
POV MORGAN
Pagi hari dengan rintikan hujan membasahi bumi ini, aku bersama sang waktu melihat rintikan itu begitu indah sampai rintikan itu berhenti aku tetap menatapnya hingga menampakan pelangi yang begitu indah mewarnai langit yang mulai cerah secerah hatiku. Pelangi itu begitu cantik mempunyai sifat yang solihah dan mempunyai warna-warni sifat yang membuatku jatuh cinta padanya.
Pelangi itu bernama Raisa. Raisa adalah wanita yang membuat diriku jatuh cinta seserius ini. Senyum di bibirnya itu membuat hati ini meleleh dan aku tak mau keindahan itu memudar di wajahnya.
Hari ini hari Minggu, itu artinya aku tidak berangkat kerja. Aku hanya duduk di tepi sopa dengan memainkan ponselku tanpa melalukan aktifitasku. Aku ingin rasanya bertemu dengan pelangi itu sang warna-warni cinta. Aku tak menyangka bisa jatuh cinta sedalam ini pada sang pelangi.
Aku tak mau melewati masa liburku dengan sia-sia, aku ingin bertemu dengan Raisa, aku pun mencari nama Raisa di ponselku lalu meneleponya.
Morgan : "Halo, Ca..."
Raisa : "Iya Halo, mau ngapain lagi sih nelepon aku lagi?"
Raisa sangat jutek padaku tapi aku tidak mau menyerah, aku harus bertemu dengannya dan menanyakan jawaban.
Morgan : "Aku mau ketemu sama kamu, aku mau menanyakan jawaban yang kemarin aku utarakan..."
Aku tahu Raisa sangat malas bertemu denganku dan entah apa alasannya sehingga Raisa bersikaf seperti itu padaku.
Raisa : "Ya udah oke," Raisa menyetujui tetapi tampak lemas.
Morgan : "Oke, aku tunggu sore ini di tempat biasa, ya!"
Aku langsung mengakhir sambungan telepon ke Raisa.
Aku sangat bahagia mendengar Raisa menyetujui ajakan pertemuan dariku meskipun belum tahu apa jawaban dari Raisa. Aku hanya berharap Raisa akan menerimaku dan menjadi belahan jiwaku selamanya.
Pada sore hari sekitar pukul 16.00 aku bersiap-siap untuk bertemu dengan Raisa. Aku membuka lemari dan memilih baju yang paling bagus yang akan di kenakan sekarang. Aku memakai setelan jas hitam tanpa dasi senada dengan kaos dalam menunjang penampilanku. Aku menggunakan minyak rambut dan minyak wangi agar terkesan segar. Aku mau pertemuanku dengan Raisa sore ini membuat Raisa jatuh cinta.
Sesampainya di tempat pertemuan, aku tidak menemukan sosok Raisa di tempat itu, batinku bertanya-tanya mengapa Raisa belum sampai di tempat ini. Apakah Raisa tidak akan menemuiku?
Aku menunggu Raisa sudah hampir satu jam, aku sangat yakin bahwa Raisa tidak akan datang, aku langsung beranjak dari kursi duduk dan pergi.
__ADS_1
Setelah aku beranjak dari tempat duduk dan hendak akan memasuki mobil tak lama kemudian ada yang memanggilku dari arah parkiran.
"Morgan!" suara teriakan peremupuan dengan suara yang tidak asing lagi.
"Raisa..." aku menoleh kepadanya.
"Maaf! Aku telat ya?" dengan nada ngos-ngosan.
"Gapapa..." balasku dengan tersenyum.
Meskipun Raisa terlambat menemuiku, aku sangat bahagia akhirnya Raisa bisa menyempatkan waktunya untuk bertemu denganku. Terima kasih sang pelangi.
"Yu kita duduk disana!" ajak ku sambil menunjuk ke kursi itu.
Aku bersama Raisa duduk di sebuah caffe saling berhadap-hadapan.
"Aku mau tanya jawaban kamu kemarin..." kataku to the point.
"Oke, sebenarnya aku juga mau jujur sama kamu sekali gus mau mencurahkan isi hati ini padamu," kata Raisa dengan wajah serius menatapku.
"Morgan, aku sudah menikah..."
Langit sepontan terasa runtuh mendengar kejujuran dari Raisa. Mataku berkaca-kaca dan tenggorokanku terasa sakit.
"A... Apa? Menikah..." Aku langsung memalingkan pandanganku ke arah lain sambil menahan air mataku agar tidak jatuh.
"Iya, tapi aku di madu..."
"Apa?" dada pun semakin sesak.
"Morgan aku sangat mencintai Yusuf, tetapi Yusuf menikah dengan orang lain. Aku tidak mau kehilangan Yusuf dan pada akhirnya aku memutuskan untuk di madu. Aku mau jujur sama kamu sejak pertemuan kemarin ketika kamu mengungkapkan rasa cinta kamu padaku ada getaran-getaran aneh yang merasuki tubuhku yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya dengan Yusuf. Aku gak tahu apa itu aku mulai jatuh cinta sama kamu atau tidak aku masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Morgan aku mau curhat sama kamu tentang rumah tanggaku sekarang ini, hikz..." Raisa mulai menangis.
"Lalu kenapa kamu tidak bilang dari kemarin! Kalau kamu sudah mempunyai suami..." aku mulai meneteskan air mata.
__ADS_1
Aku orangnya kuat dan tidak pernah nangis. Aku tak menyangka hari ini aku meneteskan air mata di depan perempuan. Aku semakin yakin kalau aku mencintai Raisa begitu dalam.
"Morgan, aku merasa tersisihkan di rumah tanggaku. Suamiku seperti lebih banyak menyanjung istri pertamanya di banding aku, apa lagi sekarang istri pertamanya sedang hamil, aku semakin merasa tersisihkan olehnya..." Raisa mengungkapkan semua isi hatinya.
Aku yang mendengar semua curahan hati dari Raisa menjadi terbawa perasaan. Aku menjadi merasa kasihan pada Raisa dengan nasib rumah tangganya. Aku yang tadinya merasa kecewa aku langsung menyimpan sementara kekecewaan itu dan mulai menenangkan Raisa.
"Sabar Raisa!" kataku.
"Maafkan aku Morgan!"
"Sudah jangan di pikirkan! Aku akan menyimpan perasaanku padamu sementara sampai kamu tenang. Aku tak tahu kedepannya apakah kamu akan menjadi milikku atau tidak. Aku sangat mencintaimu Raisa, tapi apalah daya kamu sudah mempunyai suami," kataku sambil memegang tangan Raisa.
"Aku sangat terharu sama perkataanmu," sambil meneteskan air mata.
"kamu jangan sedih Raisa! Jika kamu di sakiti oleh suami mu, aku akan selalu ada untukmu dan akan melindungimu..." aku menenangkan Raisa seraya tersenyum. Raisa pun menatapku dan membalas senyumanku.
"Makasih ya!" kata Raisa sambil mengusap kedua matanya dengan kedua tangannya.
Memang cinta itu sangat erat dengan perjuangan dan pengorbanan. Saat kita mencintai seseorang, seharusnya kita memperjuangkan bukan malah diam seribu bahasa. Perjuangan membuktikan betapa besarnya rasa cinta dan rasa sayang kita, dan pengorbanan menandakan besarnya rasa takut kita kehilangan sosok seperti dirinya.
Tak selamanya cinta harus memiliki. Ada kalanya kita harus mengalah dan melepaskan cinta kita meskipun sakit. Karena cinta sejati bukan membuat sakit, namun membuat bahagia. Hal yang harus kamu ingat dalam cinta, jika kamu ingin memiliki MAWAR yang indah, kamu harus menerima DURI di sekitarnya. (sumber spositif.com)
"Sekarang kita pulang ya..." aku langsung mengajak Raisa pulang karena Raisa terlihat pikirannya sedang kacau.
"Iya," kata Raisa dengan suara lirih.
"Mau aku anterin?" tawarku.
"Nggak, nggak usah..."
"Ya udah, kalau ada apa-apa kamu hubungi aku ya! Aku akan siap membantu apapun kondisi kamu,"
"Oke,"
__ADS_1
Aku memperhatikan punggung Raisa sampai naik kedalam taksi.
Hari ini benar-benar hari yang sangat kacau bagiku. Tuhan apakah Raisa hanya khayalanku saja...