
Hari ini hari minggu. Dimana hari yang sangat di tunggu-tunggu kaum pejuang rupiah. Hari minggu adalah hari yang sangat tenang untuk merebahkan tubuh di ranjang. Hari minggu adalah hari yang pas untuk liburan.
Pagi itu aku langsung bergegas memakai sepetu, memakai jam tangan, memakai celana olahraga dan bergegas lari pagi di taman.
Sesampainya di taman aku bertabrakan dengan seorang laki-laki yang sama-sama lari pagi. Setelah aku terjatuh laki-laki itu menyodorkan tangannya untuk membantuku bangkit dari terjatuh. Setelah aku menoleh ke arah laki-laki itu ternyata dia adalah Satria. Aku yang melihat Satria tentu saja kaget melihat Satria tiba-tiba ada di hadapanku. Satria tersenyum sambil menyodorkan tangannya. aku hanya menepiskan tangannya dan bangkit sendiri.
"Ek...Kak...Kak Satria?" kataku gugup.
"Iya... ini aku." sambil tersenyum dan memerah.
"Kak Satria kapan pulang ke Indonesia?" tanyaku penasaran.
"Kemarin. Eh kamu gimana kabarnya, Raisa?" tanya Satria.
"Baik Kak," Balasku simple.
Hari itu aku langsung mengingat waktu pas Satria nembak aku, aku berjanji padanya bahwa aku akan menerima cintanya pas Satria pulang dari Korea. Kini waktu sudah tiba dan aku harus menepati janji itu.
"Bagaimana ini. Aku sudah ta'aruf dengan Yusuf?" Batin aku.
Membayangkan kejadian masalalu.
"Kak Satria...? kemari pas liburan aku menolak Kakak itu bukan karena aku gak suka sama kakak, aku hanya tidak mau pacaran. Sekarang Kakak kejar cita-cita setinggi langit!" aku berusaha menenangkan Satria.
"Ta...tapi, Raisa...?" Satria berusaha memotong pembicaraanku.
"Dengarkan aku...! Sekarang setelah kakak lulus nanti... Kakak harus ke Korea dengan tidak memikirkan aku. Nanti setelah Kakak lulus kuliah jika kita Jodoh bisa langsung datang ke keluargaku !" (Dalam bayangan. bisa dilihat di Episode Graduations part 1)
Kembali ke Hari ini.
"Halo...?"
"Raisa...?" kata Satria melambaikan tangannya di depan wajahku karena aku bengong.
"I...iya Kak?" kataku gugup.
"Hihihi kenapa... kok bengong?" kata Satria heran sambil mencubit bahuku.
"Enggak Kak. Oh ya Kak aku pulang dulu ya di cariin Ibu," kataku terburu-buru karena takut Satria menanyakan kejadian di masa lalu.
"Loh, kok buru-buru?" tanya Satria heran.
"Dah Kak, Assalamuallaikum?" aku langsung pergi.
"Et... tapi...tapi! Waalaikumsalam."
Satria menghembuskan napasnya secara kasar.
__ADS_1
"Kenapa dia buru-buru sih? padahal aku belum meminta nomor ponselnya." batin Satria.
Saat itu aku terus berlari sampai-sampai aku tabrakan lagi dengan seorang laki-laki lagi.
"Brug..." aku terjatuh lagi dan aku tak berani menatap laki-laki itu karena takut kalau yang menabrak itu Satria lagi.
"Raisa?" laki-laki itu menyapaku, tapi aku tidak melihatnya, aku hanya langsung pergi. Tetapi laki-laki itu menahanku.
"Raisa ini aku Yusuf. Kenapa kamu seperti yang ketakutan gitu sih?" ternyata yang menabraku itu adalah Yusuf. Aku semakin ketakutan dan aku langsung menarik tanganannya kemudian berlari bersamanya secepata mungkin.
Aku dan Yusuf sudah berlari terlalu jauh. Kemudian aku dengan Yusuf duduk dibawah pohon besar dan jauh dari keramaian. Aku berharap Satria tidak melihatku dan Yusuf tidak curiga kenapa aku lari-lari.
"Kenapa kamu lari-lari sih, ada apa?!" tanya Yusuf penasaran.
"Ta..tadi aku di gangguin penjahat kemudian aku lari mengindarinya, eh mereka malah ngejar-ngejar aku," terpaksa aku berbohong pada Yusuf.
"Mana penjahatnya?" kata Yusuf.
"Di taman tadi," kataku sambil ngos-ngosan.
"Kamu tunggu di sini biar aku kasih pelajaran!" kata Yusuf sambil berdiri akan menyusul penjahat itu.
"Ej...ja...jangan!" kataku gugup.
"Kenapa?" tanya Yusuf.
"Udah gapapa!" kataku.
"Gapapa kok, Yusuf," balasku sambil tersenyim bahagia.
"Yasudah kita pulang yu?!" kata Yusuf mengajakku pulang.
Sesampainya aku di rumah aku langsung merebahkan tubuhku di sopa da melihat jam dinding telah menunjukan pukul 10.05 pagi. Aku teringat kejadian tadi pagi pas bertemu dengan Satria. Tubuhku semakin gemeteran. Aku langsung mengeluarkan ponsel dari saku kananku dan menelepon Delia sahabatku.
Raisa : "Assalamuallaikum, Del?"
Delia : "Waalaikumsalam, Ca?"
Raisa : "Del aku mau curhat nih, penting?!"
Delia : "Ya elah.. ketibang curhat aja... biasanya juga langsung di omongin,"
Raisa : "Tapi Del ini beda. Hari ini kamu bisa main ke sini, gak?"
Delia : " Yaudah... yaudah... aku kesana setelah Shalat Dzuhur.
Raisa : "Oke Del, makasih... emmmmuachhh...."
__ADS_1
Delia : "Lebay kamu Ca, pake sun-sun segala,"
Raisa : "Dah... Assalamualaikum?"
Delia : "Waalaikumsalam."
Setelah aku menutup sambungan telepon Delia aku langsung bergegas ke dapur untuk masak banyak karena Delia akan datang. Aku juga tak lupa Chat Astuti untuk datang juga karena Astuti adalah Sahabatku juga.
Ketika aku masuk dapur di situ ada Kak rangga sedang masak telor ceplok.
"Lagi ngapain, Kak?" tanyaku basa-basi.
"Kamu gak lihat apa, aku sedanga apa?" kata Kak Rangga sewot.
"Ia..ia tahu. Sewot banget sih," kataku sambil cemberut.
"Kamu sendiri ngapain kedapur?" tanta Kak Rangga balik.
"Ya mau masak, soalnya teman-teman aku mau kerumah hari ini," kataku.
"Ah yang bener?" tanya Kak Rangga.
"Iya." balasku simple.
"Cantik-cantik, gak?" tanya Kak Rangga mulai genit.
"Ya Cantik-cantik lah, aku gak punya teman jelek." kataku kesal.
Setelah sekian banyak aku memasak di dapur tak lama kemudian bel berbunyi tanda Astuti dan Delia datang. Aku langsung mengajak Delia dan Astuti mengajak makan siang di meja makan.
Setelah makan aku langsung membawa teman-teman ke sopa untuk berbincang-bincang.
"Gimana, Ca?" tanya Delia to the point karena terlalu penasaran.
"Tadi aku ketemu sama Satria plus dengan Yusuf." aku langsung menceritakan kejadian tadi pagi ke Delia dan Astuti.
"Ah yang bener, kok bisa?" tanya Astuti penasaran.
"Iya aku juga gak tahu."
"Terus-terus!" Delia penasaran dengan kelanjutannya.
"Tadi pas lari pagi di taman belakang aku bertabrakan dengan seorang laki-laki. Pas laki-laki itu menyodorkan tangannya aku melihat ke wajahnya dan ternyata yang aku lihat adalah Satria. Satria biasa nanya-nanya kabar. Setelah aku selesai ngobrol dengannya, aku langsung lari-lari dan ketika aku lari-lari aku bertabrakan lagi dengan Yusuf. Gila gak tuh? kalian pasti tahu lah perasaan aku pas itu bagaimana?" kataku menceritakan panjang lebar ke Astuti dan Delia.
Setelah selesai berbincang-bincang Delia dan Astuti pamit pulang dengan menaiki kendaraannta masing-masing. Kemudian aku masuk dan masuk ke kamar untuk merebahkan tubuhku di ranjang.
"Huuhhhh...?" aku menghembuskan napas secara kasar.
__ADS_1
"Bagaimana ini, kenapa Satria bisa datang ke Indonesia secepat itu?" batinku.
Aku langsung memejamkan mata dan tertidur.