Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 44 - Masih Mencintai


__ADS_3

Suara Ayam berkokok, membangunkan Hafidzah yang sedang tertidur lelap harus membukakan matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu melihat kesekeliling ruangan kamar tidurnya tidak menemukan sosok Yusuf di sampingnya. Lalu Hafidzah menghembuskan napasnya secara kasar sambil mengusap perut yang berisi janin yang kini mulai membesar.


"Sehat ya Nak! Di perut Ibu..." batin Hafidzah.


Seperti biasa Hafidzah bangun pagi, ia menyiapkan makanan untuk sarapan pagi bersama Yusuf dan janinnya.


Tak lama kemudian terlintas di pikirannya terbayang semua tentang Yusuf ketika jadi suamiku ia tak sengaja menjatuhkan air matanya. Tak lama kemudian Yusuf muncul di hadapan Hafidzah.


"Sayang..." Sapa Yusuf dengan nada lembut.


Hafidzah terkejut lalu mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


"Iya..." balas Hafidzah dengan lirih.


"Kenapa kok seperti tak bergairah gitu?" tanya Yusuf sambil memegangi dagu Yusuf.


"A, aku mau tanya sama Aa! Apa Aa masih peduli sama Mbak Caca?"


"Kok nanya nya gitu?"


"Jawab aja A!"


Jantung Yusuf berdetak kencang hanya dengan mendengar nama Caca. Yusuf bahkan tak fokus dengan kopi yang di bawanya. Yusuf tidak bisa berkata apa-apa, dalam hati kecilnya ia masih memikirkan aku dan masih sedikit tersirat dalam ingatannya tentang diriku.


Yusuf memandangi sang istri sampai-sampai ia tak sadar air matanya menetes dengan perlahan membasahi pipinya.


"Maafkan aku istriku..." Yusuf mengatakan maaf dengan lirih sambil menarik tangan Hafidzah lalu memeluknya. Hafidzah pun sepontan meneteskan air mata.


"Kehamilan mu sudah semakin besar, kamu jangan memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya kamu pikirkan!" ujarnya dalam pelukan Hafidzah.


"Iya A,"


Hafidzah memejamkan matanya sambil melapalkan do'a dalam hatinya ia berharap aku baik-baik saja dimana pun aku berada.


"Ya sudah A, aku masuk kamar dulu ya..." lalu Hafidzah melepaskan pelukan Yusuf lalu pergi menuju kamarnya karena merasa pusing.


Setelah Hafidzah masuk ke dalam kamar, Yusuf langsung membawa laptop lalu membawa mobil untuk pergi ke taman untuk mencari insfirasi membuat buku terbarunya.


***


Ketika selesai berbincang-bincang dengan Astuti Morgan langsung bergegas menuju rumahku dengan mengendarai mobil mewahnya. Ia melajukan mobilnya dengan menggunakan kecepatan tinggi karena merasa tak sabar.


Lima belas menit kemudian bel rumahku berbunyi. Aku yang sedang duduk di tepi sopa langsung bangkit dan menuju pintu depan. Aku bertanya-tanya siapa yang datang?


"Hallo..."


Ketika aku membukakan pintu, aku terkejut ternyata yang datang adalah Morgan. Aku merasa heran kenapa Morgan bisa alamat rumahku.


"Waalaikumsalam..."

__ADS_1


Aku tidak tahu mengapa Morgan tidak mengucapkan salam.


"Hari ini kamu terlihat cantik..."


Aku yang mendengar pujian dari Morgan tentu saja kaget, tak biasanya Morgan bersikap seperti itu.


"Silahkan masuk Gan!"


Aku pun mempersilahkan Morgan memasuki ruang tamu lalu mempersilahkan ia untuk duduk, Morgan pun mengikutiku lalu duduk di sopa ruang tamu rumahku.


"Tumben Gan kamu kesini?" tanyaku sambil tetsenyum.


"Tapi kamu seneng kan aku datang kesini?" balas Morgan.


"Ih apaan sih biasa aja..." ujarku sambil tersenyum malu.


"Itu pipinya merah..." Morgan menggombaliku sambil tersenyum nakal.


"To the point aja deh! Kamu mau ngapain kesini?"


"Ih galak amat sih!"


"Aku hitung sampai tiga!"


"..."


"Ca..."


"2"


"Eits...! Iya deh, Iya galak amat sih, aku kesini mau ngajak kamu jalan..."


"Jalan?" balasku kaget tapi hati mau.


"Iya..."


"Emm..." aku merasa ragu.


"Mau ya, please!!!" Morgan memohon.


"Tapi jangan lama-lama ya!"


Akhirnya aku mau di ajak Morgan untuk jalan bareng. Morgan membukakan pintu mobilnya seraya tersenyum, aku merasa di buatnya seperti ratu yang sedang di manja sang pangeran.


Dua puluh lima menit kemudian Morgan memberhentikan mobilnya di sebuah taman kota yang banyak pengunjungnya. Morgan kembali membukakan pintu mobilnya dengan penuh romantis.


"Kenapa kita kesini?" tanyaku pada Morgan.


"Ya aku mau ngobrol sama kamu,"

__ADS_1


"Ya udah kita cari tempat duduk dulu!"


Aku bersama Morgan sedang bermain ayunan di sebuah tempat bermain di taman itu, tak lama kemudian ada seorang pemuda yang datang menghampiriku membawa laptop di tangan kananya.


"Caca..." sapa Yusuf.


"Siapa Ca?" tanya Morgan sambil menatapku lalu berpaling kehadapan Yusuf.


"Dia Yusuf Gan, mantan suamiku..." balasku.


"Kenapa kamu jalan sama laki-laki lain?" tanya Yusuf seraya emosi.


"Loh! Apa hak kamu?" aku pun mulai emosi.


"Ya karena, karena aku masih mencintai kamu,"


"Kamu masih punya Hafidzah tapi masih bisa-bisanya ngomong gitu?"


"Sekarang kamu ikut aku!" Yusuf menarik tanganku.


Morgan yang melihat tanganku di tarik secara kasar oleh Yusuf tentu saja kaget. Ia langsung mengejarku bersama Yusuf lalu berusaha menahan.


"Kamu jangan kasar ya!" Morgan menepiskan tarikan tangan Yusuf lalu menonjoknya.


"Kenapa kamu ikut campur?" tanya Yusuf sambil memegangi pipinya yang luka.


"Saya tegaskan ya! Kamu adalah mantan suami dari Raisa dan aku adalah tunangannya! Sebentar lagi aku dan Raisa akan menikah."


"Me... Menikah?"


"Iya, jadi jangan ganggu lagi!"


***


Malam hari setelah Yusuf pulang dari taman, ia masuk kedalam rumah lalu membantingkan pintu karena terlalu emosi. Hafidzah kaget melihat wajah Yusuf yang bengkak, lalu Hafidzah membuntutinya dari belakang untuk menanyakan keadaanya.


Di kamar Hafidzah menemukan Yusuf sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu Hafidzah menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Aa kenapa?" tanya Hafidzah dengan lembut sambil mengusapi punggung Yusuf.


"Aku berantem sama cowoknya Caca!"


"Kenapa berantem?"


"Udah deh kamu jangan ikut campur!"


"Kamu berubah A!"


Hafidzah bangkit dari tepi ranjang sambil terurai air mata karena kecewa dengan perubahan sikaf Yusuf.

__ADS_1


__ADS_2