
Pagi-pagi di meja makan. Aku, Yusuf dan Hafidzah duduk di meja makan saling berhadap-hadapan untuk menyantap sarapan yang di siapkan oleh Hafidzah. Ada yang membuat Hafidzah aneh dengan penampilah Yusuf yang berbeda. Yusuf tampak rapi tidak seperti biasanya.
"Kenapa kamu bengong?" tanya Yusuf pada Hafidzah.
"Aa beda hari ini, Aa lebih kelihatan tampan," balas Hafidzah dengan senyum manisnya.
"Hem..." Yusuf tak menyangka penampilannya bisa di puji Hafidzah.
"Apa Aa Yusuf berpenampilan begitu agar bisa di lihat Caca?" batin Hafidzah
"Kenapa sih Hafidzah muji-muji gitu?" batinku.
"Hari ini kita mau ngapain Ya? Aku bosen di rumah," kataku sambil cemberut.
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan aja?!" seru Hafidzah.
"Maksud kamu kita jalan bertiga?" tanyaku.
"Iya," balas Hafidzah sambil tersenyum.
"Ah nggak mau..."
"Aku setuju sama Hafidzah, mendingan kita jalan-jalan biar gak bosan! Raisa kalau kamu gak mau gak usah ikut!" tegas Yusuf.
"Ya udah!" aku membentak Yusuf sambil meninggalkan Hafidzah bersama Yusuf di meja makan. Aku masuk kedalam kamar sambil membantingkan pintu kamar.
"Astagfiullahaladzim!" Yusuf beristigbar sambil mengusap dadanya.
"Sabar A!" sambil memegang punggung tangan Yusuf.
Aku reflex membanting pintu kamarku karena terlalu kesal dengan tingkah laku Yusuf yang berlebihan pada Hafidzah. Aku langsung naik keatas ranjang untuk menangis.
"Hikz... hikz..." suara tangisanku.
Yusuf tidak mau ambil pusing, ia langsung naik ke lantai atas untuk melakukan olah raga di tempat ngegim. Hafidzah yang duduk di sopa untuk membaca majalah kesayangannya, ia tak sengaja mendengar tangisanku dari arah kamarku dengan histeris. Hafidzah langsung bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan kearah kamarku untuk menenangkanku.
"Mbak Caca kenapa nangis?" tanya Hafidzah sambil mengusap punggungku.
"Pake nanya lagi!" aku membentak Hafidzah.
"Apa gara-gara omongan A Yusuf tadi?"
"Kamu beruntung Zah, kamu terus-terusan di bela sama Yusuf," balasku sambil terisak-isak tangis.
"Mbak Caca salah! justru Mbak Caca yang beruntung, cinta Aa Yusuf hanya untuk Mbak Caca..." balas Hafidzah dengan lirih.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana?" tanyaku sambil bangkit dari tidurku dan menghadap pada Hafidzah penasaran.
"Sebelum Mbak Caca menikah dengan A Yusuf, Aa Yusuf sering melamun dia sering menyebut nama Mbak Caca di ngigaunya sambil melambai-lambaikan tangannya keatasdan A Yusuf pernah tanpa sengaja memanggil namaku dengan sebutan Caca," sambil memegang punggung tanganku.
"..." aku menunduk malu.
"Yang harus Mbak Caca lakukan adalah sabar!" ujar Hafidzah dengan tersenyum.
"Aku gak nyangka kamu bisa setegar itu," Hafidzah memegang kedua bahuku lalu memeluku.
***
Allahuakbar... Allahuakbar...
Genta Adzan yang sangat menyejukan hati berkumandang di angkas bersahut-sahutan dengan merdunya pertanda telah memasuki waktu Isya.
"Mbak Caca, Ayo kita Shalat Isya berjamaah bersamaku dan A Yuduf!" ajak Hafidzah.
"..." aku yang sedang memasak untuk makan malam mengangguk tanda setuju.
Aku, Yusuf dan Hafidzah sudah mengambil wudhu dan sudah siap melaksanakan Shalat berjama'ah.Yusuf sebagai imam dan aku bersama hafidzah sebagai ma'mum. Ini adalah kali pertamaku menjalankan Shalat berjama'ah di imami oleh suamiku sendiri, hatiku terasa sejuk sekaligus tak menyangka.
Setelah melaksanakan Shalat berjama'ah Yusuf, Aku dan Hafidzah langsung mengangkat kedua tangan masing-masing untuk berdo'a.
"Ya Allah, berikanlah ke akuran pada istri-istri hamba seperti istri-istri Rasulullah..." do'a Yusuf dalam hati.
"Ya Allah, kuatkan hati ini dalam menjalankan rumah tangga dengan membagi cinta..." do'aku dalam hati.
Setelah melaksankan berdo'a Yusuf langsung membalikan badannya menghadap padaku dengan Hafidzah lalu menyodorkan tangannya padaku dengan Hafidzah, aku dan Hafidzah mencium tangan Yusuf secara bergantian.
"Sekarang kita makan malam! Aku yang masak," ujarku.
"Ayo!" seru Hafidzah.
"Kalian memang istri-istri hebatku! Tadi pagi Hafidzah yang masak sekarang Caca, masya Allah..." puji Yusuf pada kedua istrinya.
"Wah pasti masakan Mbak Caca enak banget..." Hafidzah berusaha memujiku.
Aku menatap Hafidzah tak percaya. Aku mulai merasa kagum pada tingkah Hafidzah yang begitu sabar. Bagaimana bisa Hafidzah berkata seperti itu. Apa Hafidzah tidak merasakan cemburu? Atau Hafidzah terlalu bodoh sampai-sampai ia tidak pernah memperdulikan perasaannya? Aku jadi merasa iri dengan ke baikan dan kesabaran Hafidzah. Aku berharap memiliki Yusuf seutuhnya, tapi aku mulai merasa kasihan pada Hafidzah yang merelakan suaminya menikah lagi.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 malam. Aku dan Hafidzah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Yusuf masuk kedalam kamarku karena ini adalah malam keduaku tidur bersamanya.
Tengah malam setelah bercinta aku melihat ketampanan Yusuf yang sedang tidur dengan tersenyum. Aku berharap seandanya jika Yusuf tidak membagi cinta aku pasti bahagia lebih dari ini. Tak lama kemudian wajah Yusuf mulai memucat dan keluar keringat dari wajahnya begitu deras, kemudian aku langsung memegang kening Yusuf sangatlah panas.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim! badan kamu panas sekali..." kataku panik.
Ketika aku akan beranjak dari tempat tidur untuk mengambil kompresan, Yusuf mengigau memanggil-manggil nama Hafidzah.
"Hafidzah! Hafidzah!" aku yang mendengar Yusuf memanggil-manggil Hafidzah tentu saja sakit hati lalu air mataku sepontan mengalir deras.
Bagai petir yang menyambar, lautan tumpah membawaku hanyut terlalu jauh dan bagai api yang membakarku sampai hangus. Kesakitanku mulai terasa pedih di hati yang tak berdaya ini.
Tak lama kemudian ketika aku sedang mengompresnya, Yusuf merasakan hangat di kepalanya karena kain kompresan. Yusuf mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha bangun dari tidurnya, ia mengusapi matanya dengan kedua tangannya dan ia melihat aku sedang mengompresi badannya dengan terisak-isak tangis.
"Caca, kamu belum tidur?" tanya Yusuf sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
"..." aku tidak menjawabnya.
"Loh! kenapa kamu nangis?" tanya Yusuf lagi.
"..." air mataku semakin deras.
"Kenapa?" tanya Yusuf penasaran.
"Apa kamu sekarang mulai mencintai Hafidzah?"
"Kenapa kamu nanya gitu?"
"Tadi kamu ngapain manggil-manggil Hafidzah?"
"..." Yusuf tidak menjawab pertanyaanku.
"Kamu gak bisa jawab, kan?" tanyaku.
"Maafkan aku! aku gak sadar," balas Yusuf sambil membalikan badanku dengan kedua tangannya lalu memelukku.
***
Keesaokan harinya Aku tak mau kalah dengan Hafidzah, aku bangun sangat pagi sekitar pukul 03.30 untuk menyiapkan sarapan.
Setelah aku menyiapkan sarapan, aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Ketika aku melewati kamar Hafidzah, Kamar Hafidzah terbuka dan aku lihat sosok Hafidzah sedang melaksanakan Shalat.
"Hafidzah pasti bangun lebih awal," gumamku.
Setelah mandi dan mengambil wudhu aku langsung membangunkan Yusuf yang masih tidur, aku gak mau harus Hafidzah yang membangunkan Yusuf seperti kemarin.
"Yusuf..." Yusuf langsung membukakan matanya.
"Ada apa sayang?" tanya Yusuf sambil mengusap matanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku sudah mandi dan menyiapkan sarapan, sekarang kamu mandi! Lalu sebelum makan kita Shalat berjam'ah!" perintahku pada Yusuf.
Yusuf mulai kagum dengan sikafku hari ini.