Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 06- Tidak Mau Pacaran


__ADS_3

Di sebuah Gazebo kami berdua duduk berdampingan. Rasanya aku takut ada orang ketiga yang menghasutku untuk berbuat yang tidak di inginkan.


"Raisa..." Satria memanggilku dengan nada lembut.


" Iya,Kak," kataku. Duh kok perasaanku jadi gak enak.


"Raisa..."


"Iya, Kak ada apa...?" aku dibuat penasaran olehnya.


"Apakah sekarang ada yang sedang dekat denganmu?" kata Satria mengajukan pertanyaan yang menurutku sangat Horor.


"Ada..."


''Si... Siapa?" Wajah Satria memerah dan kelihatan gugup.


"Kak Satria" kataku pura-pura tak mengerti.


"Serius...!" kata Satria mulai kesal.


"Maksud pertanyaan Kakak itu gimana sih? aku gak ngerti," kataku berusaha untuk mencegah satria agar tidak mengungkapkan isi hatinya.


"Oke, kalau kamu gak ngerti," kata satria.


"Sejak pertama kali mengenalmu, aku merasa ada getaran cinta," sambung Satria mengungkapkan isi hatinya.


"Ma... Maksud kakak?" aku terus berusaha pura-pura tak mengerti dengan segala apa yang di ungkapkan oleh Satria.


"Aku jatuh cinta padamu Raisa dari sejak pertama aku mengenalmu. Mau kah kamu jadi pacarku, Raisa?" kata Satria memperjelas kata-katanya sembari memegang tanganku dan berusaha menatap aku.


"Astagfirullahaladzim," aku melepas kan pegangan tangannya karena tidak seharusnya seorang muslim berpegangan tangan dengan yang bukan muhrim.


"Ma... Maaf,Raisa...!" kata satria.


"Maaf kak, aku gak bisa," aku menegaskan kepada Satria kalau aku tak bisa menerima cintanya.


"Tapi kenapa, Raisa? Apa karena laki-laki itu?" kata Satria meninggikan suaranya.


"Laki-laki siapa?" aku kaget kenapa Satria bisa berbicara seperti itu dan siapa laki-laki yang di maksud Satria.


"Aku tahu kamu masih memikirkan Yusuf, kan? laki-laki yang pernah dekat dengan mu di masa lalu kamu?"


"Darimana kamu tahu soal Yusuf?" kataku penasaran.


"Gak penting aku tahu dari mana, yang terpenting adalah kamu, kamu harus mulai melupakan masa lalu kamu,"


"Ini tidak ada hubungan nya dengan masalalu aku dan kamu tidak berhak mengatur aku dengan siapa aku menentukan pilihan!" kataku menegaskan. Kemudian aku langsung pulang ke tenda.


malam itu hati ku penuh ke gelisahan. Mataku terbuka seakan-akan tidak bisa tidur. Hujan pun turun kembali membasahi bumi ini seakan-akan mewakili hati ini yang sedang gelisah.

__ADS_1


"Caca..." Ibu terbangun karna melihatku gulang-guling tidak bisa tidur.


"Iya, Bu...?" kataku sambik terisak-isak tangis. Mataku berkaca-kaca.


"Kamu kenapa?" Tarik napas sebentar.


"Sepertinya kamu sedang ada masalah?" kata Ibu sambil menggenggam tanganku.


"Satria, Bu" Sambil menahan tangis.


"Satria kenapa?"kata Ibu panik.


"Satria nembak aku bu, tapi aku tak mau pacaran," kataku menceritakan semuanya ke Ibu.


"Bagus Caca, memang seharusnya kamu menolak pacaran karena idalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Tapi kamu jangan sampai memutus tali silatu rahmi kamu denga Satria. Kamu harus minta maaf sama Satria dan bilang jika kamu mencintai aku? Tunggu setelah lulus kuliah dan datang ke Ayahku,"


"Iya, Bu"kataku sambil memeluk Ibu. Aku bahagia karena Ibu sudah berubah begitu derastis.


"Bu besok pulang yu...?!"


"Loh... Kenapa cepat pulang, kan kita si sini baru semalam?" kata Ibu kaget.


"Iya Bu aku gak betah di sini, aku ingin cepat-cepat tidur di kamarku, kita liburan di rumah saja." kataku karena Ibu ku sudah berubah jadi untuk apa lagi aku menghabiskan liburan jika di rumah lebih indah dari liburan.


"Oh iya, sekarang kamu tidur...!"


"Iya Bu,"


Allahuakbar... Allahuakbr...


Genta Adzan mengumandang di alam semesta.


Suaranya yang merdu menenangkan jiwa. Ah rasanya tenang hati ini jika sudah menunaikan Shalat. Lalu aku bergegas mengambil Wudlu untuk menunaikan Shalat Subuh.


Ku lihat hari sudah pagi kabut tipis merayap perlahan menutupi sebagian langit yang indah. Burung pun bernyanyi merdu mengiringi suara merdunya ayam berkokok. Hari ini aku dan Ibu akan pulang ke rumah aku bersiap-siap membereskan pakaianku.


"Ibu janji ya setelah pulang dari liburan ini ibu lebih memperhatikanku...!" kataku sambil memegang tangan Ibu.


"Iya Ibu janji," kata Ibu sambil memeluk erat tubuhku.


"Maafkan kesalahan Ibu...!" sambung Ibu sambil mencium keningku.


Satria itu datang lagi!


kemunculannya Satria tampak sedikit berbeda dari biasanya. Raut wajahnya seperti memendam rasa kekecewaan karena aku sudah menolak cintanya tadi malam.


"Tan, aku mau bawakan tasnya...?" kata Satria menawarkan bantuan kepada Ibu tetapi Satria tidak menyapaku.


"Terimakasih," kata Ibu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nak Satria, Tante perlu bicara sebentar denganmu..!" kata Ibu mengajak Satria berbicara sebentar.


"Baik,Tan..."


"Caca... Bisa tinggalkan Ibu dan Nak Satria sebetar?!" Ibu ingin berbicara empat mata dengan Satria, lalu aku pergi.


"Iya Bu,"


Di sebuah gazebo yang semalam aku dan Satria duduki Ibu dan Satria berbicara seakan-akan aku sensdiri tak boleh tahu dengan apa yang aka mereka bicarakan.


Ibu membalikan tubuhnya menghadap Satria. Memandangi wajah Satria lalu Ibu berbicara padanya.


"Nak, kamu ada masalah dengan Raisa...?" sambil mengusap bahu Satria.


"Ti... Tidak, Tan..." kata satria tidam bisa berkata-kata.


"Sebenarnya Raisa itu bukannya tidak menyukaimu atau menolak cintamu..." kata ibu menjelaskan kepada satria denga berhati-hati.


"Lalu...?" kata Satria penasaran.


"Raisa hanya untuk saat ini dia belum mau menjalin hubungan dengan siapapun lebih dari sekedar teman."


"Iya tapi kenapa,Tan...?"tanya satria semakin kecewa.


"Apa karena Raisa masih memikirkan masalalunya...?" sambung Satria dengan mata berkaca-kaca.


"Bukan, nanti kamu akan tahu sendiri! yang sekarang kamu harus lakukan adalah mamu fokus dulu sekolah kamu!" kata Ibu terus mengusapi bahunya dan menenangkan hatinya.


"Ta... Tapi Tan, apakah suatu saat Raisa bisa menerima cintaku..?" tanya Satria.


"Pasti Satria asal kamu jangan berhenti di situ. Kamu jangan memutuskan tali silaturahmi dengan Raisa. Terus lah berteman, jaga dia baik-baik." kata Ibu.


Satria menunduk. Dia bisa memahami semua yang Ibu katakan.


Satria tersentak di lamunannya. Puncak yang sedang cerahpun berubah jadi gelap, sesaat setalah Ibu berbicara tentangku.


"Ayo Ca kita pulang...!" ajak Ibu mengajaku pulang sembari memasukan koper-koper ke dalam mobil.


"Ayo...!"


"Tadi Ibu bicara apa saja dengan Satria...?"


"Ibu hanya menyuruhnya untuk tetap menjaga silaturahmi denganmu..."


"Oh..."


"Nanti kamu setelah pulang dari sini mau di masakin apa sama Ibu...?Ibu mau menebus semua kesalahan-kesalahan Ibu yang sudah Ibu perbuat selama ini,"


"Apa aja Bu, semua pasakan Ibu aku suka, ko..." aku menjatuhkan kepalaku ke bahu Ibu dan Ibu pun mengusapi pipiku. Ah bahagianya aku hari ini.

__ADS_1


__ADS_2