
Di pagi yang indah dengan mentari yang bersinar ketika selesai sarapan aku bersama Kak Rangga langsung bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Entah kemana tujuan Kak Rangga, aku hanya menurutinya dengan penuh bahagia.
Aku bersama Kak Rangga masuk ke dalam mobil, setelah Kak Rangga melajukan mobilnya Kak Rangga mulai berbicara.
"Kamu kok ada di rumah?" tanya Kak Rangga.
"..." aku tidak menjawab. Aku hanya menyenderkan tubihku pada pintu mobil sambil memandang keluar.
"Hey! Kamu ada masalah dengan suamimu?" tanya Kak Rangga lagi.
Aku sepontan membalikan tubuhku ke hadapan Kak Rangga.
"Aku udah cerai sama Yusuf," sambil meneteskan air mata.
"Cerai?" Kak Rangga Kaget.
"..." aku menganggukan kepalaku.
"Kok bisa? Baru aja nikah seumur jagung udah cerai lagi. Tapi aku seneng sih karena Tuhan telah membukakan hatimu untuk berpisah dengan laki-laki itu,"
"Kok Kak Rangga ngomongnya gitu sih?" aku mula emosi.
"Ya iya lah, ngapain sih kamu mau-maunya di madu..."
"..."
Ketika di lampu merah Morgan melihatku dengan Kak Rangga dari kaca mobilnya sedang jalan berdua, ia tak tahu bahwa Kak Rangga adalah Kakak kandungku. Aku pun bertatap-tatapan dengan Morgan di jendela Mobil masing-masing, kemudian Morgan memalingkan wajahnya melajukan mobilnya ketika lampu hijau dengan kecepatan mobil yang ngebut.
"Morgan..."
"Siapa Morgan?" tanya Kak Rangga.
"Ayo Kak kejar mobil putih itu!" perintahku pada Kak Rangga karena aku merasa khawatir.
"Emang kenapa sih?"
"Cepat kejar aja!"
Kak Ranggak pun menuruti permintaanku untuk mengejar mobil Morgan dengan kecepatan maksimal.
__ADS_1
"Euh... kehilangan jejak," Sambil memukul alat pengemudi.
"Yah, Kak Rangga..." aku pun merasa kecewa karena mobil Morgan tidak berhasil di kejar.
"Maaf..."
Kak Rangga merasa bersalah lalu kemudian ia melajukan mobilnya kembali untuk melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian Kak Rangga memberhentikan mobilnya di sebuah pameran buku yang ada di pusat pembelanjaan.
"Surprise...!!!" Seru kak Rangga. Tapi aku hanya bengong dengan mata kosong.
"Makasaih, Kak" Jawabku.
"Kamu kenapa sih? Kok kayak gak seneng gitu," balas Kak Rangga.
"Seneng Kok,"
"Em... Kakak tahu pasti kamu masih memikirkan cowok tadi kan?"
Aku tidak membalasnya, aku hanya menganggukan kepala dengan tubuh lemas.
"Caca..." Astuti menyapaku. Aku pun menoleh ke hadapannya.
"Astuti..." balasku lalu memeluk Astuti.
"Eh, Tumben kamu jalan sama Kakak kamu!" Sambil membalas pelukanku.
"Iya nih, aku di ajak Kak Rangga," balasku dengan lemas karena masih memekirkan Morgan, pasti Morgan berpikir banyak laki-laki yang aku dekati.
"Eh Ca, nih kenalin pacarku namanya Marsel. Marsel kenalin ini sahabatku Raisa dan ini Kakak Raisa namanya Rangga," Astuti memperkenalkan pacarnya padaku dengan Kak Rangga.
Aku, Kak Rangga, Astuti dan pacar Astuti berbincang-bincang di sebuah food coart dengan memesan makanan kesukaan masing-masing. Kami menceritakan semua tentang kehidupan masing-masing dengan terbuka. Akhirnya Astuti dan Kak Rangga sudah tahu kalau aku sudah menjadi janda.
***
Di Rumah Morgan
Malam hari Morgan membanting-bantingkan barang-barangnya yang ada di kamarnya, pikirannya ia merasa kecewa karena tak menyangka aku seorang perempuan yang ia pikir ahlaknya solihah jalan dengan banyak laki-laki.
__ADS_1
"Dasar murahan!" sambil membantingkan gelas yang ada di meja belajar.
Morgan sudah kehilangan kekuatannya untuk berdiri, ia menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas ranjang dengan meneteskan air matanya.
"Aku sangat mencuntaimu Raisa. Entah sejak kapan rasa ini mulai tumbuh, tapi aku sadar kamu mempunyai suami. Entak kenapa hati ini sangat marah ketika kamu sedang bersama laki-laki lain. Aku sangat mencintaimu Raisa, aku ingin kamu jadi milik**ku." dalam hati Morgan.
***
Keesokan harinya Morga pergi ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumahnya. Ia memesan secangkir kopi cappucino kesukaannya. Tak lama kemudian Morgan tak sengaja bertemu dengan Astuti yang waktu sekolah pernah jadi mantannya. Astuti sedang kencan bersama pacarnya Marsel.
"Morgan..." sapa Astuti pada Morgan yang sedang menyeruput kopi.
"Eh, Tut ngapain kamu di sini?" Tanya Morgan.
"Yah pacaran lah! Aku kan udah moveon dari kamu, tumben kamu sendirian pacar-pacar kamu mana?" ledek Astuti sambil duduk di dekat kursi Morgan.
"Udah tobat kali gak playboy lagi," jawab Morgan dengan cemberut.
"Duh, kemarin aku ketemu sama Raisa dan Kakaknya sekarang ketemu sama kamu,"
"Apa? Ma... Maksud kamu Kakak Raisa gimana?" Morgan terkejut dengan pembicaraan Astuti.
"Iya, kemaran di food coart aku ketemu Raisa sedang jalan sama Kakaknya..."
"Jadi kemarin yang jalan sama Raisa itu Kakaknya?" Morgan mendekat pada Astuti dengan raut wajah penasaran.
"Iya emang kenapa sih? Raisa itu kasihan tahu! Dia baru cerai sama suaminya,"
"Apa? Cerai?!"
"Iya, emang kenapa sih?"
Morgan tanpa basa-basi lagi ia langsung pergi meninggalkan Astuti dan pacarnya di cafe.
***Assalamuallaikum teman-teman yang setia ngikutin Novel Wanita Solihah Pujaan Hati....
Maaf ya akhir-akhir ini Wanita Solihah Pujaan Hati sudah jarang menemani hari-hari teman-teman semua di karenakan kesibukan di dunia nyata. Mohon pengertiannya ya teman-teman dan aku minta do'anya agar kesibukan di dunia nyata bisa cepet selesai dan bisa Crazy Up.
Makasih atas perhatiannya!
__ADS_1
Wassalamuallaikum***.