
Morgan melangkahkan kakinya menuju lift. Ia segera memasuki lift lantai teratas dimana ruangan Morgan bertugas. Tak lama kemudian lift sudah berhenti di atas dan pintu lift pun terbuka dan Morgan segera keluar lalu menuju ruangannya. Ketika Morgan hendak memasuki ruangannya ternyata Rey sudah ada di ruangan Morgan sedang menunggunya.
Morgan menghampiri Rey yang sedang duduk di sopa dekat kursi dimana Morgan bekerja.
“Kenapa kamu pagi-pagi sudah di ruanganku?” tanya Morgan pada Rey.
“Ya aku penasaran aja dengan gosip-gosip yang beredar tentang kamu,”balas Rey seraya menyeruput susu dalam gelas.
“Gosip apa?” tanya Morgan penasaran seraya mengeryitkan bulu alis yang sebelah kanannya.
“Menurut gossip yang beredar kamu sekarang sudah mu’alaf!” ucap Rey.
“Iya,” balas Morgan singkat.
“Ah yang bener?” tanya Rey penasarn.
“Iya karena itu sudah menjadi keputusanku,” sambung Morgan.
“Itu bukan karena Raisa, kan?”
“Itu murni dari hati yang paling dalam.”
****
Hari Minggu adalah hari dimana aku bisa merebahkan tubuhku sepuasnya. Namun suara pemuda yang tak asing lagi aku dengar membuat diriku menyudahi bersantaiku. Aku bangkit dari tempat dudukku lalu menoleh ke arah sumber suara itu dan menghampirinya.
“Morgan…” Sapaku pada Morgan.
“Assalamuallaikum…” ucap salam Morgan padaku dengan suara lembut.
“Waalaikumsalam…” balasku seraya tersenyum.
“Ada apa?” tanyaku penasaran sambil mempersilahkan Morgan masuk.
“Aku mau mengajak kamu ke rumahku lagi untuk menemui Ibuku!” ajak Morgan.
“…” aku tidak menjawab karena aku takut akan hal yang sudah akan terulang lagi.
__ADS_1
“Kenapa?”
“…” aku masih diam.
“Kamu takut Ibuku bersikaf seperti kemarin lagi?” tanya Morgan seraya akan memegang pipiku tetapi aku menepiskannya karena belum muhrim.
“…” aku masih tidak menjawab namun mengangguk beberapa kali.
“Kita berjuang sama-sama!” tegas Morgan.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku segera masuk ke kamarku dan mengganti pakaian. Aku memakai gamis berwarna hijau muda dan memakai khimar hitam. Ketika aku keluar dari kamar, tiba-tiba Ibu menghampiri Morgan yang sedang duduk di sopa ruang tamu.
“Morgan…” sapa Ibu pada Morgan seraya tersenyum.
“Eh Tante, Assalamuallaikum…” ucap salam Morgan pada Ibu.
“Waalaikumsalam, eh, mau pada kemana ini?” tanya Ibu penasaran.
“Tan, Morgan pinjam anaknya dulu, ya?!” ucap Morgan pada Ibu.
“Iya, tapi harus ingat waktu, ya!” ucap Ibu.
“Assalamuallaiku…” ucap salam aku dan Morgan kompak.
Dua puluh menit kemudian Aku bersama Morgan tiba di depan garasi rumah Morgan. Kemudian aku bersama Morgan turun dari Mobil Morgan. Hatiku bergetar tak karuan karena rasa ada trauma dengan sikaf Bu Angel tempo hari.
Melihat rumah Morgan di depan mata membuat aku menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Tak lama kemudian Bu Angel keluar dari dalam rumah karena mendengar suara kelakson Mobil Morgan.
“Jangan takut kan ada aku!” ucap Morgan seraya tersenym.
“Bismillahirohmanirohim…” ucapku dalam hati.
Baru saja Bu Angel mendekatiku bersama Morgan, namut matanya menatapku dengan tajam.
“Morgan!” sapa Bu Angel dengan nada tinggi.
“Iya, Bu” balas Morgan lembut.
__ADS_1
“Kenapa kamu membawa perempuan ini kesini lagi?!” ucap Bu Angel lagi.
“Aku mau meminta izin pada Ibu kalau aku akan melamar Raisa!” ucap Morgan tegas.
“APA?!!!” Bu Angel kaget.
“Iya,”
“Apa kamu sudah gila? Kamu itu tidak seiman dengan Raisa! Dan sampai kapanpun Ibu tidak akan mersetui hubungan kamu dengan Raisa!” balas Bu Angel tegas sambil menunjukan telunjuk tangan kanannya kehadapanku. Aku hanya diam tak berkutik sambil menahan air mata agar tidak jatuh.
“Ibu salah! Aku sudah seiman dengan Raisa!” ucap Morgan sambil menatap Bu Angel dengan tajam.
“APA?!!!”
“Iya,”
“Apa kamu sudah gila?!”
“Aku nggak gila! Ini sudah jadi keputusanku!”
“APA?!!!” Bu Angel mulai lemas dan tak sadarkan diri.
“Ibu!”
“Ibu!”
“IBU!!!” Morgan kaget, lalu membawa Bu Angel kerumah sakit.
Di RUMAH SAKIT
"Maaf kan aku Morgan! Aku sudah membuat Ibu kamu sakit," ucapku seraya menangis.
"Mungkin cinta kita tak mungkin bersatu Raisa!" ucap Morgan sambil memegangi tangan Bu Angel.
"Tapi!" ucapku menangis.
"PERGI!!!" kata Morgan.
__ADS_1
Aku pun pergi dari kehidupan Morgan untuk selama-lamanya dan Morgan lebih memilih untuk tetap dengan keyakinannya karena tak di restui oleh sang Ibu.
Aku menangis, hati seperti teriris pisau yang sangat tajam, namun aku banyak belajar dari semua kisah cintaku yang aku alami. Aku harus iklas menjalani hidup baru dan berusaha merubah diri menjadi lebih baik lagi.