Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 58 - Belum Move On


__ADS_3

Morgan masih tak percaya pada perempuan yang memakai gamis merah dengan hijab syar’i berwarna hitam duduk di tepi ranjang sambil mengusapinya.Ia menatap dengan tajam seakan-akan Morgan ingin memeluknya. Perempuan itu berkata “Islam Itu Indah”.


“Astaga! Aku mimpi Raisa hadir di dalam mimpiku,”ucap Morgan setelah terbangun dari tidurnya.


“Aku semakin yakin kalau aku harus jadi mu’alaf secepatnya!” ucap Morgan dalam hati sambil mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.


Siang itu trik matahari sangat memanaskan dahaga membuat terserang rasa haus. Aku menunggu taxi di pinggir jalan karena akan pergi ke supermarket untuk membeli keperluan rumah, namun hari ini ada sedikit aneh, entah apa yang di rasa? Seperti ada yang membuntuti dan memperhatikanku dari tadi. Aku menoleh kebelakang dan menoleh kanan kiri untuk memastikan bahwa tak ada yang mengikutiku.


Tak lama kemudian taxi yang di tunggu sudah ada. Ketika aku akan menaiki taxi ada seorang pemuda yang berusaha menghentikan langkahku dan menutup kembali pintu mobil dan menarik tangan membawaku ketempat sepi.


“Yusuf…” aku menoleh ke wajah Yusuf.


“Iya ini aku…” balas Yusuf masih menerik tanganku.


“Lepaskan aku!” rengeku sambil berusaha melepaskan tarikkan tangannya.


“Aku tak akan melepaskanmu!” balas Yusuf dengan tatapan yang tajam.


“Kamu maunya apa sih?”


“Aku mau kamu kembali lagi menjadi istriku!”


“Aku nggak mau! Lagian aku heran kamu sudah mempunyai Hafidzah yang begitu baik dan begitu sangat menyayangimu, tapi kamu masih saja mengejar-ngejar aku. Aku juga heran kamu yang meninggalkan aku, kamu yang menyakiti aku dan kamu yang bilang sendiri bahwa Hafidzah lebih baik dari aku!” ujarku padanya.


“Tapi aku sangat mencintai kamu! Aku sudah berusaha melupakanmu dan aku sedah berusaha mencintai Hafidzah namun belum bisa!” Yusuf masih menarik tanganku.


Tak lama kemudian ketika suasana semakin memanas tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiriku sepontan melepaskan tanganku dari tarikan Yusuf. Aku menoleh kehadapan pemuda itu ternyata Morgan.


“Morgan…” Sapaku pada Morgan.

__ADS_1


“Beraninya sama perempunan!” ucap Morgan pada Yusuf.


“Bukan urusan kamu!” balas Yusuf dengan wajah kesal.


“Ayo Sa, kita pergi dari sini!” ajak Morgan sambil membawaku pergi.


“Raisa!”


“Raisa!”


Yusuf berteriak memanggil-manggilku dari kejauhan.


Ketika aku bersama Morgan telah masuk ke dalam mobil yang di bawa Morgan, Morgan sepontan menanyakan keadaanku, raut wajahnya terlihan sangat khawatir.


“Rese banget tuh laki!” ucap Morgan seraya memukul stir. Aku tidak berkutik hanya melihat Morgan dengan harap-harap cemas.


Tak lama kemudian ketika Morgan hendak menyalip tiba-tiba di depan ada seorang nenek-nenek yang hendak menyebrangi jalan sontaklah Morgan akan menabraknya.


Cket…


“Huh… Huh… Huh…” Morgan sontak menghentikan mobilnya tiba-tiba.


“Astagfirullahaladzim, hati-hati Morgan. Huh… Huh… Huh…” Aku sepontan terbawa ngos-ngosan.


“Astaga hamper saja…” ucap Morgan dengan raut wajah kaget.


“Sorry ya, Sa!” ucap Morgan lalu kembali mengendarai mobilnya.


Setelah itu tidak ada lagi kata-kata yang terucap dari mulut Morgan, yang ada hanya keheningan yang menyelimuti kita.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian telah sampai di depan rumahku, aku sepontan turun dari mobil Morgan.


“Ya sudah aku pulang dulu ya!” ucap Morgan seraya tersenyum.


“Iya hati-hati ya, Gan!”


“…” Morgan hanya menganggukan kepalanya beberapa kali karena Morgan masih kesal dengan keadaan hari ini.


***


Dengan wajah yang kesal Yusuf langsung mendobrak pintu rumahnya dengan keras lalu masuk kedalam rumah dengan menggerutu kesal dan Yusuf tidak menyadari bahwa Hafidzah sedang memperhatikannya.


Hafidzah sangat kaget dengan suara dobrakan pintu yang sangat nyaring terdengar dari arah pintu depan. Kemudian Hafidzah yang mendengar dobrakan pintu itu sepontan bangkit dari tempat duduknya lalu menuju ke arah pintu yang di dobrak oleh Yusuf.


“Aa kenapa sih?” tanya Hafidzah pada Yusuf yang sedang marah.


“Enggak Aa nggapapa! Aa hanya kesal aja,” ucap Yusuf pada Hafidzah.


“Kesal kenaapa? Sama siapa?” tanya Hafidzah penasaran.


“Nggak, nggapapa,” balas Morgan tidak memberi tahu kejadian sebenarnya kepada Hafidzah karena takut Hafidzah sedih.


“Yasudah Aa mau makan apa?” tanta Hafidzah tidak ingin menanyakan lagi kejadian yang di alami Yusuf.


“Aa lapar, tolong masakin Aa mie instan donk!” perintah Yusuf pada Hafidzah.


“Siap sayangku!” ucap Hafidzah lalu pergi ke dapur.


Ketika Hafidzah sedang memasak mie instan di dapur, Hafidzah teringat pada sikaf Yusuf yang aneh hari ini.

__ADS_1


“A Yusuf kenapa Ya? Sepertinya ada masalah,” ucap Hafidzah seraya memasuki mie kedalam wajan.


__ADS_2