
Waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam. Seluruh keluarga pun sudah kembali ke kampung halamannya masing-masing. Aku yang kini telah sah menjadi istri Yusuf langsung di bawa ke rumah Yusuf satu rumah bersama Hafidzah di Cianjur. Awalnya aku menolak harus satu rumah dengan Hafidzah tapi aku merasa kasihan pada Yusuf yang harus bulak-balik Cianjur-Bandung.
Perjalanan Cianjur menuju Bandung kurang lebih menempuh jarak dua jam, kini waktu sudah menunjukan pukul 10.00 malam itu artinya sudah tiba di kediaman Yusuf.
Setibanya di rumah Yusuf aku langsung di antar Yusuf untuk memilih kamar yang akan menjadi tempat tidurku dengan Yusuf.
"Caca ini akan menjadi kamarmu, aku akan tidur dua hari denganmu dan dua hari dengan Hafidzah dan malam ini adalah malam bersejarah buat kita, aku akan tidur bersamamu," ujar Yusuf sambil memegang pipiku.
"Iya Yusuf," kataku.
"Sekarang kamu mandi! aku mau ke kamar Hafidzah dulu..." katanya lalu pergi.
"..." aku menganggukan kepala tanda mengerti.
Ketika Yusuf masuk ke dalam kamar Hafidzah, Yusuf melihat Hafidzah sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia melihat Hafidzah sedang terisak-isak tangis, Yusuf langsung menghampiri Hafidzah.
"Hafidzah..." sapa Yusuf sambil membangunkan tubuh Hafidzah dengan kedua tangannya.
Hafidzah kaget mendengar sapaan Yusuf yang secara tiba-tiba, ia langsung mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
"Iya A..." balas Hafidzah menunduk.
"Malam ini Aa mau tidur bersama Caca dulu," ujar Yusuf lalu memeluk Hafidzah.
"Iya A, semoga lancar..." balas Hafidzah.
__ADS_1
"Maafkan Aa ya!"
"..." Hafidzah menganggukan kepalanya tanda memaafkan.
Setelah Yusuf pergi dari kamar Hafidzah, air mata Hafidzah langsung mengalir deras di pipinya.
"Hikz... hikz... hikz... Ya Allah bantu aku untuk menghilangkan rasa sakit yang menguasai hati ini dan jadikan lah aku istri yang ikhlas di madu seperti istri-istri Rasulullah yang tak pernah merasakan rasa sakit, Ya Allah aku ikhlas karena yang aku harapkan saat ini adalah keridhoan-Mu...
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُوْلِ الله كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُوْلِ اللهِ إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهَا
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebut dan menyanjungnya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5229 dan Muslim no. 2435)
"Semoga Aa Yusuf bisa berlaku adil pada istri-istrinya Aamiin..." batin Hafidzah.
Dengan gemercik hujan membasahi bumi ini di tambah udara yang dingin seakan-akan dunia mendukung malam bersejarah ini.
Yusuf tersenyum melihat tingkah tidurku dengan memangapkan mulutku, Yusuf langsung naik ke atas ranjang untuk membangunkanku.
"Istriku..." sapa Yusuf sambil membelai rambutku.
Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku lalu mengusap kedua mataku dengan kedua tanganku berusaha terbangun dari tidurku. Setelah aku membukakan mataku, aku melihat sosok Yusuf di depan mataku sedang memandangiku.
"Yusuf, maaf aku ketiduran..." kataku sambil bangkit dari tidurku.
__ADS_1
"Kamu pasti kelelahan karena acara pernikahan tadi kan? kalau kamu belum siap untuk bercinta aku nggak akan maksa, sekarang lanjutkan tidurmu!" perintah Yusuf.
"Nggak ko Suf, aku siap," balasku dengan tersenyum.
Yusuf selalu mendalami pikirannya ketika mau melakukan percintaan dengan istrinua, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk malam yang bersejarahnya agar istrinya tidak kecewa.
Ketika Yusuf akan memulai percintaannya ia teringat pada Hafidzah mungkin saja Hafidzah sedang menangis, Yusuf menghembuskan napasnya dari mulut lalu memulai percintaannya.
Sementara itu Hafidzah sedang berbaring di atas ranjang, ia teringat pada Yusuf yang kini sedang bersamaku.
"Duhai Sang Pencipta betapa rindunya hati ini yang tak tahu ujungnya..." batin Hafidzah.
***
Keesokan harinya Hafidzah terbangun dari tidurnya sangat pagi, Hafidzah menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Tak lama kemudian Adzan berkumandang di angkasa tanda telah memasuki waktu subuh. Ketika Hafidzah mendengar adzan Hafidzah langsung bergegas menuju kamarku untuk membangunkanku dengan Yusuf.
Tok... Tok... Tok...
Hafidzah mengetuk pintu kamarku.
"A Yusuf! Mbak Caca!" Hafidzah berteriak membangunkanku dengan Yusuf.
Aku bersama Yusuf langsung bergegas memakai baju lalu membukakan pintunya. Ketika Yusuf membukakan pintunya Yusuf melihat sosok Hafidzah di hadapannya, ada rasa kagum terbersit di hati Yusuf karena mana ada seoarang istri yang di poligami ingin membangunkan istri kedua suaminya dan mempersiapkan sarapan dan segala kebutuhannya.
"Saya sudah masak A, sekarang Aa sama Mbak Caca mandi! Setelah mandi Shalat Subuh dan jika semuanya sudah beres aku tunggu di meja makan!" perintah Hafidzah lalu pergi.
__ADS_1
Ketika Hafidzah akan beranjak pergi ke dapur, Yusuf menahan Hafidzah lalu menciumnya.
Yusuf merasa ada kecemburuan dariku, ia tak mau ada salah satu istri yang merasa kurang kasih sayang, ia membalikan tubuhku dengan kedua tangannya lalu menciumku.