
Pada sore hari sekitar pukil 17.00 Aku di ajak Ibu untuk memilih baju pengantin di WO langganan Ibu karena tidak ada waktu lagi. Aku memilih baju kebaya putih bertabur mute ke emasan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa disana aku hanya bisa pasrah.
"Nah yang ini cocok buat kamu Caca!" kata Ibu dengan memegang pipiku sambil meneteskan air mata.
"Bu tolong aku!" aku hanya bisa merengek pada Ibu.
"Maafkan Ibu Caca." sambil memeluku.
Setelah pulang dari WO aku dan Ibu langsung mengunjungi gedung yang akan menjadi tempat pernikahanku dengan Satria. Aku sangat takjub melihat kemewahan gedung itu, tapi yang aku inginkan bukan ini. Aku hanya ingin menikah dengan Yusuf
Baju pengantin, Gedung, konsumsi sudah siap. Setelah mempersiapkan semuanya aku dan keluargaku langsung pulang karena harus istirahat agar acara besok tidak terlalu lelah.
Setelah sampai di rumah aku langsung memasuki kamar mandi untuk mengambil Wudlu. setelah mengambil wudlu aku menatap cermin yang ada di kamar mandi di sana ada bayanganku, aku langsung meneteskan air mata dan batinku terasa tersiksa.
"Ya Allah, apakah hamba memang jodoh Satria?" sambil menatap cermin.
Setelah melaksanakan Shalat aku langsung naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhku yang sangat lelah.
Keesokan harinya sekitar pukul 04.00 pagi Ayah membangunkanku dengan kasar. Ayah tidak mau aku terlambat ke gedung dan membatalkan acara pernikahannya.
"Caca...?" suara teriakan Ayah membangunkanku.
"Ia Ayah...?" aku membukakan mataku.
"Bangun kamu dan jangan terlambat!" Ayah membangunkanku dengan teriakan yang sangat keras sambil membalikan tubuhnya lalu pergi.
"Allahuakbar... Allahuakbar..." Waktu subuh telah tiba. Aku langsung kekamar mandi untuk mandi dan mengambil Wudlu. Setelah itu aku langsung melaksanakan Shalat Subuh. Setelah Shalat Subuh aku langsung berdo'a.
"Ya Allah... apakah ini takdirku Ya Allah?" tarik napas sebentar.
"Ya Allah aku tidak mencintai Yusuf." air mata mulai jatuh.
"Jika Satria memang jodohku maka hilangkanlah perasaan ini terhadap Yusuf!"
Hari mulai siang. Di dalam kamar gedung tempat pernikahanku dengan Satria aku sedang di rias. Saat di rias aku berusaha menahan air maraku agar tidak jatuh, tapi tetap saja air mataku terjatuh tanpa bisa di bendung.
"Mbak Cantik..." kata perias.
"Terimakasih, Mbak" kataku sambil tarisak.
"Dan lebih cantik lagi kalau Mbak gak nangis, agar bisa mempercepat riasan saya.
"Iya Mbak maafkan saya!" aku langsung mengusap air mataku yang sudah jatuh.
__ADS_1
Setelah selesai di rias, perias itu langsung keluar dari ruangan dan tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Tok...tok...tok..."
"Masuk!"
Saat yang mengetuk pintu itu membukakan pintu, aku langsung menoleh ke arah pintu itu dan ternyata yang masuk itu adalah Ibu. Ibu langsung menghampiriku dan mengusapi pipiku kemudian memelukku dengan meneteskan air mata, Aku pun membalas pelukan Ibu kemudian menangis.
"Maafkan Ibu Raisa, maafkan Ibu!" kata Ibu dalam pelukanku.
"Iya Ibu." kataku.
Tak lama kemudiam ponselku bergetar tanda ada telepon masuk, aku pun melepaskan pelukam Ibu dan mengangkatnya.
"Sebentar ya Bu!" aku meninggalkan Ibu untuk mengangkat telepon.
Aku melihat panggilan masuk di ponselku dengan nama My Future Husband itu artinya itu adalah panggilan dari Yusuf. Aku menutup mulutku dengan genangan air mata yang terus mengalir. Aku bingung apa yang harus aku katakan pada Yusuf, tetapi suara panggilan itu terus berbunyi dan aku terpaksa mengangkatnya.
"Assalamuallaikum, calon istriku?" kata Yusuf dengan romantis.
"Waalaikumsalam..." aku menjawab salam Yusuf dengan suara serak terisak-isak.
"Kamu nangis?" kata Yusuf.
"Jangan bohong! suara kamu serak kaya habis nangis." kata Yusuf tidak bisa di bohongi.
"Yusuf tolong lupakan aku!" aku pun mulai menangis lagi.
"Loh, kenapa tiba-tiba kamu ngomong seperti itu?" tanya Yusuf kaget.
"Sekarang kamu cari pengganti aku, aku di jodohkan sama orang tua aku, hari ini aku akan menikah dengan orang lain,"
"Ta...ta..tapi Raisa, aku sangat mencintai kamu," kata Yusuf mulai meneteskan air mata.
"Maafkan aku Yusuf, Assalamyallaikum..." aku langsung mengakhiri telepon dari Yusuf.
"Jangan Raisa! Raisa! Raisa!" sambil berteriak dan ternyata sambungan telepon itu sudah mati.
Hari itu adalah musibah bagi Yusuf. Langit terasa runtuh, dunia terasa hitam tanpa warna, hujan begitu deras di matanya, ombak terasa menerjang menghambisi bumi ini dan angin topan terasa berputar membawa Yusuf terbang ke tempat yang sanga jauh, tempat yang membuat Yusuf terjatuh sedalam-dalam lautan.
Rasanya Yusuf ingin pergi ketempat dimana bisa teriak bebas dan bilang "Ya Allah aku ingin bahagia bukan menangis. Kenapa Raisa begitu tega menghancurkan semua harapanku yang telah aku tunggu selama ini." Yusuf terjatuh dan hujan pun mengguyur tubuhnya.
"Raisa!" berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
***
Pada malam harinya setelah Yusuf melaksanakan Shalat Isya, Yusuf langsung naik keatas ranjang lalu merebahkan tubuhnya yang sangat lelah.
Ketima Yusuf sedang merebahka tubuhnya. Terlintai di ingatannya tentang kata-kata tadi yang aku lontarkan.
"Betapa teganya mamu Raisa," batin Yusuf.
Tak lama kemudian emosi Yusuf mulai naik. Yusuf teriak histeris seakan-akan hilang dari kesadarannya. Ia membanting-bantingka barang yang ada di kamarnya.
"Raisa!"
"Raisa!"
"Kamu jahat Raisa!"
Tak lama kemudian Pak Tono dan Bu Rita selaku orang tua Yusuf mendengar teriakan Yusuf dan hendak masuk kedalam Kamar.
Ketika Pak Tono dan Bu Rita masuk kedalam kamar, mereka menemukan Yusuf sedang tergeletak di bawah lantai.
"Yusuf!" triak Bu Rita.
"Yusuf!" triak Pak Tono.
"Yah tolong telepon dokter!" perintah Bu Rita pada Pak Tono.
Tak lama kemudian doktor datang kerumah Yusuf untuk memeriksa keadaan Yusuf.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Pak Tono pada dokter.
"Tidak apa-apa, anak Bapak hanya syok berat," balas dokter.
"Syok berat?" Ibi kaget.
"Maksud Dokter?" tanya Pak Tono.
"Saya gak tahu apa yang sedang di alami anak Bapak dan Ibu, dari hasil pemeriksaan anak Bapak Ibu memang sedang mengalami depresi,"
"Baik Dok, terimakasih..."
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah dokter pergi Ibu dan Ayah tidak meninggalkanku tidur sendirian mereka berdua tidur di kamarku karena takut terjadi apa-apa lagi.
__ADS_1