Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 59 - Mu'alaf


__ADS_3

“Aku udah di sudat dan aku udah mandi besar!” ucap Morgan padaku di sebuah kafe di Bandung.


“Masya Allah, aku terharu dengarnya…” ucapku seraya meneteskan air mata dan menutup mulutku dengan tangan kananku.


“Terus apa lagi yang harus aku lakukan?” tanya Morgan sambil menyeruput kopi.


“Tahap selanjutnya adalah syahadat,” balasku seraya tersenyum.


“Apa itu syahadat?” tanya Morgan.


“Dua kalimat syahadat adalah dua perkataan pengakuan yang diucapkan dengan lisan dan dibenari oleh hati untuk menjadikan diri orang Islam.” Ucapku pada Morgan.


“Lalu?” tanya Morgan dengan tatapan yang serius.


“Kalimat yang di ucapkanya adalah Berikut lafaz dua kalimat syahadat:


أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ”


“Aku belum bisa mengucapkanya!”


“Kamu akan di bimbing oleh para ulama. Nanti aku akan antar kamu ke sebuah pesantren tempat dulu aku menimba ilmu…” ucapku pada Morgan sambil memasukan makanan kedalam mulut.


“Terimakasih ya, Raisa…” ucap Morgan padaku.


“Iya sama-sama…” balasku sambil mengangguk-anggukan kepala.


Morgan tersenyum kecil melihati diriku berbicara tentang syahadat. Lalu ia menatap mataku dengan tanpa mengedip sedikitpun. Ada kekaguman yang terbersit dalam hatinya melihat kesolihahan diriku. Ia berpikir bahwa tidak salah melangkah jikalau dirinya menjadi seorang mu’alaf.


“Kamu kenapa lihatin aku seperti itu?” tanyaku heran. Morgan masih menatapku.


“Hey! Melamun aja!”


Morgan terbangun dari lamunannya lalu ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.


“Maaf!”


“Iya, gapapa,”


“Jadi kapan kita ke pesantren?” tanya Morgan tak sabar.


“Besok pagi aku akan antar kamu,” balasku seraya tersenyum.


“Oke,” balas Morgan membalas senyumanku.


Aku bersama Morgan akhirnya ngobrol sampai waktu sore telah menunjukan pukul 17.00. Sudah satu setengah jam aku berbicara dengan Morgan. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena di rumah belum masak untuk makan malam.


“Udah sore, aku pulang dulu!” ucapku pada Morgan.


“…” Morgan menganggukan kepalanya beberapa kali lalu mengambil kunci mobilnya untuk mengantarku pulang.


****


Malam hari Yusuf bersama Hafidzah sedang duduk di meja makan sambil berhadap-hadapan. Yusuf menatap Hafidzah dengan mata yang kosong.


“Kenapa, A?” ucap Hafidzah pada Yusuf yang sedang menuangkan makanan kedalam piring.

__ADS_1


“Kenapa, A?” ucap Hafidzah lagi.


“Kenapa, A?” ucap Hafidzah lagi sambil memegangi tangan Yusuf. Yusuf tiba-tiba terbangun dari lamunannya.


“Iya kenapa, Ca?” ucap Yusuf.


Hafidzah yang mendengar Yusuf salah menyebut nama ia langsung diam tanpa kata.


“Eh Dza, maksudku!” ucap Morgan kaget karena ia keceplosan.


“Kenapa sih Aa dari kemarin aneh terus?!” tanya Hafidzah mulai meninggikan suaranya.


“Aa memikirkan Raisa, puas?!” balas Yusuf dengan tatapan yang sangat tajam.


Hafidzah yang mendengar perkataan Yusuf sepontan berderai air mata, ia tak menyangka Yusuf akan berkata seperti itu.


“Aa sudah donk! Aa mau sampai kapan mau seperti ini?” tanya Hafidzah sambil terisak-isak tangis.


“Sampai Raisa menjadi istriku lagi!” balas Yusuf tegas.


“Terus apa Aa tidak memikirkan perasaabku?”


Yusuf yang mendengar perkataan Hafidzah Yusuf tidak berkutik lagi, Yusuf hanya diam dan pergi.


“Hikz… Hikz… Hikz… Astagfirullahaladzim…” ucap Hafidzah menangis.


****


Keesokan harinya, di sebuah pesantren terbesar di Bandung. Morgan nampak serius menatap ulama besar yang akan membimbing Morgan membaca syahadat. Di sana sudah ada beberapa saksi yang akan menyaksikan Morgan masuk islam. Aku tersenyum bahagia karena melihat keseriusan Morgan sampai saat ini.


Bacaan Syahadat:


أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ


Asyhadu al-laa ilaaha illa-Llah


“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah” ucap pak ustadz dan di ikuti oleh Morgan


وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ


wa Asyhadu anna muhammadar rosuulullah


“Dan (aku bersaksi) bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah” ucap pak ustadz dan di ikuti oleh Morgan lagi.


“Alhamdulillah, sekarang kamu sudah masuk Islam semoga istiqomah!” ucap pak ustadz.


“Terimakasih, Pak Uastadz!” ucap Morgan pada pak ustadz.


“Setelah menjadi seorang Muslim, orang itu harus mandi sebagai bentuk pemurnian/ pembersihan. Ini merupakan simbol yang melambangkan pembersihan dari dosa masa lalu. Seperti yang kita ketahui seorang mualaf mempunyai catatan bersih, seperti baru terlahir dari rahim Ibu, dan kemudian sebisa mungkin menjaga catatan ini tetap bersih dan selalu berusaha melakukan perbuatan baik. Seperti halnya dahulu Rasulullah memerintahkan mandi Tsumamah bin Utsal dan Qis bin ‘Ashim ketika masuk Islam.” Ucap pak ustad lagi sambil mengusapi bahu Morgan.


“Siap Ustadz!”


“Dan di wajibkan bagi orang yang baru masuk Islam untuk salat lima waktu dan mengerjakan kewajiban lainnya. Seperti membaca Al-Quran, menjalankan semua perintah agama dan menjauhkan larangan agama, dan segala sesuatu ibadah menurut Islam.”


“kalau begitu dengan siapa saya harus belajar shalat?” tanya Morgan khawatir.

__ADS_1


“Biar saya saja yang mengajarkan dan membimbimng Morgan, Pak ustadz!” ucapku.


Morgan tersenyum tipis menandakan kepuasan di hatinya dan merasa plong karena kini Morgan telah menjadi mu’alaf.


Setelah aku keluar dari pondok. Aku berjalan bersisian dengan Morgan, aku tersenyum melihatnya karena kini Morgan telah seiman dengan agamaku.


****


Tepat pukul 19.00. Yusuf duduk termenung di sopa ruang keluarga. Ia memandangi foto pernikahannya dengan Hafidzah namun tatapannya kosong.


Hati Yusuf kini masih menyayangi dan mencintaiku. Namun apa daya aku sudah tak mencintai Yusuf lagi.


Tak lama kemudian Yusuf melihat Hafidzah berjalan kedapur. Namun, Hafidzah tidak menyapanya karena ia masih kecewa dengan sikaf Yusuf kemarin.


“Hafidzah ada masalah?” tanya Yusuf pada Hafidzah.


“…” Hafidzah hanya terdiam tanpa menghiraukannya.


“Kamu kenapa?” tanya Yusuf lagi.


“Aa nggak sadar dengan sikaf Aa kemarin?!” Hafidzah menjawab dengan meninggikan suaranya.


“Astagfirullahaladzim, maafkan Aa, Sayang!” ucap Yusuf pada Hafidzah lalu memeluk Hafidzah.


“Hikz… Hikz… Hikz… Aa jangan seperti ini terus! Tolong lihat aku, A! Lihat perasaan aku!” ucap Hafidzah seraya menangis.


“Maafkan aku Hafidzah, Maafkan aku!” ucap Yusuf lagi.


“Eaa… Eaa…” Suara tangisan Mikaila terdengar dari kamar bayi.


“Udah dulu A, aku harus menyusui Mikaila!” ucap Hafidzah lalu melepaskan pelukan Yusuf dan pergi.


“Maafkan aku, istriku…” gumam Yusuf sambil melihat punggung Hafidzah yang hendak memasuki kamar bayi.


****


Malam hari, aku, Ibu, Kak Morgan bersama Delia sedang duduk berhadap-hadapan di meja makan untuk menikmati makan malam.


“Tau, gak?” ucapku memulai pembicaraan.


“Apa?” tanya Delia dan Ibu kompak.


“Morgan sudah mu’alaf, loh!” ucapku.


“Masa?” tanya Delia.


“Iya aku sendiri tadi yang menyaksikan dan Morgan juga sudah mengucapkan dua kalimat syahadat.”


“Terus-terus!” kata Kak Rangga sambil memasuki makanan kedalam mulutnya.


“Iya pokonya Morgan sekarang sudah masuk islam, sudah seiman sama kita…” balasku seraya tersenyum.


“Alhamdulillah kalau begitu…” ucap Ibu.


“Jadi kapan kalian nikah?” ucap Delia padaku.

__ADS_1


“Do’ain aja Delia!” balasku dengan wajah ceria.


__ADS_2