
Di sebuah gedung penerbitan buku,terlihat beberapa orang yang sedang berbincang membicararakan Yusuf dari kejauhan, terlihat sindiran-sindiran yang membuat Yusuf menjadi down.
"Tuh lihat! mentang-mentang istrinya punya dua, sombong kali..." sindiran dari dua pemuda yang sedang menyeruput kopi di sopa dekat ruang informasi.
"Enak banget ya punya istri dua!" suara sindiran dari karyawan di ruangan informasi.
"Rakus banget punya istri dua!"
Yusuf sebenarnya hatinya geram mendengar sindiran-sindiran dari orang-orang. Tapi Yusuf berusaha sabar agar tidak terpancing emosi.
Sesampainya di ruangan meeting terlihat delapan orang sesama penulis sedang menunggunya, ia merasa canggung karena datang terlambat.
"Maaf saya terlambat..." kata Yusuf sambil duduk di kursi paling pojok.
"Ya pasti telat lah kan ngurus istrinya juga dua, hahaha!" suara celetukan salah satu penulis kemudian semua tertawa.
Yusuf hanya menghembuskan napasnya secara kasar dan berusaha propesional.
Meeting pun di mulai, Pak Maksun salah satu penulis memulai pembicaraannya kemudian bergantian dengan yang lain. Mereka membicarakan pengalaman selama menjadi author sehingga bisa menjadi Penulis hebat seperti saat ini. Mereka sharing bagaimana mereka mulai berkarya dari nol. Intinya dalam meeting tersebut kita harus meningkatkan karya-karya yang akan di buat selanjutnya.
Akhirnya meeting berakhir semua clien dan semua author pamit pulang.
Pada malam hari aku menunggu Yusuf hingga larut malam, aku menunggunya sendirian karena Hafidzah belum pulang dari pesantren. Cahaya lampu rumah Yusuf mengisi seluruh ruangan malam yang telah larut ini aku hanya memandangi foto pernikahanku dengan Yusuf.
Tak lama kemudian suara ponselku bergetar dari meja tamu tanda ada pesan masuk. Aku yang duduk di kursi pun segera mengambil ponsel itu dan duduk kembali ke kursi itu lalu membaca pesan singkat.
Morgan : "Hallo cantik,"
Raisa : "Kamu lagi..."
Morgan : "Jangan jutek gitu donk! Besok ketemu yuk!"
Raisa : "Nggak!"
Morgan : "Ya udah kalau gak mau, aku yang kerumahmu aja ya?!"
Raisa : "Ja... Jangan!"
Morgan : "Ya udah... aku tunggu di tempat kemari dekat car free day, ya!"
Raisa : "Aku gak mau,"
setelah aku membalas pesan terakhir ponsel Morgan di matikan karena terlihat di dalam pesan itu hanya terdapat ceklis satu. Aku semakin bingung apa yang harus aku lakukan.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar dari arah pintu depan, aku pun bergegas untuk membukakan pintu itu.
"Assalamuallaikum, istriku..."
"Waalaikumsalam, Suf..." dengan suara lirih sambil mencium punggung tangan Yusuf.
"Kenapa?" tanya Yusuf sambil memegangi rambutku.
"Nggak," balasku sambil menunduk.
"Hafidzah belum pulang?" tanya Yusuf sambil menengok kiri kanan.
"Belum katanya ada acara di pesantren jadi pulang besok," ujar ku sambil menyiapkan kopi untuk Yusuf.
"Oh jalau begitu malam ini aku tidur sama kamu, aku mau bercinta sama kamu, kamu hebat permainannya..." ujar Yusuf sambil tertawa nakal.
"Emang Hafidzah gak hebat ya?" tanyaku sambil menyodorkan kopi untuk Yusuf.
__ADS_1
***
Keesokan harinya seperti biasa karena tidak ada Hafidzah aku bangun sangat pagi untuk menyiapkan sarapan. Setelah sarapan sudah siap aku langsung membangunkan Yusuf untuk Shalat berjama'ah.
Pagi itu setelah Shalat berjamaah selesai dan semua pekerjaan rumah selesai aku bersama Yusuf duduk berhadap-hadapan di meja makan untuk sarapan.
"Sayang, siang ini jalan-jalan yuk!" ajak Yusuf semangat.
Aku yang mendengar ajakan dari Yusuf tidak langsung menjawab, aku hanya menunuduk sembari melanjutkan makan karena teringat dengan ajakan Morgan. Jika aku menolak ajakan Morgan, Morgan akan datang ke rumah ini dan akan membuat rumah tangga menjadi kacau.
"Kenapa kamu diam aja sih?" tanya Yusuf.
Yusuf merasa ada yang tidak beres dengan sikapku hari ini.
"Assalamuallaikum," suara ucapan salam dari arah pintu depan.
"Waalaikumsalam," aku dan Yusuf mengucapkan salam serentak.
Ternyata yang datang adalah Hafidzah. Hafidzah menghampiriku barsama Yusuf di meja makan sambil menyodorkan tangannya.
"Kamu sudah pulang?" kata Yusuf sambil mencium kening Hafidzah.
"Iya, wah sarapan udah jadi nih!" seru Hafidzah langsung menyantap pasakanku.
"Nah! Kebetulan sekarang kamu datang Zah..." kataku. Aku mulai mempunyai cara agar aku bisa bertemu dengan Morgan.
"Emang kenapa, Mbak?" tanya Hafidzah penasaran.
"Yusuf jalan-jalannya sama Hafidzah! Aku ada janji sama Delia dan Astuti," aku terpaksa berbohong.
"Oh, jadi dari tadi kamu gelisah karena ada janji sama temen-temen kamu?" kata Yusuf sambil memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Iya, hehe..." aku tersenyum malu.
Dalam pesan singkat.
Raisa : "Del bantu aku donk!"
Delia : "Emang kenapa sih?"
Raisa : "Udah sekarang kamu jemput aku dulu! Nanti aku ceritain,"
Delia : "Kapan?"
Raisa : "Sekarang juga!"
Delia : "Yaudah, oke..."
Tak lama kemudian Delia datang menjemput aku.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamuallaikum," Delia mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," Hafidzah membukakan pintu.
"Oh jadi ini istri pertama si Yusif," batin Delia.
"Ayo masuk, Mbak!" ajak Hafidzah.
"Makasih..." lalu Delia masuk.
"Siapa Zah?" tanya Yusuf yang sedang membaca koran di sopa ruang tamu.
__ADS_1
"Ini temannya Mbak Caca, A" balas Hafidzah.
Setelah itu aku dan Delia langsung bergegas pergi ketempat dimana aku dengan Morgan bertemu. Sesampainya di tempat itu, aku tak menyangka Morgan sudah menungguku dari tadi.
"Akhirnya kamu datang juga..."
"Kamu nunggu lama ya?"
"Nggak baru aja," Morgan tidak berhenti menatapku.
"Kamu kenapa sih? Liatin aku sampai segitunya..."
"Kamu cantik..."
Delia yang melihat tingkah Morgan merasa keheranan. Delia langsung menariku dari tempat itu ketempat sepi.
"Apaan sih, Del?" sambil melepaskan tarikan tangan Delia.
"Kamu sudah gila ya?"
"Apaan sih!" kataku merasa heran.
"Kamu itu udah punya suami, ngapain sih ketemu sama si Morgan? Apa kamu ada hubungan spesial sama dia?" tanya Delia emosi.
"Nggak, dengerin aku dulu!"
"Udah lah Ca! Aku kecewa sama kamu!" Delia langsung meninggalkan aku.
"Del! Del! Dengerin aku dulu!"
Morgan langsung menghampiri aku.
"Ada apa sih?" tanya Morgan.
"Kamu sih! Delia jadi mikir yang nggak-nggak,"
"..." Morgan tidak menjawab.
"Emangnya kamu mau ngapain sih?" kataku dengan nada lirih.
Seorang pemuda tampan dengan stelan jas yang menunjang penampilanya itu mulai mengutarakan niatnya bertemu denganku. Pikirannya kali ini ia tak mau gagal untuk mengungkapkan rasa cintanya kepadaku.
Sampai saat ini Morgan belum tahu bahwa aku sudah mempunyai suami, ia hanya fokus kedalam niatnya untuk menjadikanku belahan jiwanya.
Dengan kicawan burung di angkasa di lengkapi sang mentari yang bersinar di langit belum begitu panas menghangatkan jiwa pemuda yang bernama Morgan itu jatuh cinta.
Aku bersama morgan di kursi trotoar di pinggir jalan yang setiap minggu di adakan car free day.
"Raisa..." tanya morgan sedikit gugup.
"Apa?"
"A... aku me..."
"Apa?"
"Aku mencintaimu..."
Aku yang mendengar ungkapan cinta dari Morgan tentu saja kaget. Aku pun merasa ada yang tidak beres di dalam diriku kenapa dari semenjak Morgan mengungkapkan itu ada getaran-getaran yang tak pernah aku rasakan sebelumnya bersama Yusuf.
Aku tak mau berlama-lama di sana, aku sadar aku sudah mempunyai suami meskipun di madu, aku langsung pergi meninggalkan Morgan di tempat itu sendirian.
"Raisa! Raisa!" Morgan berteriak memanggilku.
__ADS_1