
Di gedung tempat pernikahanku dengan Satria.
Kini hari telah menunjukan pukul 10.00 siang. Tamu undangan pun sudah berkumpul di kursi-kursi didepan pelaminan. Ketika aku sedang duduk di kursi depan meja rias, tiba-tiba Satria masuk keruangan rias lalu menghampuriku.
"Assalamuallaikum calon istriku?" kata Satria sambil tersenyum.
"Iya Kak Satria," balasku.
"Loh kamu nangis?" kata Satria sambil memegang daguku.
"Enggak Kak," kataku dengan nada pelan.
"Jangan sedih, kita kan mau nikah," Kata Satria sambil jongkok di hadapanku lalu mengusap rambutku.
"Iya, Kak" balasku simple.
Satria merasa ada yang tidak beres dengan sikafku hari ini yang tak ceria dan mata bengkak.
"Pasti ini ada yang tidak beres," gumam Satria.
Satria menghembuskan napas sebentar lalu melanjutkan pembicaraannya.
"Raisa...?" sambil membalikan kursi meja risa sambil menyimpan kedua tangan di atas bahuku.
"Iya Kak," balasku dengan menahan air mataku agar tidak jatuh.
"Sekarang kamu jujur sama aku. Bilang apa yang sebenarnya terjadi?!" kata Satria berusaha mendesakku.
Aku menghembuskan napas sebentar. Sepertinya aku harus berbicara jujur terhadap Satria dengan semua kenyataan ini. agar akhirnya tidak ada yang menyesal.
"Ek...Kak...Kak Satria?" aku memulai pembicaraan serius dengan perkataan yang terbata-bata.
"Iya, calon Istriku" kata Satria masih memegang bahuku.
"A...aku mau jujur sama Kakak,"
"Iya,"
"Se...se...sebenarnya...." aku tak kuasa melanjutkan pembicaraannya.
"Sebenarnya apa cantik," Satria semakin penasaran.
__ADS_1
"Se...sebenarnya..." aku langsung menjatuhkan badanku ke lantai sambil menangis.
"Loh kok malah nangis, bangun sayang," Satria menjongkokkan tubuhnya dan membantuku berdiri.
"Ada apa sebenarnya, Raisa?"
"A...aku se...sebenarnya ma...masih ada hubungan dengan laki-laki di masalalu yang kamu maksud," kataku terpaksa mengatakannya pada Satria.
"A...apa?" kata Satria kaget.
"Maafkan aku Kak, maafkan aku..." sambil memegang lengan Satria.
"Kenapa kamu mempermainkan aku?"
"Brug..."Satria mendorong tubuhku ke lantai dengan menjambak kepalaku dan membuka kerudungku.
"Prak..." Satria membanting-bantingkan mike up yang ada di meja rias.
Terjadilah penganiayaan di ruangan itu.
"Janga Kak aku minta maaf, aku gak bermaksud menyakiti Kakak...!" kataku sembari rambutku di jambak.
"Lalu kenapa kamu menikah denganku. Kamu sadar? kamu sudah menyakitiku." kata Satria dengan nada tinggi.
"Aku gak sudi menikah dengan mu."
Satria terus menganiayaku sampai aku tak sdarkan diri. Setelah Satria melihat aku dalam keadaan tak sadarkan diri, ia langsung meninggalkan ruangan itu melalui jendela.
***
Semua undangan sudah hadir dan duduk di kursi masing-masing. Penghulu pun yang akan menikahkan aku dan Satria sudah hadir di tengah-tengah tamu undangan.
"Bisa langsung di bawa kesini calon pengantinnya?!" kata penghulu.
"Bisa Pak, saya akan panggilkan dulu calon pengantinnya sedang di ruangan rias" balas Ayah.
"Silahkan." kata penghulu.
"Ayo Bu!" ajak Ayah. Ayah dan Ibu pun bergegas ke ruangan Rias untuk memanggil aku dan Satria.
Ketika Ibu hendak membukakan pintu ruangan rias, Ayah dan Ibu masuk keruangan itu lalu menemukan aku dalam keadaan tak sadarkan diri, keadaan tubuh yang memar dan keluar darah dari kepala. Ayah dan Ibu melihat aku tergeletak di lantai dengan keadaan berbalutan dengan darah tentu saja kaget, Ayah dan Ibu pun langsung menghampiriku.
__ADS_1
"Raisa...!" Ibu berteriak dan memelukku.
"Kamu kenapa Raisa?" kata Ayah denga wajah cemas.
"Kita harus bawa ke rumah sakit secepatnya!" kata Ibu sambil menangis.
***
Sesampainya di rumah sakit aku langsung di masukan keruangan UGD untuk di lakukan pemeriksaan oleh Dokter.
Tak lama kemudian seorang perawat keluar dari UGD tempat aku menjalani pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan anak saya, Sus?" tanya Ayah pada seorang perawat yang keluar dari UGD.
"Dokter masih memeriksanya, Pak." jawab perawat itu lalu pergi.
Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 siang. Waktu Dzuhur pun sudah tiba, tetapi Dokter yang memeriksaku belum juga keluar. Ayah dan Ibu semakin panik.
"Kita harus laporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib, Bu!" kata Ayah sambil menangis.
"Iya Ayah, Yah Sudah Dzuhur yuk kita Shalat dan berdo'a untuk kesembuhan Caca!" Ibu mengajak Shalat. Ayah dan Ibu pun langsung bergegas ke mushola samping rumah sakit.
Setelah melaksanakan Shalat berjama'ah Ayah dan Ibu mengangkatkan kedua tangan mereka dan hendak berdo'a dalam hatinya masing-masing.
"Ya Allah... maafkan atas segala dosa-dosa hamba atas perlakuan hamba terhadap anak hamba. Berikan kesembuhan kepada anak hamba. Hamba tahu ini dosa hamba yang telah memaksa anak hamba menikah denga laki-laki pilihan hamba. Maafkan lah segala dosa hamba ya Allah..." Do'a Ayah dalam hati sambil meneteskan air mata.
"Ya Allah... berikan lah kesembuhan pada anak hamba, dan berikan jodoh untuk anak hamba yang terbaik yang Engkau berikan Aamiin..." do'a Ibu dalam hatinya.
***
Setelah Shalat Ayah dan Ibu kembali ruang tunggu depan UGD.
Tak lama kemudian Dokter yang memeriksaku keluar.
"Bagamana keadaan anak saya, Dok?" kata Ayah dengan wajah penuh harap.
"Alhamdulillah dalam hasil pemerisaan tidak ada luka dalam, hanya Raisa kehilangan banyak darah dan bapak dan Ibu tak perlu khawatir Raisa sudah kami tangani dengan lancar"
"Alhamdulillah." Ibu dan Ayah mengucapkan hamdalah sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Tapi belum bisa di jenguk karena kami harus menjalnkan pemeriksaan lebih lanjut lagi sebelum di pindahkan ke ruang rawat," kata Dokter.
__ADS_1
"Baik terimakasih Pak." kata Ibu dengan hati plong.