Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 41 - Move On


__ADS_3

Sambil menunggu malam tiba, aku hendak ke dapur untuk membuatkan makan malam bersama Ibu karena sore ini Kak Rangga pulang. Aku memasak makan-makanan favorit keluarga semur jengkol. Aku melakukannya sambil mendengarkan murotal al-qur'an yang di stel dari ponselku. Sebuah surah yang di lantunkan oleh pembaca al-qur'an internasional yang membuat hati ini menjadi sejuk.


Ketika aku sedang memasak ikan, aku sempat melamun memikirkan apa yang di bicarakan dengan Hafidzah tadi. Apa benar aku masih mencintai Yusuf?


"Caca!" Ibu berteriak memanggilku dari halaman depan.


"Iya Bu!" aku terkejut mendengar teriakan Ibu.


"Kamu masak apa sih? Kok bau gosong!" aku pun bangun dari lamunanku dan melihat pada ikan yang di masak ternyata sudah gosong.


"Astagfirullahaladzim..."


Ibu yang sedang menyapu halaman depan langsung bergegas ke dapur menghampiriku karena merasa hidungnya mencium bau yang tak sedap.


"Kenapa Ca?" tanya Ibu.


"Nggak kok..."


"Loh! Kok gosong sih ikannya, kamu melamun ya?" Ibu tersenyum nakal saat melihat ikan nya sangat gosong.


"Nggak... Nggak kok..."


"Alah jangan bohong kamu! Itu mukanya merah,"


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi pada Ibu, aku meceritakan semuanya pada Ibu. Mulai dari awal Hafidzah datang, kebaikan Hafidzah saat jadi istri Yusuf, kedewasaan Hafidzah, ke solihahhan Hafidzah sampai Hafidzah mengajakku rujuk dengan Yusuf. Akhirnya Ibu menjebakku merayu agar aku mengatakan padanya tentang perasaanku pada Yusuf.


"Kamu masih mencintai Yusuf?" tanya Ibu sambil membalikan tubuhku ke hadapannya.


"Aku nggak tahu," balasku sambil menunduk.

__ADS_1


Ibu mengangkatkan daguku yang sedang menunduk dengan tangannya.


"Jujur sama Ibu!" Ibu mendesakku.


"Aku nggak tahu Bu,"


"Ah! Apa jangan-jangan kamu sudah moveon ya? Iya ini mah kamu udah pindah ya ke hati Morgan?"


Aku hanya tersenyum dengan wajah memerah karena malu.


Terkadang diriku masih menunggu kehadiran mu di dalam hidupku, namun kini hati telah lelah, lelah dengan segala ke tidak puasanmu dengan cinta. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untukku dan akan mencoba melepaskan sekaligus melupakanmu untuk selamanya. Tak mudah melupakan orang yang sudah hampir tujuh tahun di tunggu kehadirannya, tapi aku harus benar-benar moveon dan mulai belajar menata hidup baru dengan orang lain.


Malam yang indah, kulihat beribu-ribu bintang


di angkasa menyinari hitamnya langit yang luas. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan beserta dengan suara kodok melengkapi malam yang sunyi. Pohon-pohon di sekitar rumah terumabang-ambing oleh angin yang menggelegar menyejukan jiwa.


Tid... Did...


"Assalamuallaikum," Kak Rangga keluar dari mobilnya sambil mengucapkan salam.


"Waalaikum salam, sini aku bawakan kopernya..."


"Ibu ada Ca?"


"Ada,"


Kak Rangga masuk ke dalam rumah sambil melonggarkan dasinya. Aku pun mengikuti Kak Rangga sambil menarik koper yang di bawa Kak Rangga.


"Assalamuallaikum,"

__ADS_1


"Waalaimumsalam, masya Allah Rangga kamu ganteng sekali..." Ibu sepontan memeluk Kak Rangga. Kak Rangga pun membalas pelukan Ibu.


"Kok Caca ada di sini sih Bu? bukannya sama suaminya," Sambil menatap ke arahku.


"Sudah ayo makan dulu kamu pasti lapar!"


***


Ku bukakan mataku ku, ku kerjap-kerjapkan mataku lalu mengusap ke dua mataku dengan ke dua tanganku. Ku lihat ke arah jendela matahari belum terbit. Jarum jam merangkak ke arah pukul 04.30. Ku rasa semua nyawaku belum terkumpur sehingga terasa masih ngantuk dan lemas.


Aku bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu keluar dari kamar mandi untuk melaksanakan Shalat Subuh.


"Caca..." Kak Rangga membukakan pintu kamarku kemudian duduk di tepi ranjang karena ia melihat aku sedang Shalat.


"Loh! Kak Rangga ada apa ke kamarku?"


"Ca, aku mau ngajak kamu jalan-jalan..."


"A... Apa?" aku kaget karena tidak biasanya Kak Rangga ngajak jalan-jalan.


"Kok kaget?"


"Ya kaget lah! Tumben-tumbenan Kak Rangga ngajak aku jalan-jalan..."


"Jadi gak mau nih?"


"I... Iya mau, mau lah..."


"Kalau gitu jangan banyak omong! Sekarang siapin sarapan! Setelah sarapan kita berangkat..."

__ADS_1


"Iya,"


__ADS_2