Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 26 - Menikahlah denganku!


__ADS_3

Hari minggu Yusuf menghabiskan waktu liburnya di rumah sakit. Ia tidak mau meninggalkanku dalam keadaan kondisi seperti ini bagaimana pun aku pernah menguasai hatinya. Bagaimana pun aku pernah menjadi perempuan yang pernah ia impikan untuk menjadi makmumnya, tetapi impian itu hanyalah hayalan baginya.


Yusuf tengah duduk di sebuah kursi di depan ruangan perawatanku, dia memainkan ponselnya sembari menungguku yang masih belum siuman.


"Ya Allah... berikan kesembuhan untuk Raisa..." batin Yusuf.


Yusuf beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kantin karena dari kemarin Yusuf belum juga makan.


Tak lama kemudian ada Suara dari dalam ruangan memanggil-manggil namanya. Yusuf langsung bergegas masku keruanganku dengan panik.


"Yusuf!"


"Yusuf!" suara teriakanku dari dalam ruangan.


"Iya ini aku, Yusuf..." kata Yusuf sambil memegang tanganku.


Setelah Yusuf memegang tanganku, aku mulai tenang dan tak ada lagi suara teriakan di dalam ruangan itu.


"Kau tahu? Ini semua gara-gara kamu..." kata Ayah menyeredku ke Sofa.


"Maafkan aku Om, aku tidak bermakasud menyakiti Raisa..." Balas Yusuf sambil memegang tangan Ayah tetapi Ayah menepiskannya.


"Alasan!"


Prak...


Suara tamparan Ayah terhadap Yusuf.


"Aku tidak bermaksud menyakiti Raisa Om, aku menikahi orang lain karena Raisa yang bilang sendiri sama aku, kalau dia mau nikah sama orang lain," balas Yusuf dengan memegang pipi kanannya.


"..." Ayah terdiam dan menunduk mendengar penjelasan dari Yusuf. Ayah langsung bergegas pergi ke kamar mandi, ia merasa bersalah karena sudah menuduh Yusuf.


"Ya Allah semua ini salahku!" kata Ayah sembari mengguyur kepalanya.


"Gara-gara keserakahanku ingin menjodohkan putriku dengan Satria, putriku jadi korbannya. Hikz... hikz... hikz..." Ayah menangis di kamar mandi.


"Maafkan Ayah Raisa! Maafkan Ayah!" batin Ayah.


***


Pagi itu Hafidzah tidak menyiapkan sarapan karena suaminya Yusuf tidak ada di rumah. Hafidzah yang sedang menyapu di halaman rumahnya ia menghentikan menyapunya lalu masuk kedalam rumah untuk mengambil ponselnya di meja ruangan tamu. Hafidzah mengirimkan pesan pada Yusuf menanyakan kabarnya.


Hafidzah : "Assalamuallaikum, Aa gimana kabarmu? Udah makan belum di sana? Kok gak ada kabar? Aku khawatir loh..."


Hampir satu jam Hafidzah tidak mendapati balasan pesannya dari Yusuf. Batin Hafidzah mulai bertanya-tanya, hatinya gelisah menanti kepulangan Yusuf, sebenarnya apa yang terjadi di Bandung sehingga Yusuf tidak memberi kabar dan tidak membalas pesannya.


"Semoga Aa Yusuf baik-baik saja di sana..." batin Hafidzah.


Hafidzah kembali menyimpan ponselnya di atas meja lalu meneruskan menyapunya, Hafidzah tidak mau terlalu lama berpikiran negatif pada Yusuf.


"Mungkin Aa Yusuf gak punya pulsa..." Hafidzah berusaha mempercayai suaminya.


***

__ADS_1


Yusuf menungguku di ruanganku sambil memegangi tanganku, tak lama kemudian jari-jariku bergerak tanda diriku mulai siuman.


"Caca..." Yusuf menyapaku.


Aku mulai membukakan kedua mataku.


"Caca, kamu sadar?"


Yusuf langsung memencet tombol yang ada di atas sofa untuk memanggil dokter.


"Alhamdulillah kamu sadar," kata Yusuf sambil tersenyum.


Aku menoleh pada Yusuf "Yusuf, kenapa kamu ada di sini?" tanyaku heran.


"Aku dapat kabar dari Delia kalau kamu kecelakaan, aku khawatir dan aku langsung kesini untuk menjengukmu," ujar Yusuf.


"Kamu masih peduli sama aku?" tanyaku.


"Tentu saja aku peduli, biar bagaimana pun kamu pernah menjadi bagian dari hidupku..."


Mendengar semua perkataan dari Yusuf aku tersenyum dan sekali gus meneteskan air mata. Seandainya Yusuf adalah suamiku, aku pasti sangat bahagia, karena semua kenanganku bersama Yusuf tertata rapi dari sejak aku kenal dengannya sampai saat ini.


"Terimakasih Yusuf, karena kamu udah menyempatkan waktu untuk menemaniku haru ini..."


"Sudah kamu jangan berpikir yang berat-berat dulu! Sekarang kamu makan biar cepet sembuh!"


Yusuf masih setia di ruangan yang berbau obat, ia mulai teringat pada istrinya yang di tinggalkan seorang diri, ia tak kuasa membayangkan kesedihan dan kecemburuan istrinya, sungguh Yusuf merasa menjadi laki-laki yang tidak punya pendirian, ia mulai gelisah lalu beranjak ke kamar mandi untuk menenangkan pikirannya.


"Kamu mau kemana?" aku menahanan Yusuf dengan menarik bajunya.


"Jangan tinggalkan aku!" kataku ketakutan.


Sesampainya di kamar mandi Yusuf membasuh wajahnya dengan air lalu ia melihat pantulan wajahnya di dalam cermin, ia merasa dirinya akhir-akhir ini mulai gak waras.


"Laki-laki macam apa aku ini? Meninggalkan istri yang begitu solihah seorang diri di rumah..." Sambil memukulkan tangannya ke dinding.


Yusuf mambasuh mukanya kembali.


"Sekarang aku harus pulang..." batin Yusuf.


Yusuf bergegas kembali keruanganku untuk pamit pulang.


"Caca..." Yusuf menyapaku.


"Iya..." sambil tersenyum.


"Aku harus pulang, aku tidak bisa lama-lama di sini, istriku menunggu di rumah..." ujar Yusuf.


"Ja... jangan tinggalkan aku, Yusuf!" aku berusaha mencegah Yusuf.


"Maafkan aku Caca! Tapi aku tetap harus pulang,"


"Yusuf, aku mohon tinggalkan Hafidzah dan menikahlah denganku...!" aku membujuk Yusuf dengan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Gak bisa, aku udah punya istri..." balas Yusuf.


"Kamu gak mencintai Hafidzah kan? Lalu ngapain kamu bertahan sama orang yang tidak kamu cintai..."


"Nggak, meskipun aku belum mencintai Hafidzah, dia tetap menjadi istriku dan aku takan meninggalkanya sampai kapan pun,"


"Ya sudah kalau kamu gak mau ninggalin Hafidzah, tolong jadikan aku yang ke dua!"


"Aku pamit pulang dulu, Assalamuallaikum," Yusuf langsung pergi meninggalkan aku.


"Ta... ta... tapi Yusuf!"


"Yusuf!"


"Yusuf!" aku berteriak memanggil-manggil Yusuf tetapi Yusuf tidak menghiraukannya.


"Hikz... hikz...hikz..." suara tangisanku di dalam ruanagan.


Aku merasa dunia tidak pernah berpihak padaku. Kesakitanku semakin dalam. Aku sebenarnya dimana? Mengapa aku merasa tak sedikit pun ada cahaya yang mendukungku.


"Astagfirullahaladzim, semakin aku memikirkan semua tentang Yusuf, maka aku akan semakin lama di rumah sakit," batinku.


***


Malam itu Yusuf sampai kerumahnya pukul 08.00 malam,


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu terdengar oleh Hafidzah yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa menunggu kepulangan Yusuf.


"Assalamuallaikum," suara Yusuf terdengar oleh Hafidzah dengan mengucapkan kalimat salam, Hafidzah langsung bergegas ka arah pintu untuk menyambut Yusuf.


"Waalaikumsalam, A!" Hafidzah membukakan pintu dengan mengucapkan salam.


"Selamat malam istriku..." Yusuf menyodorkan tangannya sambil menyodorkan tangannya.


"Malam, A..." Hafidzah berkata lirih lalu mencium punggung tangan Yusuf.


"Gelapnya langit terpancar dari wajahmu..." kata Yusuf.


"Jangan pergi lagi!" menundukan kepala.


"Insya Allah, sayang" Yusuf memegang dagu Hafidzah lalu mencium keningnya.


Yusuf menggandeng tangan Hafidzah dengan mesra menuju kamar. Di dalam kamar Yusuf membukakan bajunya lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Hafidzah yang melihat Yusuf masuk kamar mandi ia langsung naik ke atas ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang sangat lelah, Hafidzah merasa lega karena suami nya sudah pulang dengan keadaan sehat dan selamat.


Setalah mandi Yusuf langsung naik keatas ranjang lalu memeluk Hafidzah dari belakang.


"Eh A, pakai baju dulu!"


"Nggak mau, aku kangen sama kamu..."

__ADS_1


Malam itu terjadilah percintaan.


__ADS_2