Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 40 - Maafkan!


__ADS_3

POV Hafidzah


Aku sadar kebahagiaanku, dukaku, tangisku itu ujian dari Allah SWT. Namun aku merasa itu bukan alasan untuk tidak bangkit dari keterpurukanku. Aku tahu Allah selalu ingin mahluknya selalu tetap bersyukur di setiap ujian datang.


Sekiranya aku harus membagi cinta aku ikhlas, telah Allah berikan dua berlian terindah yang di berikan Allah pada suamiku. Tetapi ada satu berlian yang rapuh yang membuat satu berliannya lagi menjadi terbawa kerapuhan itu.


____________________


Aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara alarm ponselku, aku pun menoleh pada jam dinding sudah menunujukkan pukul 04.30 pagi. Ku lihat ke samping tempat tidurku dan sekeliling kamarku tidak di temukan sosok suamiku. Aku pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, setelah itu aku keluar dari kamar mandi untuk melaksanakan Shalat Subuh. Setelah melaksanakan Shalat Subuh aku langsung masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Ketika aku sedang memasak nasi goreng aku teringat Mbak Caca yang kini telah menjadi mantan istri suamiku. Di mana Mbak Caca? Aku sangat merindukannya.


"Ya Allah. Berikan jalan yang terbaik untuk Mbak Caca. Sehatkanlah ia, lindungilah ia, berikanlah Mbak Caca kebahagiaan meskipun tidak dengan A Yusuf lagi ya Allah." do'aku dalam hati.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, aku langsung masuk kedalam kamar untuk mengambil ponselku untuk menghubungi A Yusuf karena dari sejak bangun tidur tadi aku belum bertemu dengannya.


Di kamar A Yusuf tengah sibuk memasukan pakaian kedalam koper entah akan kemana sepertinya A Yusuf akan pergi ke Bandung. Aku melanjutkan langkahku menghampiri A Yusuf untuk menanyakan maksudnya.


"A Yusuf..." tanyaku sambil duduk di tepi ranjang.


"Iya sayang..." balas A Yusuf sambil menutup koper.


"A Yusuf mau kemana?" tanyaku penasaran.


"Aa mau ke Bandung ada seminar beberapa hari ini, buku Aa mau di rilis bulan ini," balas A Yusuf.


"Sebelum Aa ke Bandung Hafidzah mau bicara sebentar sama Aa sebentar, boleh?"


"Mau bicara tentang apa?" A Yusuf langsung duduk di dekatku karena penasaran apa yang akan di bicarakan.


Aku menghela napas sebentar lalu membalikan tubuh A Yusuf dengan ke dua tanganku.


"A Yusuf, aku mohon Aa bawa Mbak Caca ke rumah ini lagi dan ajak Mbak Caca rujuk!"


"Apa kamu sudah gila ya!" A Yusuf kaget, ia langsung berdiri dan mulai meninggikan suaranya. Aku pun ikut berdiri.


"Aku nggak gila, aku cuman merasa kecewa sama sikaf A Yusuf terhadap Mbak Caca. Aku kasihan sama Mbak Caca di tinggal di saat lagi sayang-sayangnya!" aku pun mulai meninggikan suara juga.

__ADS_1


"Kamu itu cukup menjadi istri yang baik untukku, jangan memikirkan orang lain yang tak seharusnya kamu pikirkan!"


A Yusuf langsung pergi meninggalkanku di kamar sendirian dengan membawa kopernya tanpa pamit sambil membantingkan pintu kamar.


"Asstagfirullahaladzim, maafkan suamiku ya Allah. Kuatkan hamba dalam menghadapi ujian yang begitu rumit ini. Hamba tau ini adalah ujian keikhlasan terberat yang pernah aku jalani..."


***


Sudah satu minggu berlalu semenjak A Yusuf dan Mbak Caca bercerai dan kini aku tak tahu bagaimana keadaan Mbak Caca. Aku ingin tahu kondisi Mbak Caca di Bandung sebelum A Yusuf kembali pulang.


Waktu telah menunjukan pukul 10.00 siang. semenjak A Yusuf dan Mbak Caca bercerai aku tidak mempunyai teman di rumah ketika A Yusuf pergi jauh. Aku hanya termenung sendirian dalam sepi, hanya burung-burng berterbangan yang menemani di kala aku sendiri.


Hati Mbak Caca pasti sedang hancur karena kehilangan suami yang sangat ia cintai. Maka dari itu aku harus menemuinya hari ini juga.


Aku berangkat ke Bandung dengan menaiki transfortasi umum karna aku tidak bisa mengendarai mobil meskipun A Yusuf mempunyai dua Mobil, maklum hidupku ketika sebelum menikah hanya mengaji dan mengaji.


Sesampainya di Bandung aku langsung datang ke alamatnya Mbak Caca dengan menaiki ojek online dari terminal sampai di antar ke rumahnya.


Ketika aku telah sampai di rumahnya Mbak Caca aku menemukan sosok Ibu nya Mbak Caca sedang menyapu halaman.


"Assalamuallaikum," aku menghampiri Bu Yati dengan mengucapkan salam.


Aku menyodorkan tangan kepada Bu Yati dan Bu Yati pun membalas sodoran tangannya, aku pun mencium punggung tangan Bu Yati seraya tersenyum. Aku tak menyangka Bu Yati tidak dendam padaku.


"Mbak Caca nya ada?" aku menanyakan Mbak Caca sambil menongok ke sekeliling halaman rumah Mbak Caca.


"Ada, silahkan masuk Mbak!" seru Bu Yati mempersilahkan aku masuk kerumahnya.


Ketika aku hendak memasuki rumah Mbak Caca, aku menemukan sosok Mbak Caca sedang duduk di sopa sambil memainkan ponselnya. Mbak Caca terlihat keget ketika melihat aku datang kerumahnya.


"Assalamualaikum, Mbak Caca..."


"Waalaikumsalam, Hafidzah..."


Mbak Caca langsung sepontan memeluku dengan terisak-isak tangis.


"Hafidzah maafkan aku!" Mbak Caca meminta maaf dalam pelukanku.

__ADS_1


"Nggak kok, ini bukan salah Mbak Caca. Oya! Gimana kabar Mbak Caca? Aku khawatir loh..."


"Baik Zah, gimana kabar kamu dan janinnya?"


"Alhamdulillah sehat,"


"Oya! Kamu ada apa ya tiba-tiba datang kerumah aku? Silahkan duduk Zah!" Mbak Caca terlihat heran dengan kedatanganku.


"Aku mau Mbak Caca kembali dengan A Yusuf!" kataku to the point.


"Hafidzah, kamu jangan mengajak aku kembali lagi dengan Yusuf! Aku di sini gapapa kok, aku baik-baik aja jangan khawatir!" ujar Mbak Caca.


"Tapi aku tahu Mbak Caca masih mencintai Yusuf..." aku mulai membujuk Mbak Caca.


"Hafidzah, kamu jangan mikirin aku ya! Yang harus kamu pikirkan itu kamu dan kesehatan bayi kamu!"


"Ta... Tapi Mbak,"


"Udah! aku gapapa," kata Mbak Caca seraya tersenyum.


"Maafkan A Yusuf, Mbak!" kataku sambil menangis.


"Sudah-sudah!" Mbak Caca mengusap air mataku lalu memelukku.


Tetaplah tegar meski yang lain berguguran. Tetaplah tersenyum meskipun perjuangan ini terasa pahit dan berliku. Dhiya Zafira


Setelah selesai berbincang-bincang aku langsung pamit pulang karena hari sudah sore.


"Mbak, aku pulang dulu ya..."


"Hari sudah sore mending kamu nginep aja di sini!"


"Aku nggak pamit sama A Yusuf karena A Yusuf sedang di Bandung,"


"Oh Yusuf pasti sedang di gedung penerbit ya?"


"Iya Mbak ada seminar,"

__ADS_1


"Ya udah hati-hati ya!"


Aku pun bergegas meninggalkan Mbak Caca.


__ADS_2