Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 46 - Harus Seiman!


__ADS_3

Yusuf menarik tangan Hafidzah yang keluar dari mobil.


"Kamu kenapa sih, Zah?" tanya Yusuf sambil melihat pada mata Hafidzah yang berkaca-kaca.


"Semoga Aa berubah menjadi Aa yang aku kenal!" ucap Hafidzah sambil melepaskan tangan Yusuf dan berderai air mata.


"Maafkan Aa Hafidzah!" Yusuf berusaha menahan Hafidzah.


****


Malam hari Hafidzah seperti biasa ia bangun sekitar jam 02.00 pagi untuk melaksanakan shalat tahazud, namun di shalat tahazud ini ada sedikit berbeda dengan biasanya. Hafidzah terus menerus berdo'a sambil berderai air mata berdo'a untuk kebaikan sang suami.


"Ya Allah, bagi sebagian perempuan di duakan itu tidak mudah, harus menahan rasa sakit dzohir maupun batin. Tapi hamba ikhlas jika suami hamba menikah lagi, namun hati ini berteriak, hati ini bergejolak, hati ini menangis jika menduanya suamiku menjadi berubah tidak bertanggung jawab dengan apa yang di terimanya."


Setelah Hafidzah melaksanakan Shalat Tahazud Hafidzah kembali ke kamar lalu naik keatas ranjang untuk kembali merebahkan tubuhnya. Ia melihat sosok Yusuf yang masih saja belum tidur.


"Kulihat dirimu gelisah suamiku. Mungkin karena Aa masih memikirkan Mbak Caca. Aku mohon Aa jangan seperti ini! Aku lihat Mbak Caca sudah melupakan Aa..." batin Hafidzah sambil memandangi punggung Yusuf.


Tak lama kemudian Yusuf sadar bahwa di sampingnya ada Hafidzah, ia langsung menoleh kehadapan Hafidzah.


"Zah, kamu belum tidur?" sambil memgusapi helai demi helai rambut Hafidzah.


"Belum A, Aku baru selesai shalat tahazud" balas Hafidzah dengan lirih.


"Aku mencintaimu istriku," ucap Yusuf seraya tersenyum lalu mencium kening Hafidzah.


"Aku juga mencintaimu, A" balas Hafidzah dengan bibir bergetar.


"Bukan aku yang Aa cintai, tapi Mbak Caca..." batin Hafidzah.


Yusuf memperhatikan perut Hafidzah yang semakin membuncit lalu ia mengusapinya dengan perlahan sambil meneteskan air mata. Ia merasa terlalu banyak kesalahan kepada Hafidzah. Tetapi ada kekaguman terbersit dalam hatinya dengan kesolihahhan Hafidzah yang membuatnya tetap bertahan.


"Maafkan aku istriku..." batin Yusuf.


Maka terjadilah percintaan di malam itu.


***


Pagi hari waktu telah menunjukan pukul 09.00 pagi. Morgan menuruni anak tangga dengan santai. Hari ini Morgan berniat ingin membicarakan hubungannya denganku kepada Bu Angel.

__ADS_1


"Sarapan dulu sayang!" perintah Bu Angel yang sedang menuangkan selai nanas kedalam roti tawar kesukaan Morgan.


"Iya Bu," balas Morgan lalu duduk.


"Kenapa Kok kayak ada yang mau di bicarakan? Senyum-senyum sendiri," tanya Bu Angel penasaran.


"Bu, aku mau melamar Raisa apa Ibu setuju?"


"Ya selagi dia baik dan seiman sama kamu, ibu setuju setuju aja,"


Morgan langsung terdiam ketika Bu Angel mengatakan seiman, karena Morgan dengan diriku beda Agama. Selama ini aku belum tahu kalau Morgan non muslim.


"Harus gimana ini? Raisa perempuan berjilbab, yang artinya dia adalah seorang muslim..." batin Morgan.


"Kenapa?" tanya Bu Angel.


"Enggak, Bu"


"Kok Bengong?"


Terkadang cinta itu begitu indah, tetapi terkadang cinta itu begitu sulit untuk di gapai. Akankah aku akan bersatu dengan Morgan? Atau hanya selingan saja tanpa jawaban?


Morgan bergegas kembali menaiki anak tangga untuk memasuki kamarnya, pikirnya ia ingin sekali bertemu danganku untuk menghindari kegelisahan. Sesampainya di kamar Morga ia langsung naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya dengan kaki terlentang. Ia terus memikirkan apa yang di bicarakan Bu Angel.


"Tuhan, harus bagaimana aku ini?" batin Morgan sambil memandangi ponsel.


"Terkadang, melawan ke egoisan, tidak cukup hanya dengan logika, namun agar dimna kita lebih luas melihat dari berbagai sisi seperti, bahagia bahwasanya kebahagian itu milik semua orang tetapi mengapa harus dia yang aku cintai? Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, apa aku harus berjuang atau aku harus mundur di tengah jalan?" batin Morgan sambil menutup matanya.


Sore hari setelah Morgan terbangun dari tidurnya setelah melewati tidur yang lumayan lama, ia langsung bergegas ke kamar mandi. Di kamar mandi ia menemukan cermin besar lalu ia memandangi pantulan wajahnya dengan mata kosong.


"Aku harus bertemu dengan Raisa hari ini juga!" kata Morgan sambil menganggukan kepalanya beberapa kali.


Setelah mandi ia langsung menggunakan kemeja terbaiknya, menggunakan, minyak rambut, menyemprotkan minyak wanginya agar terkesan segar di hadapanku lalu ia bergegas mengendarai mobil mewahnya menuju rumahku dengan kecepatan maksimal.


Lima belas menit kemudian Morgan sampai di depan rumahku, ia membunyikan kelakson mobilnya tanda ingin di bukakan gerbang. Kemudian Ibu yang sedang menyapu halaman segera membukakan gerbangnya.


"Maaf cari siapa ya?" tanya Ibu.


"Saya temannya Raisa Tante, bisa bertemu dengan Raisa?!"

__ADS_1


"Oh, silahkan masuk!"


"Terimakasih, Tan..."


"Caca!" Ibu berteriak memanggilku dari ruang tamu.


"Iya!"


"Ini ada teman kamu!"


"Siapa?!"


Aku tidak mendengar jawaban Ibu lagi. Aku pun langsung bangkit dari tempat tidurku lalu keluar. Aku yang melihat Morgan datang ke rumahku tentu saja kaget karena tidak biasanya ia datang sore-sore seperti ini.


"Assalamuallaikum,"


"Waalaikumsalam, Tumben kamu sore-sore gini ke rumah?" tanyaku sambil menuangkan air putih kedalam gelas.


"Ada yang harus aku bicarakan..."


"Tentang apa?"


"Raisa aku mencintaimu dan aku berniat untuk mengkhitbahmu namun yang perlu kamu tahu kita tidak seiman? Kuharap kamu bisa menerimaku!"


"Apa?" Aku kaget dengan pernyataan Morgan.


"Aku butuh jawabanmu!" ucap Morgan.


-


-


-


-


-


**Untuk teman-teman yang sudah menyempatkan membaca cerita Wanita Solihah Pujaan Hati terimakasih semoga Allah membalas kebaikan nya teman-teman semua. Ajeng mohon dukungan dari teman-teman ya agar Ajeng semangat untuk terus melanjutkan ceritanya dengan cara : Vote, Like, Comen, Share, Favoritkan dan Reting 5.

__ADS_1


Dan jangan lupa untuk membaca cerita kedua Ajeng yang berjudul "After That?" Terimakasih**.


__ADS_2