Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 29 - Pernikahan Kedua.


__ADS_3

Seminggu Setelah Ayah Meninggal.


Aku menangis mengingat Ayah yang sudah tiada, jika Ayah masih ada Ayah pasti tidak akan mengizinkanku menikah dengan laki-laki yang sudah mempunyai istri. Aku tak tahu harus bahagia atau sedih menjalankan rumah tangga dengan laki-laki yang sudah mempunyai istri.


"Kamu jangan pergi kemana-mana hari ini! Karena kita akan pergi ke salon untuk memilih baju pengantin untukmu," perintah Ibu.


Aku tersenyum melihat kesabaran Ibu terhadapku, bagaimana bisa Ibu setegar itu mengizinkan aku menikah denga orang yang sudah mempunyai istri.


"Makasih, Bu..." aku menatap Ibu lalu memeluknya.


"..." Ibu meneteskan air mata lalu membalas pelukanku.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu terdengar dari arah pintu depan, Ibu pun melepaskan pelukanku lalu bergegas membukakan pintu.


"Rangga..." Kata Ibu.


"Iya Bu, ini Rangga..." balas Ka Rangga langsung merangkul Ibu.


"Kamu kok gak bilang-bilang kalau mau pulang!" ujar Ibu sembari memegang kedua bahunya.


"Kan surprise, Bu" balas Kak Rangga lalu mencium Ibu.


"Kebetulan kamu pulang, Besok adalah pernikahan Caca..." Ibu memberi tahu Kak Rangga.


"Apa!" jawab Kak Rangga Kaget.


"Iya, Besok Caca nikah..."


"Kok gak ngasih tahu Rangga dari Awal sih, Bu?" tanya Kak Rangga Heran.


"Awalnya Ibu mau ngasih tahu tapi kasihan kamu kan jauh dan Caca juga menikah dengan laki-laki yang sudah punya istri..." ujar Ibu.

__ADS_1


"A... Apa? kok Caca mau-maunya sih menikah sama yang udah punya istri?"


"Ya Ibu gak bisa berbuat apa-apa, itu udah jadi keputusan Caca..."


Kak Rangga sangat kaget mendengar aku menikah dengan laki-laki yang sudah mempunyai istri, ia berharap ini adalah yang terbaik untukku dan keluarga nanti.


***


Yusuf telah mendaftarkan pernikahan keduanya denganku di KUA. Yusuf berharap setelah ia menikah denganku nanti, aku dan Hafidzah bisa akur dan menjadi keluarga yang bahagia.


Kini Hafidzah sedang mengantar Yusuf ke salon untuk memilih jas yang akan di pakai di pernikahan Yusuf denganku besok. Sebenarannya Hafidzah tak kuasa menahan tagnisnya, tetapi Hafidzah berusaha menahan ait matanya agar tidak jatuh.


Setelah Yusuf memakai jas yang akan di kenakan di pernikahannya besok, Hafidzah beranjak dari tempat duduknya lalu melihat ketampanan Yusuf yang memukau.


"Masya Allah A..." Hafidzah terpana melihat ketampanan Yusuf.


"Gimana Dzah?" tanya Yusuf.


"Sempurna A, pasti Caca akan terpukau juga melihat ketampanan Aa," ujar Hafidzah sambil menunduk dan air matanya tak bisa di bendung lagi.


"Sayang, maafkan aku!" Yusuf memegang pipi Hafidzah.


"..." Hafidzah tidak kuasa menatap Yusuf.


"Hafidzah kalau pernikahanku dengan Caca membuatmu sedih, aku bisa bicara pada Caca untuk membatalkan pernikahannya," ujar Yusuf sambil memeluk Hafidzah.


"Ja... ja... jangan A, jangan di batalkan pernikahannya! Aku ikhlas A," cegah Hafidzah.


Yusuf sudah merasa nyaman dengan Hafidzah, ia merasa kalau Hafidzah adalah satu-satunya perempuan yang terbaik yang di ciptakan Tuhan untuknya dengan keangkuhannya, kebaikannya, kesabarannya, kecerdasannya, dan kesolihannya. Hafidzah adalah wanita solihah pujaan hati yang takan ada laki-laki lain yang bisa memiliki kesolihan Hafidzah. Yusuf merasa beruntung memiliki Hafidzah.


***


Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Yusuf. Seluruh keluarga sudah berkumpul di kediamanku dengan antusias menghadiri acara pernikahanku. Kedua sahabat Delia dan Astuti pun sudah hadir di pernikahanku.

__ADS_1


Aku menggunakan kebaya berwarna merah lengkap dengan kimar sampai menutupi dadaku. Aku melihat pantulan wajahku di dalam cermin, aku merasa anggun mengenakan kebaya ini dengan balutan make up tipis dan lipstik warna merah jambu menunjang penampilanku.


Aku merasa bahagia karena impianku menikah dengan Yusuf akan segara tercapai, tetapi aku merasa sedih karena mengingat nasibku harus membagi cinta dengan perempuan lain.


"Kamu yakin mau menikah dengan Yusuf yang udah punya istri?" tanya Delia merasa khawatir.


"Aku yakin Del, do'akan aku semoga ini yang terbaik!" balasku.


"Semangat ya sayang!" sambung Astuti sambil memeluku.


Dar... Pltok... Pltok... Des... Dar...


Suara petasan terdengar dari arah halaman rumah tanda pengantin laki-laki telah tiba. Tubuhku mendadak panas dingin dan tubuhku merasa keram.


Penganktin laki-laki dan seluruh tamu undangan masuk kedalam rumah untuk menyaksikan ijab qobul yang akan di kumandangan oleh Yusuf. Semua tamu undangan terpukau melihat ketampanan Yusuf memakai setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupunya. Tamu undangan merasa heran kenapa pengantin laki-laki menggandeng perempuan cantik memakai kimar merah.


Kak Rangga sebagai waliku menjabat tangan Yusuf untuk melaksanakan ijab qobulnya.


Kak Rangga : "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Muhamad Yusuf dengan adikku Raisa Adita binti Agus Salim Almarhum dengan mas kawin seperangkat alat Shalat di bayar tunai!"


Yusuf : "Saya terima nikah dan kawinnya Raisa Adita bin Agus Salim Almarhun dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


"Sah..."


"SAH!" semua tamu undangan dan para saksi mengatakan sah.


Air mata Hafidzah turun dengan deras, ia berusaha merelakan suaminya menikah lagi.


"Kuat Hafidzah, Kuat!" batin Hafidzah.


Yusuf menoleh kehadapanku lalu menyodorkan tangannya, aku pun menerima sodoran tangannya dan mencium punggung tangan Yusuf.


"Selamat ya Mbak Caca..." Hafidzah mengucapkan selamat padaku dengan lirih.

__ADS_1


"Makasih Hafidzah," balasku.


Acara pernikahanku sudah selesai, semua tamu undangan pun sudah pulang.


__ADS_2