Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 49 - Lamaran Kak Rangga


__ADS_3

Setelah penampilanku rapi, aku pun langsung keluar dan bergegas untuk ke acara lamarannya Kak Rangga. Aku tak sabar melihat seperti apa wajah cantik calon Kakak iparku.


"Wah Kak Rangga tampan banget!" ucapku pada Kak Rangga yang sedang memasang dasi di depan cermin..


"Iya donk! Kakak harus memberikan penampilan yang terbaik di depan calon Kakak?" balas Kak Rangga dengan senyum.


"Cantik gak?" tanyaku penasaran.


"Nanti kamu juga tahu sendiri,"


"Emang siapa sih? Memangnya aku kenal?"


"..." Kak Rangga mengangguk.


Dua puluh lima menit kemudian aku telah sampai di kediaman calon Kak Rangga. Aku berangkat bersama Ibu dan Kak Rangga. Sesampainya di sana ku lihat ada seseorang yang sangat tidak asing lagi yaitu Delia sahabatku. Ibu menghampiri Ibu nya Delia dan aku pun menghampiri Delia yang sedang menghidangkan makanan di atas meja kedalam mangkok.


"Delia..." Delia sepontan menoleh kehadapanku.


"Caca!" seru Delia. Aku dengan Delia sepontan berpelukan.


"Kak yang mana calon Kakak?" tanyaku tak sabar ingin mengetahui calon Kak Rangga.


"Ini..." balas Kak Rangga sambil memegangi bahu Delia.


Aku yang mendengar bahwa calon istri Kak Rangga adalah Delia tentu saja kaget sekaligus bahagia karena Delia sahabatku akan menjadi Kakak iparku.


"Wah selamat ya! Aku gak nyangka kalau kamu itu sama Kakakku, semoga lancar sampai hari H!" seruku seraya memeluk Delia.


"Makasih ya..." ucap Delia dalam pelukanku.


"Yang akur!" ucap Kak Rangga.


***


Suara ayam berkokok bersahut-sahutan menunjukan jika hari telah pagi, Hafidzah masih memeluk guling dengan kedua tangannya dengan masih tertidur lelap.


"Sayang kamu belum bangun?" ucap yusuf sambil mengusapi helai demi helai rambut Hafidzah membuat Hafidzah kaget ia membalikan tibuhnya ke arah Yusuf yang sedang duduk di sampingnya.


"Astagfirullahaladzim! Aku kesiangan ya?" Hafidzah sepontan bangkit dari tidurnya seraya mencari jam dinding.


"Enggak kok, kamu nggak kesiangan..." balas Yusuf.


"Jam berapa sekarang? Aa tumben bangun duluan?" tanya Hafidzah sambil terus memutar matanya mencari jam dinding.


"Masih pukul empat ko sayang, hemmm tadi aku mendengar gemercik air dari luar sepertinya hujannya deras banget," ucap Yusuf seraya membereskan tempat tidur mereka.


"Eh nggak usah biar aku aja!"


Setelah itu seperti biasa Hafidzah langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu kembali keluar dari kamar mandi untuk melaksanakan shalat tahazud. Tak lama kemudian Hafidzah bermuro'jaah untuk memantapkan Hafalannya karena Hafidzah adalah seorang Hafiz Qur'an.


Tiga puluh menit kemudian suara adzan berkumandang di angkasa bersahut-sahutan di tambah suara ayam berkokok menandakan fajar mulai terbit. Subuh ini ada sedikit berbeda Hafidzah melaksanakan shalat subuh berjama'ah dengan Yusuf karena di luar sedang hujan deras di tambah Yusuf baru di apartemen itu belum tahu letak masjid dimana.


Setelah memasak Hafidzah langsung menuju kamar untuk mengajak Yusuf sarapan bersama. Namun baru saja Hafidzah akan mengetuk pintu Yusuf sudah terlebih dahulu keluar.

__ADS_1


"Aa sarapan sudah siap, kita makan sekarang!" ucap Hafidzah seraya tersenyum.


"Pagi sekali," balas Yusuf heran.


"Ya, kan hari ini Aa hari opening perpustakaan buku-buku Aa, Aa harus sarapan yang banyak biar kuat!" ucap Hafidzah sambil memasukan sayur bayam ke mangkuk.


"Kamu itu ya, udah baik, cantik, jago masak, solihah, santun, lembut. Pokoknya ferpect deh!" puji Yusuf sambil duduk di kursi meja makan.


"Ah Aa bisa aja hehe! Kesempurnaan hanya milik Allah,"


***


Di sebuah perusahaan ternama yang di miliki Morgan, Morgan sedang duduk di sebuah meja kerjanya sambil memainkan laptopnya tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Morgan menoleh kearah pintu lalu mempersilahkan karyawannya masuk.


"Rey, mulai sekarang kamu menjadi menejer saya, untuk jabatan yang lama kamu bisa rekrut orang untuk menggantikanmu," ucap Morgan pada Rey yang sekarang pindah jadi sekretaris menjadi menejer.


"Ah yang bener, Gan?" tanya Rey terkejut.


"Serius, karena kamu sahabatuku aku naikan jabatan kamu, kamu harus jaga kepercayaan aku ya! Jangan sampai mengecewakanku!"


"Baik Bosku, kalau begitu saya permisi mau membuka lowongan kerja untuk menggantikanku,"


"Baik..."


Rey keluar dari ruangan Morgan dengan wajah berseri-seri karena ia telah di naikan jabatannya.


Rey Brandon adalah sahabat Morgan dari jaman Morgan masih sekolah namun berbeda tempat sekolah. Rey adalah orang yang sangat di percayai oleh Morgan dari mulai pekerjaan sampai kehidupan pribadi Morgan ia tahu.


"Kok Morgan matanya sembab ya? Kayak habis nangis tuh orang, tapi masa laki-laki nangis sih, bukan Morgan banget..." batin Morgan sambil keluar dari ruangan Morgan.


"Semuanya tentang kenyataan,


Kenyataan bahwa kita berbeda


Kita berbeda karena kita taksama


Kita terpaut


Kita berbeda jauh.


Karena kita bertuhan taksama


Cinta kita terlarang


Hanya karena iman di ceruk dada.


Kita tidak bisa bersama 


Kalung salibku berbeda dengan kalung tasbihmu.


Kitabku berbeda dengan kitabmu


Tuhanku berbeda dengan Tuhanmu.

__ADS_1


Sejauh itu kita berbeda


Bukankah harusnya perbedaan bisa di satukan dengan cinta?


Karena cinta menyatukan perbedaan.


Haruskah kita berpisah?


Meski cinta di hati enggan pergi


Meski perbedaan membelenggu kita


Haruskah kita mendustakan cinta."


(karya Rayhandi)


Morgan terus menggerutu dalam hatinya ia ingin sekali aku menjadi miliknya, namun perbedaan keyakinan yang menghalangi kami.


***


Malam hari setelah selesai shalat isya aku berkumpul di sopa ruang tamu bersama Ibu dan Kak Rangga.


"Bu, kalau aku mencintai orang yang berbeda agama apakah dosa?" tanyaku pelan-pelan.


"Ya dosa lah! Kan kamu tahu sendiri hadisnya," balas Ibu kaget.


"Emang siapa sih?" tanya Kak Rangga penasaran sambil menyeruput kopi.


"Namanya Morgan Bu, Ia baik, sopan dan santun. Awalnya aku dekat dengannya, namun setelah aku tahu kalau dia non muslim aku jadi jauh. Mungkin Morgan hanya angan-anganku saja. Aku kira Morgan akan menjadi pengganti Yusuf," ujarku pada Ibu dan Kak Rangga.


"Ibu pesan sama kamu, kalau kamu mencari pasangan itu harus seiman dengan kita! Ibu nggak akan ngelarang kamu dengan siapa saja yang penting satu keyakinan," balas Ibu.


"Aku patah hati yang kedua kalinya..." balasku dengan lirih kemudian sepontan berderai air mata.


"Bukannya di dalam Al-Qur'an (QS: Al-Mumtahanah 10). di jelaskan:


لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ


Mereka (wanita-wanita Muslimah) tiada halal bagi orang-orang non-Muslim itu dan orang-orang non Muslim itu tiada halal pula bagi mereka,"


"Laki-laki masih banyak kali!" sindir Kak Rangga.


"Semoga aku bisa melupakan Morgan..." ucapku dengan lemas.


"Kamu bisa sayang, semangat!"


"Makasih ya, Bu" aku pun sepontan memeluk Ibu.


"Iya jangan sedih gitu donk!"


Aku pun yang mendengar perkataan Ibu langsung menghapus air mata dengan kedua tanganku.


"Oya Kak, kapan acara pernikahan Kakak sama Delia?" tanyaku mengalihkan pembicataan.

__ADS_1


"Bulan depan," balas Kak Rangga singkat.


"Yey...! Aku punya Kakak baru...!"


__ADS_2