Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 50 - Sesak Di Dada


__ADS_3

❤Karena memang sesungguhnya, manik-manik tasbihku tetap berbeda dengan manik-manik rosariomu.❤


~POPBELA.COM~


----------------------------------------


Sinar mentari mulai tenggelam, mulai pergi dari jendela rumah, pergi dengan penuh kelembutan. Aku duduk di sopa sambil menonton film bioskop yang di tayangkan di televisi yang berjudul mu'alaf yang membuat diriku teringat pada Morgan. Apakah Morgan akan sama seperti yang di film kan di televisi? Apakah Morgan akan mu'alaf dan akan jadi jodohku?


Kak Rangga yang sedang bermain ponsel di ruang keluarga merasa terganggu dengan suara berisik panggilan telepon dari ponselku.


"Caca!" Kak Rangga berteriak memanggilku.


"Iya, Kak!" balasku.


"Ini suara handphone kamu, berisik!" ucap Kak Rangga. Aku pun langsung bergegas mengambil ponselku dan aku pun melirik pada nama pemanggil di layar ponselku menunjukan nama Morgan.


Raisa : "Assalamuallaikum,"


Morgan : "Waalaikumsalam,"


Raisa : "Iya,Gan?"


Morgan : "Akhirnya kamu angkat telepon aku,"


Raisa : "Emangnya ada apa? Kan udah aku tegaskan cinta kita itu tak mungkin bersatu!"


Belum sempat Morgan menjawab perkataanku, aku telah mematikan ponselnya terlebih dahulu.


Tiga puluh menit kemudian aku mendengar ketukan pintu dari arah pintu depan beberapa kali. Aku pun bangkit dan bergegas untuk membukakan pintu.


Ketika aku membukakan pintu, ternyata yang datang adalah Morgan. Aku menatap matanya dengan tajam. Jantungku mulai berdegup kencang. Ya Allah perasaan apakah ini? Aku tak tahu apa yang harus aku katakan padanya seakan-akan bibirku bergetar, kakiku lemas dan tatapanku mulai kosong.


"Raisa..." sapa Morgan dengan lembut. Pikiranku masih di luar nalar, tidak mendengar ucapan Morgan.


"Raisa..." sapa Morgan lagi. Aku pun terkejut lalu sepontan memalingkan pandanganku ke arah lain.


"Wa-wa... Waalaikumsalam..." jawabku dengan perkataan yang terbata-bata.


"Oh maaf! Assalamuallaikum,"


"Waalaikumsalam," balasku dengan lirih.


"Kamu kenapa sih? Gerogi ya deket cowok ganteng!" Morgan berusaha bercanda denganku.

__ADS_1


"Morgan maaf, lebih baik kamu nggak usah menemui aku lagi! Aku mohon!" air mataku mulai mengalir di pipiku.


"Memangnya kenapa Raisa? Aku sangat mencintai kamu..."


"Maafkan aku Morgan, lebih baik kamu mencari perempuan lain yang seiman denganmu! Bagaimana pun kita tak mungkin bersama," sambil terisak-isak tangis.


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirku mulai kaku. Morgan masih berdiri di depan rumahku masih memperhatikanku sedangkan aku masuk kedalam rumah dan duduk di sopa. Aku bersama Morgan tidak mengeluarkan perkataan apa-apalagi. Morgan denganku hanya bertukar pandangan dengan keheningan. Aku memalingkan pandanganku lalu bergegas masuk ke kamar.Tak lama kemudian Kak Rangga menghampiri Morgan yang masih berdiri di sana.


"Kamu Morgan?" tanya Kak Rangga sambil memegangi pundak Morgan yang sebelah kiri. Morgan sepontan melirik pada tangan kiri kak Rangga di atas pundaknya.


"Iya kamu siapa?" tanya Morgan.


"Aku Kakaknya Raisa," balas Kak Rangga sambil mempersilahkan masuk kedalam Rumah.


"Oh maaf, Kak!" Morgan mulai panik.


"Nggak usah panik! Aku bukan orang jahat, aku hanya mau menegaskan sama kamu, dunia kami berbeda dengan duniamu, Kamu orang kaya kami orang biasa, Kamu orang terhormat kami orang biasa,"


"Tapi Kak, aku akan menerima Raisa apa adanya!" tegas Morgan.


"Aku tahu, tapi kami berbeda keyakinan denganmu. Aku mohon sekarang kamu cari yang seiman denganmu dan menjauh dari Raisa!"


Morgan yang mendengar perkataan dari Kak Rangga Morgan langsung pamit dari Kak Rangga lalu pergi dari rumahku.


Hati Morgan sangat hancur ketika menerima semua kenyataan ini, batinnya menangis, menjerit dan merengis sakit tanpa darah.


"kenapa harus kamu Raisa? Kenapa harus kamu yang aku cintai? Sungguh rasa ini menyesakan dada!" batin Morgan menjerit. Sambil menyalakan mobilnya dan mulai mengendarai mobilnya.


***


Sudah seminggu yang lalu semenjak terakhir Morgan kerumahku aku sudah berusaha menerima semua kenyataan dengan lapang dada. Aku berusaha mulai melupakan Morgan yang kini masih saja menguasai hatiku. Keputusan ini mutlak dari diriku sendiri, karena dengan percuma jika aku terus memikirkan yang tidak pasti aku akan semakin sakit dan aku akan semakin jauh dari Allah.


"Asstagfirullahaladzim, apakah ini teguran dari Allah jika selama ini aku terlalu banyak memikirkannya di banding memikirkan Tuhanku? Maafkan hambamu ini ya Allah..." kataku dalam hati.


"Dar!" aku terbangun dari lamunanku.


"Ih! Kak Rangga bikin aku kaget deh..." ucapku seraya cemberut.


"Kenapa melamun?" tanya Kak Rangga sambil memasukan roti kedalam mulutnya.


"Apaan sih!" balasku kesal.


"Katanya kamu mau ke toko buku?"

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim! Iya iya makasih ya Kak? Daaahhhh!" aku langsung bergegas pergi untuk ke toko buku mencari bahan untuk mengajar besok.


"Hey,sarapan dulu!"


"Dadah..."


Sesampainya di toko buku aku tak sengaja bertemu dengan sahabatku Delia yang kini resmi menjadi calon istrinya Kak Rangga. Di Toko buku aku mencari buku sambil bertukar cerita dengan Delia. Delia akan menikah dengan Kak Rangga minggu depan.


"Eh Del, udah persiapan sampai mana?" tanyaku sambil membayar buku ke kasir.


"Dikit lagi tinggal sebar undangan aja," balas Delia.


"Syukur deh,"


"Kalau Kakakmu udah sampai mana?" tanya Delia balik.


"Beres! Malahan Kak Rangga udah sebar undangan,"


"Jadi gak sabar!"


Setelah membayar buku Aku bersama Delia langsung bergegas mencari kafe untuk makan sebentar karena masih banyak yang di bicarakan.


"Eh Ca, gimana kamu sama Morgan?" tanya Delia sambil memilih-milih makanan di buku menu.


"Kamu tahu gak? Kalau Morga itu berbeda keyakinan sama aku..." ucapku pelan-pelan.


"Apa?!" Delia kaget. Aku pun sepontan menyimpan telunjukku di depan bibirnya.


"Ssst! Pelan-pelan!"


"Kok kamu nggak pernah cerita?" tanya Delia penasaran sampai lupa sedang memilih menu.


"Aku juga baru tahu,"


"Terus?"


"Gimana donk solusinya?"


"Gampang, kalau memang alasannya cinta kalian masalah perbedaan keyakinan kamu bisa buat Morgan mu'alaf dulu!" ujar Delia memberikan saran.


"Kamu gila ya?!" aku tidak setuju dengan pernyataan Delia.


"Ya kamu harus coba lah tanya sama dia! Kalau Morga mau mu'alaf berarti kamu sama Morgan memang jodoh dan kalau memang dia tetap dengan keyakinannya kamu harus relakan dan melupakan Morgan!"

__ADS_1


"Iya juga ya..." aku sepontan menunduk dan berusaha mencerna semua perkataan yang di lontarkan Delia.


Malam hari aku duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselku. Aku kembali teringat pada perkataan Delia soal Morgan mu'alaf. Apakah dia mau menjadi mu'alaf? Aku tetap tidak yakin dengan saran yang di berikan Delia. Aku harus bangun malam ini untuk shalat istiharah meminta pada Allah petunjuk yang terbaik untukku.


__ADS_2