
"Caca!"
Yusuf menghentikan langkahku yang akan memasuki kamarku. Aku memutar tubuhku ke hadapan Yusuf dengan tubuh gemeteran.
"I... Iya, Suf..." kataku dengan perkataan yang terbata-bata.
"Dari mana kamu jam segini belum pulang?" tanya Yusuf dengan mengeluarkan nada tinggi.
"A... Aku... Aku dari mall," aku merasa takut Yusuf marah.
"Mau apa? Sama siapa?" tanya Yusuf sambil mendekati tubuhku. Aku semakin gemeteran melihat tingkah Yusuf yang terlihat marah.
"Aku jalan-jalan sama Delia," aku terpaksa berbohong.
"Oh gitu ya? Tadi aku telepon Delia katanya tidak sedang sama kamu tuh..."
"Eng... Nggak... Nggak kok, tapi..." aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Udah berani ya kamu membohongi aku!" aku di bentak oleh Yusuf.
Aku menghapus air mataku dengan kedua tanganku yang perlahan megalir deras di pipiku. Memang ini semua salahku tidak seharusnya aku menemui laki-laki lain ketika diriku mempunyai suami. Tapi aku butuh sandaran yang mampu menghapus luka karena rasa sakit di madu.
Andai waktu dapat di putar, aku tidak akan memilih untuk di madu dan andai waktu dapat di putar aku ingin mencari laki-laki yang setia padaku tanpa di bagi cintanya. Tuhan mungkin ini yang di namakan surga yang tak di rindukan.
"Caca!" Suara teriakan Yusuf mendenging di telingaku. Aku pun terbangun dari lamunanku.
"Yusuf, apa kamu mencintaiku?" aku membalikan tubuh Yusuf dengan kedua tanganku menghadap ke arahku.
"..." Yusuf tidak menjawab, ia hanya memelototi diriku.
"Jawab Yusuf!"
"Sekarang cintaku pada Hafidzah lebih besar daripada cintaku padamu," Yusuf memalingkan pandangannya.
"Kalau begitu ceraikan aku!"
Cinta itu telah memudar dari pelupuk hati Yusuf, begitu pun aku. Aku merasa rumah tanggaku dengan Yusuf sudah tidak bisa di pertahankan.
"Dan jika kalian bertekad kuat untuk thalaq, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (Q.S al-Baqoroh:227).
__ADS_1
Konteks ayat tersebut adalah bentuk peringatan dan ancaman: “jika kalian berbuat demikian…sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”, sehingga itu menunjukkan bahwa perceraian tidaklah disukai oleh Allah. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Syaikh Ibn Utsaimin rahimamullah.
Bukannya hati ini tak hancur dan bukan pula hati ini diam pasrah, tetapi hanya keikhlasan yang mengiringku, Ya Allah semoga ini adalah keputudan yang tepat untukku.
"Oke, sekarang aku akan ceraikan kamu, dan mulai hari ini kamu keluar dari rumah ini!"
"Hikz... Hikz... Yusuf, Jangan pernah lupakan kenangan manis yang selama ini kita pernah lewati bersama walaupun sekarang ini kita berpisah aku berharap kamu bersama Hafizah bahagia dan semoga janin yang di kandung Hafizah sehat selalu..." aku langsung bergegas memasuki kamar untuk berkemas barang-barangku.
Yusuf langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya karena sangat setres.
"Bodoh kamu Yusuf! Bodoh!" gerutu Yusuf dalam kamar mandi.
Hafidzah yang mendengar percekcokan di ruang tamu langsung keluar dan menghampiri tetapi aku dan Yusuf sudah tak ada lagi di ruangan tamu.
Hafidzah melihat diriku keluar kamar dengan menarik koper sambil terisak tangis.
"Loh! Mbak Caca mau kemana?" tanya Hafidzah sambil menahanku.
Aku menoleh pada Hafidzah dan berkata "Hafidzah, terima kasih kamu udah menjadi istri yang baik untuk Yusuf, aku do'akan semoga kamu bahagia dengan memiliki Yusuf seutuhnya dan semoga janin yang dalam kandungan kamu sehat selalu..." aku pun memalingkan pandanganku terhadap Hafidzah lalu pergi.
"Ta... Tapi, Mbak..." Hafidzah berusaha menahanku.
Hafidzah tak sadar dirinya meneteskan air mata begitu deras di pipinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Hafidzah.
Hafidzah duduk lemas di tepi sopa sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Tak lama kemudian Yusuf keluar dari kamar mandi dengan pakaian basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Aa sama Mbak Caca kenapa? Tadi aku lihat Mbak Caca pergi membawa koper dan sekarang aku lihat Aa basah kuyup gini, pada kenapa sih?" Hafidzah bertanya-tanya.
Yusuf membalikan badan Hafidzah menghadap kearahnya lalu mencium kening Hafidzah.
"I Love you Hafidzah..." kata Yusuf sambil memegang kedua pipi Hafidzah oleh kedua tangannya.
"Kenapa?" tanya Hafidzah semakin penasaran.
"Kamu sekarang udah menjadi istri Aa seutuhnya dan Aa akan menjaga istri Aa satu-satunya dan anak kita," balas Yusuf sambil mengusap-usap perut Hafidzah yang masih rata.
__ADS_1
"Ma... Maksud Aa? Aa sudah menceraikan Mbak Caca?"
"Iya," balas Yusuf seraya tersenyum.
"Tega kamu A! Aa sadar apa yang sudah Aa lakukan? Aku kecewa sama Aa tega-teganya Aa meceraikan Mbak Caca dangan santainya dan bisa tersenyum kayak gitu," Hafidzah menepiskan tangan Yusuf yang sedang memegangi perutnya lalu pergi ke kamarnya.
"Kenapa sih kamu selalu baik sama dia? Kamu itu harus sadar Zah! Kamu itu sudah sering di sakiti Caca," Yusuf mulai emosi.
Hafidzah tidak menghiraukannya lagi, ia hanya terus melangkah memasuki kamarnya.
Sesampainya di kamar Hafidzah langsung naik ke atas ranjang dan mengambil ponselnya berusaha menghubungiku.
"Mbak Caca kemana sih? Kok gak aktif-aktif,"
"Duh! Mbak Caca angkat donk!" sambil menempelkan ponselnya di telinganya.
***
Pada malam hari sekitar pukul 08.00 aku sampai di rumah Ibu.
Tok... Tok... Tok...
Aku mengetuk pintu rumah Ibu dan tak lama kemudian Ibu membukakan pintunya. Ibu melihat aku dalam keadaan muka pucat sambil menarik koper.
"Caca..." sapa Ibu.
"Hikz... Hikz... Ibu..." aku sepontan memeluk Ibu, Ibu pun membalas pelukanku.
"Kenapa?" tanya Ibu sambil mengusap-usap kepalaku dalam pelukannya.
"Aku udah cerai sama Yusuf,"
"A... Apa?"
"Iya Bu, aku udah cerai..."
"Caca, mungkin ini adalah jawaban Allah untukmu agar kamu bisa bahagia dengan orang lain. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Yusuf. Sabar Sayang! Ibu akan selalu ada untukmu,"
"Makasih," aku pun semakin terisak tangis.
__ADS_1