosong seperti banyak beban yang di pikirkan.
"Zah, kamu kenapa? Seperti banyak pikiran?" tanya Yusuf sambil duduk di samping Hafidzah.
Hafidzah menoleh kehadapan Yusuf, ia sama sekali tak mengerti mengapa Yusuf sama sekali tidak menyadari soal malam hari Yusuf sudah menyakiti hati Hafidzah.
"Enggak A..." Hafidzah memalingkan pandangannya.
"Hey! Kenapa?" Yusuf penasaran dengan perubahan Hafidzah.
"Aa nggak sadar semalam udah menyakitiku? Aa menyuruh aku untuk tidak ikut campur, Aa lupa kalau Hafidzah istri Aa?"
"Maafkan Aa sayang!" Yusuf langsung merangkul tubuh Hafidzah dengan erat.
"..." Hafidzah menganggukan kepala tanda memaafkan.
***
Semilir angin meniup malam gelap dengan percikan hujan membasahi tanah yang kering menjadi subur kembali. Aku bersama sang waktu melihat percikan hujan itu mengingatkan kepergian Ayah yang telah meninggalkanku. Aku merasa sangat merindukan kehadirannya di sampingku.
Malam ini ku temukan setangkai bunga mawar putih yang sangat cantik di atas meja ruang tamu. Dan kutemukan nama di secarik kertas yang di dalamnya terdapat nama pemuda tampan yang bernama Morgan.
"Hihihi... Morgan Morgan...." aku membaca pesan dari Morgan sambil geleng-gelang kepala.
Kring... Kring...
Suara panggilan telepon berbunyi dari arah kamarku, aku pun bergegas memasuki kamar untuk menerima panggilannya.
"Eh dari Morgan..." kataku dalam hati.
Morgan : "Hallo..."
Raisa : "Waalaikumsalam..."
Morgan : "Eh iya, Assalamuallaikum..."
Raisa : "Hmmm... Waalaikumsalam..."
Morgan : "Gimana bunganya? Udah keteterima belum?"
Raisa : "Bunga yang mana ya?" aku pura-pura tidak mengetahui tentang bunga yang di berikan oleh Morgan.
Morgan : "Itu loh, yang barusan aku kirim ke rumah kamu, jangan-jangan belum kamu terima!" Morgan mulai panik.
Raisa : "Oh yang itu! Ku kira bukan dari kamu,"
Morgan : "Terus dari siapa donk? Jangan bikin aku jealous deh!"
Raisa : "Hahaha! Iya udah aku terima kok,"
***
Keesokan harinya Hafidzah bangun sangat pagi karena akan pergi ke pusat pembelanjaan perlengkapan bayi.
"Zah, Ayo kita sarapan!" Yusuf menyodorkan sepiring nasi bersama ikan hasil masakannya kepada Hafidzah.
"Wah! Tumben Aa masak?!"
"Ini sebagai tanda permintaan maaf Aa sama kamu, karena Aa sudah melukai hati kamu dan si kecil..." ujar Yusuf sambil tersenyum.
__ADS_1
"Makasih ya sayang..." Hafidzah meneteskan air matanya karena terharu.
"..." Yusuf menganggukan kepalanya.
"A, aku mau belanja perlengkapan bayi, Aa anterin aku ya!"
"Oke, kita belanja ke Bandung ya? Biar sekalian jalan-jalan!" seru Yusuf sambil mengusapi perut Hafidzah yang semakin besar.
Sesampainya di Bandung Yusuf bersama Hafidzah langsung menuju pusat perlengkapan bayi di sebuah Mall terbesar di Bandung. Di sana banyak sekali pakaian-pakaian mungil yang sangat lucu. Hafidzah membayangkan bagaimana menggemaskannya jika bayinya nanti memakai pakaian-pakaian itu.
"Wah!" Hafidzah memandangi sepatu kecil warna merah.
"Kamu suka?" tanya Yusuf.
"Iya, A"
"Ya udah sekarang kamu borong semua perlengkapan bayi yang kamu sukai!" seru yusuf.
"Yang bener?"
"Iya sayang..."
Setelah selesai berbelanja Yusuf dan Hafidzah meninggalkan tempat pembelanjaan bayi. Mereka beralih ke sebuah foof coart karena Hafidzah merasa lapar di karenakan ia tidak makan untuk dirinya sendiri tetapi di tambah dengan bayi yang ada di perutnya.Di food coart Hafidzah dan Yusuf memesan makanan kesukaan mereka masing-masing.
"Makasih ya A, udah bikin aku bahagia hari ini..." sambil memasuki makanan kedalam mulutnya.
"Udah kewajiban Aa kok..." sambil menyeruput kopi.
Setelah selesai makan mereka bergegas untuk segera pulang ke Cianjur karena hari sudah mulai sore. Tak lama kemudian ketika Yusuf dengan hafidzah sedang menuju ke luar ia tak sengaja bertabrakan dengan Morgan yang sedang berjalan denganku menuju ke dalam.
Brug!!!
"Duh... sorry!" kata Morgan setelah bertabrakan.
"Kamu lagi?!" Yusuf merasa kesal.
"Ngapain sih aku ketemu sama laki-laki ******** ini lagi?!" Morgan mulai terpancing emosianya.
Brug...
Yusuf sepontan menonjok wajah Morgan dengan keras sampai tubuh Morgan terpental kesebuah meja milik food coart.
"Yusuf! Kamu apa-apaan sih?" kataku seraya emosi.
"Jaga mulut kamu ya!" kata Yusuf pada Morgan.
"Emang iya kan?" balas Morgan.
"Sudah-sudah! Ayo kita pulang!" ujarku sambil menarik tangan Morgan menuju Mobil.
"Mbak Caca tunggu!" panggil Hafidzah sambil melambaikan tangannya.
"Aa apa-apaan sih? Sabar donk!" Hafidzah kecewa.
"Kita pulang aja, Zah!"
Di dalam mobil Hafidzah bersama Yusuf tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Yusuf hanya fokus mengendarai mobil sedangkan Hafidzah menangis terisak-isak sepanjang jalan.
"Kamu ngapain sih kamu berantem sama si Yusuf?" tanyaku.
"Dia duluan!" sambil mengemudi.
"Iya terus kamu ngapain tadi bilang ******** sama si Yusuf? Mancing-mancing emosi saja!" kataku seraya cemberut.
__ADS_1
"Lah! Jadi kamu belain si Yusuf ya?" Morgan mulai meninggikan suaranya.
"Engga kok, aku sayang sama kamu tau..." Aku keceplosan sepontan menutup mulutku dengan tangan kananku.
"Apa? Apa? Sekali lagi apa? belum kedengeran!" Morgan mulai GR.
"Eh enggak, enggak aku salah ngomong!" pipiku pun mulai memerah.
"Sekarang aku tanya sama kamu, Apa kamu mencintaiku?"
"..." aku tidak bisa menjawab apa-apa.
"Jawab Sa!" Morgan penasaran.
"Bukannya aku tak mau mengungkapkan seberapa besar rasa cintaku padamu tetapi aku takut Allah cemburu..." sambil menunduk.
Morgan yang mendengar kata-kata mutiara yang di utarakan aku, hatinya merasa tersentuh dan merasa ada kekaguman di dalam benaknya yang tak bisa ia ungkapkan.
*Keajaiban
Aku hanya bisa menutup mataku
Menikmati setiap detik keajaiban yang kau berikan
Aku hanya bisa terdiam
Merasakan
Setiap detik hidupku lebih berarti
Setiap Mantra dan Keajaiban
Yang kau sihirkan padaku
Terasa Lebih merasuk kedalam jiwa
Setiap kalimat dan huruf
Yang terlantun dari mulutmu
Menjadi kata kata penyemangat dalam hidupku
Hidupku terasa lebih berarti
semenjak kau hadir dalam duniaku
Setiap apa yang kau lakukan
Menjadi keajaiban tersendiri
dalam Fantasiku
Kau pelangi dalam hidupku
Yang slalu memberi warna dan keajaiban
Disetiap disetiap detak denyut nadiku
Keajaiban – oleh Lisa Aulia*
"Puitis banget kamu, Gan..." kataku seraya tersenyum karena kagum terhadap Morgan.
"Itu puisi khusus aku hafalin untuk kamu Sa,"
__ADS_1
Sepanjang jalan Morgan terus menggombali aku. Ia membacakan puisi, bernyanyi dan membuat aku merasa berbunga-bunga.