
Hafidzah terbangun dari tidurnya. Ketika Hafidzah membukakan matanya ia merabakan tangannya ke samping, ia tidak menemukan sosok Yusuf, lalu Hafidzah menoleh ke jam yang ada di dinding kamarnya, ternyata waktu baru menunjukan pukul 11.00 malam. Hafidzah bangkit dari tidurnya dan turun dari atas ranjang dan bergegas mencari Yusuf.
Ketika Hafidzah Keluar dari dalam kamar ia menemukan sosok Yusuf yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil menatap ka atas. Hafidzah heran kenapa Yusuf tidak menemaninya tidur di kamar.
"Aa..." Sapa Hafidzah dengan lembut.
Yusuf menolehnya "Iya istriku..." jawab Yusuf membalas senyuman Hafidzah.
"Kenapa Aa tidak tidur?" tanya Hafidzah lalu duduk di samping Yusuf.
"Gapapa sayang..." jawab Yusuf lalu masuk kedalam kamar tanpa mengajak Hafidzah.
Hafidzah yang melihat sikaf Yusuf yang dingin tentu saja sedih, ia tak tau apa yang harus dia lakukan.
"Aku tahu A, Aa seperti itu pasti sedang memikirkan Caca," gumam Hafidzah sambil meneteskan air mata.
Hafidzah bangkit dari sofa langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu mengambil widhu untuk melaksanakan Shalat Tahajud seperti biasa. Setelah Hafidzah melaksanakan Shalat Tahajud ia langsung mengangkatkan kedua tangannya untuk berdo'a.
"Ya Allah... Aku pasrah dengan semua takdirku, aku menerimanya dengan lapang dada. Ya Allah berikan aku kesabaran dalam menjalankan rumah tangga yang rumit ini. Aamiin..."
Setelah melaksanakan Shalat Tahazud ia langsung bergegas ke kamar dan naik ke atas ranjang untuk merebahkan tidurnya kembali.
Hafidzah melihat sosok Yusuf yang masih belum tidur juga danYusuf tidur dengan membelakangi Hafidzah.
"A, apakah aku harus mengiklaskan Aa nikah lagi?" batin Hafidzah sambil melihat punggung Yusuf.
Yusuf mendengar isakan tangis Hafidzah ia langsung membalikan badannya menghadap Hafidzah.
"Sayang, kamu nangis?" tanya Yusuf sambil mengusap air mata Hafidzah.
"Aku nangis karena bisa jadi istri Aa sang pujaan hati," Hafidzah terpaksa berbohong.
"Maafkan aku Hafidzah, selama ini aku belum bisa bahagiain Hafidzah..." sambil memeluk Hafidzah.
Air mata Hafidzah semakin deras mendengar perkataan Yusuf.
***
Di rumah sakit waktu merangkak ke arah angka 08.00 pagi. Aku terbangun karena merasakan lapar di dalam perutku saat membukakan mata aku di kejutkan oleh seorang sahabat yang sudah menungguku dari dini hari. Ia adalah Astuti.
"Tara! Aku datang!" Astuti mengejutkanku dengan teriakan khasnya.
"Ya ampun Del... bikin jantung aku copot tahu gak?" balasku dengan mengetok kepalanya.
"Hahaha! sorry aku baru sempet jenguk hari ini," ujar Astuti dengan memegangi punggung tanganku.
"gapapa, makasih ya..." balasku denga tersenyum.
"Eh Delia udah jenguk kamu belum?" tanya Astuti.
__ADS_1
"Udah, malahan dia yang pertama kali menyaksikan aku tertabrak mobil,"
"Masa?"
"Serius Tut! Kamu sih ngapel mulu..."
Ketiaka aku dan Astuti sedang berbincang-bincang kemudian Ayah dan Ibu memasuki ruangan perwatanku.
"Ca, barusan Ayah udah ngobrol sama Dokter katanya kamu udah bisa pulang hari ini..." kata Ayah sambil menuangkan makanan ke dalam piring.
"Ah yang bener Yah?" kataku sembil menoleh ke Ibu, ke Ayah lalu ke Astuti.
"Iya Ca, tadi dokter bilang setelah kamu sampai rumah nanti, kamu harus banyak istirahat..." sambung Ibu.
"Yes! aku bisa tidur lagi dikamar ku," aku kegirangan sambil mengepalkan kedua tanganku dan mengangkatnya ke atas.
"Selamat ya Ca..." sambil memelukku.
"Iya mamasih Tut," aku pun membalas pelukan Astuti.
***
Kini aku sudah kembali ke rumah, aku segera merebahkan tubuhku yang sangat lelah di atas sofa.
"Huh akhirnya aku di rumahku surgaku..." gumamku.
Sementara itu aku masih sedikit pusing dan kepalaku masih menggunakan perban. Aku tidak bisa membayangkan jika mobil itu menindas kepalaku aku sekarang pasti sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku bersyukur karena Allah telah memberikanku hidup lebih lama lagi meskipun tidak bersama Yusuf.
Ibu menghampiriku sembari membawa kotak obat di tanganna. Ibu yang tak mau melihat aku seperti ini coba menghiburku.
"Udah Caca sayang kamu jangan sedih! Nanti cantik Caca hilang..." goda Ibu sambil mengganti perban. Aku pun membalas dengan senyuman.
"Bu apakah aku akan berjodoh dengan Yusuf?" tanyaku.
"Kamu jangan mengharapkan apa-apa yang bukan menjadi milikmu...!" ujar Ibu sambil meninggalkanku di sofa.
Aku merasa bosan hanya duduk saja di sofa, kemudian aku masuk ke dalam kamar dan naik keatas ranjang untuk memainkan ponselku. Ketika aku memainkan ponsel, aku jadi teringat sosok Yusuf dan teringat pada pembicaraanku di rumah sakit "Yusuf menikahlah denganku" (dalam bayangan). Aku otomatis langsung mengirimkan pesan pada Yusuf untuk menanyakan kepastiannya.
Raisa : "Assalamuallaikum, Yusuf bagaimana keputusannya? Apa kamu udah memikirkannya? Apa kamu udah menanyakan pada istrimu? Apakah kamu udah mengambil keputusan untuk menjadikanku istri yang ke dua untukmu?" dalam pesan singkat.
Satu jam kemudian aku masih belum juga menerima balasana pesan singkat dari Yusuf. Aku merasa semakin yakin bahwa Yusuf memang sudah tidak mau lagi memperdulikanku dan memilih untuk tidak berpoligami.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 05.00 sore. Seperti biasa jam segini Hafidzah masak untuk mempersiapkan makan malam nanti. Tak lama kemudian ada suara ketukan pintu dari arah pintu depan.
Tok... Tok... Tok..
Hafidzah langsung menghampiri kearah pintu dan membukakan pintunya.
__ADS_1
"Assalamuallaikum," Yusuf mengucapkan salam sambil menyodorkan tangannya pada Hafidzah.
"Waalaikumsalam," sambil mencium punggung tangan Yusuf.
"Pelangi begitu indah terpancar dari wajah istriku wanita solihah pujaan hatiku." goda Yusuf sambil memegang kedua pipi Hafidzah lalu memeluknya.
"Ah Aa gombal," balaa Hafidzah lalu membawakan tas Yusuf kedalam rumah.
"Sepertinya ada yang harum nih dari arah dapur," ujar Yusuf sambil bergegas ke dapur.
"Iya A, untuk makan malam nanti," balas Hafidzah sambil meletakan tas Yusuf di atas meja sofa.
"Tapi aku udah lapar, kita makan sekarang aja yu!" ajak Yusuf.
Setelah selesai makan Yusuf bergegas kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh keringat. Yusuf lupa menaro ponselnya di atas meja makan.
Cling...
Suara notivilasi ponsel Yusuf tanda ada pesan masuk. Hafidzah yang sedang membereskan piring kotor ia menghampiri ponsel Yusuf lalu membaca pesan masuknya.
"Assalamuallaikum, Yusuf bagaimana keputusannya? Apa kamu udah memikirkannya? Apa kamu udah menanyakan pada istrimu? Apakah kamu udah mengambil keputusan untuk menjadikanku istri yang ke dua?"
Hafizah yang mambaca pesan dariku langsung menutup mulutnya dan tak terasa air mata Hafidzah mengalir deras di pipinya. Ia langsung masuk kedalam kamar dan naik ke atas ranjang ia menangis tersedu-sedu.
Yusuf yang keluar dari kamar mandi melihat sosok Hafidzah dengan mata bengkak seperti habis menangis.
"Kamu nangis?" tanya Yusuf.
"Sekarang Aa duduk di sini!" perintah Hafidzah serius.
"Kenapa?" tanya Yusuf heran.
"Aa masih mencintai Caca kan?" tanya Hafidzah to the point.
"Kenapa sih harus menanyakan itu?"
"Daripada Aa harus membohongi perasaan Aa terus, mendingan Aa sekarang menikah dengan Caca!" tiba-tiba Hafidzah menyuruh Yusuf menikahiku.
"Nggak, aku nggak akan menduakan mu..." tegas Yusuf.
"Tapi aku mohon A, menikahlah dengan Caca! aku iklas, daripada Aa harus seperti ini terus."
"Ta...ta...tapi..." Yusuf berusaha mencegah pembicaraan Hafidzah.
"Udah ini permintaanku, aku kasihan sama Caca, ia harus terus-terus tersakiti karena dia terlalu mencintaimu,"
"Nggak mau, aku Nggak mau..."
"Ayolah! Aku mohon, aku iklas walau harus membagi perhatian Aa ke Caca,"
__ADS_1
Yusuf menundukan kepalanya, ia tidak menjawab lagi perkataan Hafidzah, ia langsung pergi meninggalkan Hafidzah untuk menenangkan diri.