
Di sekolah.
Aku diam hanya memandang orang-orang di sekelilingku, aku lihat anak-anak sedang belajar, aku tidak boleh terlihat sedih di depan anak-anak.
"Bu...!" seorang murid mengacungkan tangan.
"Iya Faisal..." balasku.
"Bu, apa yang di maksud hewan Mamalia?" tanya Faisal.
"Mamalia adalah hewan yang menyusui,"
Kring... Kring... Kring...
Suara bel berbunyi tanda jam istirahat.
"Baik lah anak-anak... sekarang selesaikan tugas kalian di rumah ya!"
"Iya, Bu..." mereka menjawab serentak.
Setelah aku selesai mengajar aku langsung bergegas ke kantor untuk istirahat. Sesampainya di kantor Delia sudah menunggu di mejaku.
"Hay, Ca..." sapa Delia.
"Hay, Del..." balasku.
"Ca habis pulang ngajar kita ke Mall yuk!" ajak Delia semangat.
"Males, Ah..." kataku lemas sambil menyedot air putih.
"Ayolah...! biar kamu gak galau terus,"
"Ya udah, oke," sambil menganggukan kepala.
Setelah selesai mengajar aku dan Delia langsung bergegas pergi ke Mall. Aku dan Delia pergi menaiki motor yang di bawa Delia, karena Delia pikir kalau aku yang bawa motor Delia khawatir aku akan nabrak.
Sesampainya di Mall aku dan Delia tak sengaja bertemu Satria, Satria menggandeng perempuan, Perempuan itu berambut panjang tidak mengenakan hijab.
"Del... Del... ada Satria,"
"Mana?" tanya Delia penasaran.
"Itu tuh..." aku menunjuk ke arah Satria dan perempuan itu yang sedang memilih handphone.
"Oh Iya, bener... bener..." kata Delia.
"Aku penasaran siapa sih, perempuan itu..."
"Iya sama aku juga, kiata ikutin yuk!" ajak Delia. sambil bergegas mengikuti Satria dan perempuan itu.
Ketika aku dan Delia hendak mengikuti Satria dan perempuan yang di gandeng Satria semakin dekat ternyata yang di gandeng Satria adalah Sintia. Sintia adalah teman pas waktu aku masih SMA. Aku dan Delia melihat Satria bergandengan dengan Sintia tak menyangka mereka bisa sedekat itu dan aku tak menyangka Satria bisa secepat itu pindah kelain hati.
Tak lama kemudian Sintia menoleh kehadapanku. Sintia melihat aku dengan Delia sedang mengikuti mereka. Aku kaget melihat Sintia bisa tahu aku dengan Delia mengikutinya, lalu mereka menghampiriku.
"Raisa..."gumam Satria.
Alis sinis Sintia otomatis terangkat dengan mengepalkan kedua tangannya lalu menghampiriku dengan Delia.
"Ngapain kalian mengikutiku?" tanya Sintia dengan sinis.
__ADS_1
"Kami gak mengikuti kalian, hanya kebetulan aja aku jalan-jalan ke Mall dan tak sengaja melihat kalian," ujarku tegas.
"Alasan..." sambil menumpahkan jus yang di bawa Sintia keatas kepalaku
"Argh!" aku kaget.
Delia menyengir melihat kelakuan Sintia yang bikin tangannya gatal ingin menjambaknya.
"Apaan sih, Sin..." kata Delia.
"Diam kamu Del, gak usah ikut campur!" balas Sintia dangan nada tinggi.
"Kamu gak papa, Ca?" ujar Satria so perhatian.
"menurutmu?" kata Delia pada Satria dengan emosi.
"Udah-udah! yuk kita pergi dari sini, Del...!" aku mengajak Delia pergi.
"Ya udah, yuk!"
Satria berusaha menahan tanganku tapi aku menepisnya lalu pergi.
Satria menyesal telah menganiayaku ketika pernikahan. Dia tak tahu mengapa aku begitu acuh dan tidak merasa cemburu dirinya bergandengan dengan Sintia.
Setelah kepalaku di siram oleh Sintia, aku langsung bergegas ke toilet untuk membersihkan tubuhku yang berantakan. Ketika aku masuk ke toilet aku menghampiri cermin besar yang ada di luar toilet. Aku melihat pantulan gambar diriku di depan cermin tak menyangka hari ini akan seperti ini.
"Ya Allah apakah kehadiaranku adalah kesalahanku... sehingga banyak orang yang menyakitiku..." batinku sambil meneteskan air mata.
Delia yang melihat aku menangis di depan toilet langsung menenangkanku.
"Ca... udah ya gak usah di pikirkan lagi!" ujar Delia sambil mengusapi punggungku. Aku tak kuasa menahan tangis lalu memeluk Delia.
Aku tak mau berlama-lama di toilet dalam keadaanku yang beranrakan, aku harus segera pulang.
Hujan turun membasahi bumi ini seakan-akan menggambarkan kesedihanku. Aku bersama Delia belum melanjutkan perjalananku menuju pulang, aku bersama Delia menunggu hujannya sampai reda.
Delia yang melihat kesediah sahabatnya hanya bisa terdiam karena Delia tahu saat ini yang aku butuhkan hanya ketenangan.
Tak lama kemudian hujan pun reda.
"Biar aku yang membawa motornya, Del..." kataku buru-buru.
"Ta... tapi... tapi, Ca..." Delia berusaha mencegahku tak percaya.
"Udah gapapa..." aku meyakinkan Delia sambil memakai helm lalu menaiki motor.
Aku ngebut membawa motornya menuju rumah Delia yang terletak tidak jauh dari Mall.
"Pelan-pelan!" perintah Delia.
"Udah deh tenang aja!" balasku.
Sesampainya di rumah Delia, aku turun dari motornya lalu duduk di kursi yang ada di teras rumah Delia.
"Sekarang aku harus ke rumah Yusuf..."
"Ma... mau ngapain?" tanya Delia heran.
"Aku mau minta Yusuf kepastian," kataku tanpa memikirkan resikonya.
__ADS_1
"Udah lah Ca! kamu jagan macam-macam, sekarang kamu berubah Ca, sekarang kamu bukan Caca yang aku kenal lagi,"
"..." aku tidak berkata apa-apa lagi.
"Ca... aku mohon jangan seperti ini!" nasehat Delia lalu memelukku.
"Astagfirillahaladzim..." aku meneteskan air mata sambil menerima pelukan Delia.
"Aku minta maaf, aku nggak bisa melupakan Yusuf..." Aku merasa hanya itu yang bisa aku katakan.
Itukah diriku? aku semakin resah perasaan semakin gila, perasaan yang sudah lama aku tanam di dalam hatiku, apakah cukup untuk seumur hidupku melupakan Yusuf?
"Ya udah Del, aku pulang dulu ya..."
"Mau aku anterin?"
"Nggak usah,"
"Bener ya! kamu gak bakalan kerumah Yusuf..." Delia khawatir.
"Iya,"
Delia mengantarkanku sampai gerbang rumahnya. Saat aku akan menyebrang aku pun dapat melihat ada mobil yang melaju sangat kencang mendekatiku, Delia pun teriak memanggilku agar aku tidak menyebrang dulu.
"Caca awas mobil...!" Delia berteriak mencegahku agar tidak dulu menyebrang tetapi aku tidak mendengarnya karena banyak suara yang sangat berisik.
BRAK...
Akhirnya aku tertabrak mobil dan tubuhku terlempar keatas mobil penabrak lalu aku tergeletak di atas aspal. Si pemilik mobil kabur tidak mau bertanggung jawab.
"Caca!" suara teriakan Delia.
"Tolong!" Delia berteriak meminta tolong berharap ada warga yang menolong.
Tak lama kemudian banyak warga sekitar yang menghampiriku dan membawaku kerumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung di masukan kedalam UGD untuk melaksanakan pemeriksaan.
Delia : "Om, ini Delia..."
Ayah : "Ia Del, ada apa?"
Delia : "Raisa ke celakaan, dan sekarang sudah ada di rumah sakit ABCD,"
Ayah langsung menutup teleponnya.
Ayah langsung menuju dapur untuk memberi tahu Ibu.
"Bu sekarang matikan kompornya! ayo kita kerumah sakit, Caca ke celakaan..."
"A... apa?"
Ayah dan Ibu langsung bergegas meunuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Ayah dan Ibu langsung menuju ke UGD tempat aku di rawat. Sesampainya di depan ruangan UGD Ayah dan Ibu melihat Delia sedang duduk di kursi tunggu lalu Ayah bersama Ibu menghampiri Delia.
"Bagaimana keadaan Caca, Delia?" tanya Ibu sambil menangis.
"Dokter masih memeriksanya, Tan..." ujar Delia sambil mengusap punggung Ibu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada Caca, Del? kenapa Caca bisa kecelakaan?" tanya Ayah panik.
"Tadi Caca ketabrak mobil dan si pengendara mobil kabur tidak bertanggung jawab..." Delia menjelaskan semua yang terjadi pada Ayah dan Ibu.