
Kumandang adzan subuh menggema di angkasa bersahut-sahuatan keseluruh penjuru dunia, membangunkan seluruh insan yang sedang berada dalam dunia mimpi, dengan suara merdunya tak hentinya di kumandangkan di setiap waktu menjelang shalat lima waktu. Aku memang terbiasa bangun subuh karena sudah di biasakan dari sejak kecil agar tidak ketinggalan shalat subuh.
Pagi itu hembusan angin menerpa pohon-pohon yang berdiri kokoh yang masih tertidur dalam dzikir. kulangkahkan kaki menuju sekolah tempatku mengajar, tempat dimana ke ikhlasan itu di uji, tempat dimana aku membagi ilmu yang aku dapatkan menjadi manfaat bagi murid-muridku. Ku persiapkan segala kebutuhan mengajar karena ada acara test ujian di sekolah tempatku mengajar.
Setibanya di sekolah aku langsung masuk ke ruangan kelas untuk memulai testnya.
Di dalam kelas seluruh murid sudah menunggu diriku yang di panggil Bu Raisa. Mereka terbiasa sebelum memulai pelajaran di biasakan untuk melaksanakan shalat duha dan muroja’ah terlebih dahulu karena sudah menjadi program unggulan di sekolah ini.
Seteleh melaksanakan shalat duha dan murojaah kemudian murid-murid mulai test karena hari ini adalah hari ujian peraktek hari pertama. Belajar hari ini cukup menyenangkan dengan bantuan alat bantu menjadi murid-murid mengerti dengan apa yang aku sampaikan.
”Baik anak-anak test Bahasa Indonesia hari ini sudah selesai, sampai jumpa di lain waktu, ya?!” ucapku pada murid-murid.
”Iya, Bu!” jawab murid-murid serentak.
Baru saja aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari ruangan kelas, tiba-tiba langkahku di berhentikan oleh seorang kepala sekolah yang bernama Bapak Suprapto.
Suprapto Wijaya yang kerap di sapa dengan sebutan Pak Suprapto adalah seorang kepala sekolah di tempatku mengajar, dengan wajahnya yang rupawan meskipun sudah lanjut usia, memiliki tinggi 165 cm, rambutnya yang ikal menunjang penampilannya. Pak suprapto mempunyai kepribadian yang lembut, tegas, dan berwibawa membuat seluruh guru dan murid-murid segan padanya.
“Raisa!” panggil Pak Suprapto dengan suara agak nyaring.
“Iya, Pak,” balasku sopan.
“Satu bulan lagi kota Bandung mengadakan kompetisi lomba Hafidz Al-Qur’an. Karena kamu adalah guru dengan hafalan sudah mencapai 30 juz, saya akan daftarkan kamu mengikuti kompetisi itu!” ucap Pak Suprapto.
“Alhamdulillah kalau begitu, jika Bapak mempercayai saya, maka saya menerima tawaran Bapak…” balasku dengan penuh semangat.
“Tentu saja saya percaaya sama kamu, di lihat dari kemampuanmu dalam membacakan Al-Qur’an yang mebuat saya yakin bahwa kamu bisa!”
“Trimakasih Pak, sudah meberikan kepercayaan pada saya. Kalau begitu saya permisi dulu!”
“Silahkan!”
Sepulangnya mengajar, Delia mengajakku untuk menyebar undangan ke semua teman-teman sekolah. Aku dan Delia menuju kerumah teman-teman terdekat terlebih dahulu sampai-sampai ada satu undangan lagi yaitu untuk Morgan.
“Del, kamu aja deh yang ngasih undangan ke Morgan! Aku tunggu di luar aja…”
“Ayo gapapa!” Delia membujukku.
“Apa maksudmu, Ca? Kamu jangan menunjukan pada Morgan kalau kamu masih memikirkannya! Kamu harus terlihat tegar kalau memang kamu sudah tidak peduli dengannya lagi,” saran Delia sambil melangkah menuju pintu rumah Morgan.
”Ta… Tapi Del…” mataku pun mendelik ketakutan, lutut ku begetar seakan-akan ingin lari sejauh mungkin.
__ADS_1
“Ayolah! Apa sih yang kamu takuti? Kamu masih berharap sama Morgan?”
“Ya nggak gitu juga Del, aku hanya gerogi aja!”
Tok… Tok… Tok…
Delia mengetuk pintu rumah Morgan tiga kali ketukan. Belum sempat Delia kembali mengetuk pintu, Morgan sudah membukakan pintunya terlebih dahulu. Jantungku semakin berdegup kencang, mataku tak berani melihatnya.
Morgan mengenakan kaos oblong berwarna biru muda menggunakan celana olah raga berwarna senada dengan kaosnya mebuat penampilan yang sederhana itu membuat terlihat menawan.
“Gan, ini aku mau memberikan undangan untukmu, datang ya!” ucap Delia pada Morgan sambil menyodorkan undangan pada Morgan.
“Oh iya, selamat ya!”
Aku dengan Morgan tidak saling sapa, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya untuk menyapanya. Tampaknya aku bersama Morgan seperti orang asing yang tak saling mengenali.
***
Seiring berjalannya waktu Hafidzah merasakan sakit di perutnya, sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Asttagfirullahaldzim sakit banget ini perut…” Hafidzah sangat merengis kesakitan. Ia merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan sementara Yusuf belum pulang kerja.
Tut… Tut…
Hafidzah tidak berhasil menghubungi Yusuf karena Yusuf sedang sibuk meeting di kantornya, kemudian tanpa berpikir panjang Hafidzah menghubungiku.
Hafidzah : “Halo Mbak, Assalamuallaikum…”
Raisa : “Waalaikumsalam,” balasku.
Hafidzah : “Mbak tolong aku!”
Raisa : “Tolong apa Dzah? Kamu kenepa?”
Hafidzah : “Perutku sakit banget, sepertinya aku mau melahirkan!” Hafidzh mulai menjerit.
Raisa : “Oke, sekarang kamu dimana?"
Hafidzah : “Nanti aku SMS alamatnya…”
Raisa : “Oke,”
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit Hafidzah langsung di masukan kedalam ruang persalinan. Bibirnya pucat, matanya sembab seperti menahan sakit yang di rasanya.
Ketika di ruang persalinan Hafidzah di baringkan di atas tempat tidur. Ia tak henti-hentinya berdizikir dengan memegang tasbih di tangannya.
“Mbak Caca, aku minta tolong ya!” ucap Hafidzah dengan lirih.
“Minta tolong apa Hafidzah?” tanyaku sambil memegangi tangan kirinya.
“Tolong hubungi A Yusuf terus menerus sampai dia datang kerumah sakit! Aku ingin dia ada di sampingku ketika aku melahirkan…” permintaan Hafidzah sambil terus berdizikir.
“Iya Hafidzah,”
Setelah itu aku langsung menghubungi nomer Yusuf terus menerus sesuai permintaan Hafidzah. Sebenarnya aku tak mau harus berhubungan lagi dengan laki-laki yang bernama Yusuf yang telah menyakitiku. Tapi apalah daya aku harus menuruti permintaan Hafidzah yang sangat baik padaku.
Raisa : “Halo,”
Yusuf : “Assalamuallaikum, Raisa…”
Raisa : “Waalaikumsalam, akhirnya kamu angkat telepon aku juga!” dengan suara nyaring.
Yusuf : “Tumben kamu nelepon aku, kangen ya?”
Raisa : “Eh gak ada berpikiran seperti itu!”
Yusuf : “Terus apa donk?”
Raisa : “Istrimu melahirkan, Ayo segera ke rumah sakit
Hafidzah berharap ada Yusuf di sampingnya ketika ia berjuang menahan sakitnya melahirkan. Memegang tangannya, mengusap keringatnya dan menyemangatinya agar rasa sakitnya berkurang meskipun 1%. Namun itu tidak terjadi. Yusuf terlambat melakukan itu semua pada Hafidzah. Bayi yang di kandung Hafidzah telah lahir, air matanya mengalir di pipinya melihat tangisan pertama dari anaknya.
“Kemana kamu A? Mana janji kamu akan mendampingiku ketika aku berjuang menahan sakit untuk mengeluarkan bayi kita?” gumamnya penuh tanda tanya.
Tiga puluh menit kemudian Yusuf tiba di rumah sakit. Yusuf langsung menghampiriku yang sedang menunggu di kursi depan ruang persalinan.
“Bagaimana keadaan Hafidzah,Ca?” tanya Yusuf dengan ngos-ngosan.
“Baik, lahiranya lancar...” balasku.
“Makasih sayang…” Yusuf sepontan memelukku.
“Ih apaan sih? Ingatya! Kita sudah bukan muhrim lagi, ngerti!”
__ADS_1