Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 08 - Graduation Part 2


__ADS_3

"Kita tampilkan... penampilan perwakilan dari siswa kelas XI IPA 1, Raiasa...!"


Prok... Prok... Prok...


Semua penonton yang ada di tempat Graduations semuanya berdiri dan bertepuk tangan.


Suasana di tempat Graduation begitu Ramai.


Aku lalu mengembuskan panjang bersemangat untuk tampil di depan banyak orang. Getaran tubuhku sangat kencang rasanya aku ingin pulang saja. Tetapi Ibu berteriak menyemangatiku dari bangku paling belakang.


Kulangkahkan kaki ke atas panggung dengan sejuta rasa ketidak percaya diriku. Aku harus bisa karena di depanku banyak yang mendukungku.


"Raisa... Semangat...!" Kata Ibu menyemangatiku paling keras.


"Semangat Raisa...!" Teman-teman memberiku semangat.


"Ayo Raisa kamu pasti bisa kata...!" Satria juga menyemangati ku paling depan.


"Untuk Sahabat... Karya Ajeng Nurjamilah." Aku mulai membacakan puisi.


"Oh Sahabatku...


Tiga tahun kita bersama.


Tiga tahun kita bersahabat.


Tiga Tahun kita menuntut Ilmu." ku lihat semua penonton tercengang melihat penampilanku. Aku tarik napas sebentar lalu mulai lagi.


"Oh Sahabatku...


Aku menyayangimu.


aku tak ingin berpisah darimu


Oh sahabatku...


Semoga kita Sukses." Aku mengakhiri puisinya.


Prok... Prok... Prok...


Suara tepuk tangan itu kembali terdengar setelah aku membacakan puisi sebaga bentuk afresiasi dari seluruh penonton. Rasanya aku lega setelah melewati tantangan yang menurutku sangat berat ini.


"Raisa... Kamu hebat," Kata teman-temanku.


"Caca... Ibu bangga Sama kamu," Ibu menghampiriku lalu memeluku.


"Maafkan Ibu jika selama ini tidak pernah memperhatikanmu," Ibu meneteakan air mata di pundaku.


"Iya Ibu jangan di pikirkan lagi!" kataku.


Siang Hari yang terik. Aku duduk di kursi taman belakang dengan memandangi jam tangan cantik yang di pakai di pergelangan tanganku. Waktu menunjukan pukul 11.30 Itu artinya Graduation akan segera selesai. Kemudian ada seorang pemuda tampan datang menghampiriku (Morgan Safik) lalu duduk di sampingku. Aku tidak menghiraukannya aku hanya membuka buku dan membacanya.


Morgan Adalah Pemuda tampan yang sangat terkenal di sekolahah. Karena dengan wajahnya yang sangat tampan dia juga ketua Tim Basket. Morgan terkenal Playboy dan suka mempermainkan perasaan wanita. Sudah banyak korban-korban yang sudah di sakiti olehnya. Termasuk sahabat ku Astuti.


"Serius amat...!" Kata Morgan. Aku tidak menjawabnya dan mengabaikannya.


"Sombong amat sih...!" kata Morgan terus menggangguku.


"Kenalin namaku Morgan!" Morgan dengan percaya dirinya menyodorkan tangan.


"Udah tahu." aku dengan judesnya.

__ADS_1


"Ada cowok ganteng di dekatmu kok di anggurin sih...!" Semakin ke GRan.


"Apaan sih..."


"Iya emang aku ganteng kan?" aku hanya terdiam tidak menghiraukannya lagi.


Morgan tidak hanya Play Boy, dia juga suka menggoda perempuan-perempuan yang ada di sekolah.


"Cantik," dia mengatakan aku cantik.


"Udah dari lahir," balasku.


"Ih PD banget sih kamu," kata Morgan terus menggangguku.


"Biarin! Meskipun aku ke pedean aku tidak Play Girl kaya kamu!" katu dengan judes.


"Aku suka nih yang kaya gini..."


"Ih apaan sih..."


Di kantin.


Dikantin Astuti dan Delia sedang makan siang. Mereka duduk saling berhadapan dengan menyantap makanan yang ada di hadapannya. tidak lama kemudian Satria datang menghampiri mereka menanyakan aku.


"Del, Tut Raisa mana?" kata Satria sambil duduk di kursi dekat Delia.


"Caca lagi ditaman belakang." kata Delia sambil memasukan mie ayam kedalam mulutnya.


"Oke, Thankyou..." langsung bergegas ke taman.


"Apaan sih Satria? Gak jelas banget," tutur Astuti.


Saat ke taman, Satria melihat Raisa duduk di bangku taman sedang berduaan dengan Morgan.


Cinta memang tak selamanya berjalan mulus. Begitu juga dengan hati tak selalu terasa bahagia. Ketika kita sedang jatuh cinta, hati terasa terbang ke awang-awang. Tetapi jika sudah melihat orang yang di cintai bersanding dengan orang akan menimbulkan luka yang amat dalam. Begitu juga yang sedang dirasakan Satria saat ini.


Satria meremas botol minuman yang sedang di pegangnya lalu di lemparkan.


Brug...


Suara lemparan botol minuman. Aku keget kemudin aku dan morgan menoleh kebelakang.


"Ka Satria..." aku kaget ternyata Satria yang melempar botol minuman itu.


"Kamu munafik, Raisa!" kata Satria sambil membalikan badan ke arah sekolahan dan pergi.


"Maksud, Kakak...?!"


"Kak tunggu...?!" aku berlari mengejar Satria yang sedang kecewa. Aku gak mau Satria salah paham.


Aku terus mengejar Satria sampai-sampai aku kehilangan jejak. Karena aku berpikir Satria sedang salah paham. Ku cari kesana kemari tak menemuinya.


"Del, Tut?" Sambil ngos-ngosan.


"Kenapa kamu, Ca?" Delia heran kenapa aku bisa lari-lari.


" Kalian lihat Satria, gak?"


"Bukannya Satria tadi nyusulin kamu ke taman?"kata Astiti.


"Cie... Ada yang mulai peduli nih sama Satria... Hahahah," Delia malah meledekku.

__ADS_1


"Serius Del! Aku harus menjelaskan sesuatu sama Satria,"


"Emangnya ada apa, sih...?" Astuti penasaran.


"Tadi Satria emang nyusulin aku ke taman, tapi tadi dia melihatku duduk berduaan sama Morgan," kataku masih ngos-ngosan.


"Apa... Morgan...?" Astuti sama Delia serentak.


"Iya..." jawabku simple.


"Kamu kenapa bisa sama Morgan...? jangan-jangan...." kata Delia mulai mendesakku.


"Udah ah nanti ceritanya aku harus mencari Satria dulu!" kataku memotong perkataan Delia sambil bergegas pergi.


"Tapi, Ca?" mereka berusaha menghentikanku.


"Bye!" kataku meninggalkan mereka.


Satria sebenarnya bergegas pulang meninggalkan sekolah. Ia tampak tidak bisa membendung kekecewaannya terhadap ku.


Aku bertemu dengan teman Satria (Anton Ario).


"Assalamuallaikum, Kak Anton" aku berteriak dari kejauhan memanggil Anton yang sedang duduk di perpustakkan.


"Waalaikumsallam?" dia menjawabnya.


"Apa Kakak lihat Kak Satria...?" ngos-ngosan karena habis lari-lari mencari Satria kesana-kemari.


"Tadi sih di kesini, Pamit mau berangkat ke Korea sore ini. sekarang dia sudah pulang mempersiapkan keperluan ke Korea." kata Anton memberi tahuku kepergian Anton.


"A... Apa?!" Aku kaget lemas Lalu duduk di dekat Anton untuk menenangkan diri.


" Kenapa Ca...? Tumben-tumbenan kamu nyari Satria?!" kata Anton penasaran.


"Aku harus bicara dengannya,"


"Kalau kamu mau berbicara dengannya. Sore sekarang dia berangkat. kamu bisa susulin dia ke bandara...!"


Aku berpikir Sejenak.


"Iya Kak, Kakak benar. makasih yak kak... Assalamuallaikum?"


"Waalaikumsalam."


Pada sore hari sekitar pukul 04.00 sore. Aku langsung bergegas ke Bandara menyusul Satria yang akan berangkat ke Korea. Aku menyusul Satria bukan karena aku mencintai Satria, aku hanya takut di kecewa dan memikirkan yang tidak-tidak tentangku.


Sesampainya di bandara aku langsung mencari Satria tapi aku tidak menemukannya. namun aku tidak menyerah, aku terus mencarinya kesana kemari. Tububku sangat lelah, aku duduk di ruang tunggu sambil mengusapi keringatku.


Tak lama kemudian ada seorang pemuda yang menghampiriku, aku tidak menghiraukannya tetapi pemuda itu menepuk pundaku.


"Raisa!" ku dengar denging suara itu seperti suara Satria. Aku menoleh kepadanya dan ternyata benar yang aku lihat adalah Satria.


"Kak Satria?" aku menyapanya sambil tersenyum.


"Sadang apa kamu disini?" tanya Satria penasaran.


"Mencari Kakak," balasku.


"Kenapa?" tanya Satria balik.


"Aku takut Kakak salah paham soal yang tadi,"

__ADS_1


"Enggak Kok, tapi kamu harus janji setelah aku pulang dari Korea, kamu harus menerima lamaranku.


__ADS_2