
Keesokan harinya tak biasanya aku bangun kesiangan, karena setelah mimpi tadi malam aku tidak bisa tidur lagi, sampai-sampai aku ketiduran menjelang waktu Subuh. Aku bangun terlalu siang pukul 08.00 pagi. Aku yang bangun kesiangan tentu saja kaget karena pagi ini pukul 09.00 ada rapat di sekolah. Aku langsung bergegas ke kamar mandi, setelah mandi aku langsung mengambil wudlu dan bergegas melaksanakan Kodho Shalat Subuh. Setelah beres-beres aku langsung bergegas berangkat ke sekolah tapi tidak sarapan dulu karena hari semakin siang.
"Bu aku berangkat dulu ya?" aku pamit sambil mencium punggung tangan Ibu.
"Loh gak sarapan dulu, Ca?" tanya Ibu.
"Enggak Bu, aku udah kesiangan,"
"Ya sudah... tapi jangan lupa kamu sarapan di sekolah ya?!" kata Ibu perhatian.
"Siap Bu, Assalamuallaikum?" Aku mengucapkan salam sambil mencium pipi Ibu.
Sesampainya di sekolah, aku langsung masuk keruangan rapat. Ternyata ketika aku masuk kedalam ruangan, rapar pun sudah di mulai.
"Assalamuallaikum...?" aku mengucapkan salam dengan penuh rasa malu.
"Waalaikumsallam." semua yang ada di ruangan serentak mengucapkan salamku.
"Ma... maaf semuanya aku terlambat. Tadi aku bangun kesiangan," kataku gugup.
"Ya Sudah... silahkan duduk, Raisa!" kata Kepala Sekolah.
Setelah selesai rapat Delia langsung mengajaku ke kantin untuk makan siang. Aku dan Delia memesan mie ayam dan es jeruk makanan kesukaan Aku dan Delia.
"Tumben kamu kesiangan?" tanya Delia penasaran.
"Iya nih." kataku simple.
"Kenapa bisa kesiangan gitu?" kata Delia sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Semalam aku mimpi Yusuf, kemudian aku terbangun dan gak bisa tidur lagi," kataku sambil menyedot es jeruk.
"Terus?"
"Ya aku juga gak inget dengan jelas mimpiku semalam. Aku hanya mengingat Yusuf memanggilku dan pergi," kemudian tanpa sadar air mataku terjatuh.
"Sudah jangan di pikirkan lagi. Itu hanya mimpi Caca!" kata Delia menasihatiku kemudian memelukku.
"Thankyou, Del," kataku sambil menangis.
Setelah makan aku langsung masuk keruangan kelas untuk mengajar. Aku berusaha tidak memikirkan lagi soal pilihanku memilih Satria atau Yusuf. Aku hanya berusaha fokus mengajar.
Setelah selesai mengajar aku langsung pulang ke rumah tanpa mampir kesana-sani lagi karena tubuhku sudah semakin lelah.
Setelah sampai di rumah seperti biasa aku langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil Wudlu dan melaksanakan Shalat Dzuhur. Setelah melaksanakan Shalat Dzuhur aku langsung naik keatas ranjang dan merebahkan tubuh.
Tak lama kemudian ketika aku sedang merebahkan tubuh tiba-tiba ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk.
Yusuf : "Assalamuallaikum...Cantik?"
__ADS_1
Raisa : "Waalaikumsalam...Yusuf,"
Yusuf : "Kama lagi apa?"
Raisa : " Aku lagi tiduran udah capek, soalnya aku baru pulang kerja,"
Yusuf : "Malam ini ada acara, gak?"
Raisa : "Em... Enggak, kenapa emang?"
Yusuf : "Aku mau mengajak ketemu di tempat biasa, soalnya besok aku mau pulang ke Cianjur."
Raisa : "Iya bisa."
Yusuf :"Oke, sampai ketemu nanti malam!"
Raisa :"Oke."
Setelah aku mengakhiri Chatan dengan Yusuf aku langsung memejamkan mata dan tertidur.
Sore hari aku membuka mataku dan menoleh ke jam dinding ternyata sudah menunjukan pukul 16.00. Aku langsung mandi dan mengambil Air Wudlu lalu menunaikan Shalat Ashar. Setelah menunaikan Shalat, aku langsung keluar kamar dan masuk ke dapur untuk makan malam nanti.
***
Kini waktu ketemuan dengan Yusuf pun sudah tiba. Setelah Shalat Isya aku langsung dandan dengan cantik, memakai baju yang terbaik, memakai kerudung, menyemprotkan minyak wangi dan memakai lotions.
Sesampainya di tempat ketemuan seperti biasa Yusuf sudah sampai di tempat itu dan sudah memesan makanan.
"Waalaikumsalam..." Balas Yusuf.
"Nunggu lama?"
"Enggak juga, silahkan duduk!"
"Mbak?" aku memanggil pelayan sambil melambaikan tanganku.
"Iya, Mbak?" balas pelayan itu dengan menyodorkan menu di tangannya.
"Saya mau pesan es jeruk aja, Mbak."
"Baik, Mbak." Pelayan itu menuliskan pesananku di dalam buku catatannya lalu pergi.
"Besok aku mau pulang ke Cianjur."
"Pu...pulang?" tanda tanya besar.
"Iya, rencananya dua minggu lagi aku akan datang lagi kesini dan membawa kedua orang tua ku untuk melamarmu," aku yang mendengar pernyataan Yusuf tentu saja senang. Tapi aku masih memikirkan janji aku pada Satria.
"Iya Yusuf, aku tunggu lamaran kamu di rumah. Besok kamu hati-hati bawa mobilnya!" dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Iya." kata Yusuf dengan memasukan makanan kedalam mulutnya.
Setelah bertemu dengan Yusuf aku langsung pamit pulang. Aku dan Yusuf pulang dengan menggunakan kendaraan masing-masing karena beda arah. Yusuf tidak mengantarku pulang karena Yusuf akan siap-siap pulang ke Cianjur.
Sesampanya di rumah aku melihat ada sebuah mobil mewah di garasi rumahku. Aku tidak menghiraukannya, aku langsung masuk kerumah dan sesampainya diruangan ada seorang laki-laki sedang ngobrol dengan Ibu dan Ayah.
"Assalamuallaikum...?" aku menghampiri mereka dan mencium punggung tangan Ayah dan Ibu.
"Waalaikumsalam..." mereka menjawab salamku.
"Kebetulan Caca kamu pulang, Satria sudah menunggumu dari tadi,"
"Eh kak Satria?" aku menyapa Satria.
"Raisa, aku kesini datang untuk menagih janjimu!" kata Satria.
"Ta...tapi... Kak?"
"Sudah Caca, tunggu apa lagi?!" Kata Ayah memotong pembicaraanku.
"Ka Satria, aku harus memikirkan ini dulu!" aku langsung masuk kedalam kamar.
"Raisa?" Ayah berteriak memanggilku.
"Gapapa Om, mungkin Raisa butuh waktu untuk memikirkan ini semua,"
"Maafkan Om Satria, kamu nanti bisa datang lagi kesini! nanti Om yang akan bicara pada Raisa." kata Ayah menasehati Satria. Satria pun pamit pulang pada Ayah dan Ibu.
Ketika aku merebahkan tubuhku di atas ranjang tak lama kemudian Ayah masuk kedalam kamarku dengan tanpa mengetuk pintu dahulu.
"Caca...?" kata Ayah memanggilku lalu duduk di tepi ranjang. Aku terdiam dan tidak menjawab panggilan Ayah.
"Kanapa kamu begitu pada Satria?" aku masih tidak menjawabnya dan air mata pun mengalir.
"Kamu sudah janji sama Satria akan menerima lamaran Satria. Satria itu orang kaya, orang tua nya pegusaha sukses. Nasib kita tidak akan seperti ini terus kalau kamu menikah dengan Satria.
"Tapi Yah, Yusuf juga kaya dia seorang penulis terkenal. Dan aku juga gak melihat laki-laki dari hartanya. Aku melihat dari ke solihannya." kataku sambil terisak tangis.
"Pokoknya Ayah gak mau tahu. Kamu harus menikah dengan Satria!" Kata Ayah dengan meninggikan suaranya lalu pergi keluar.
***
Keesokan harinya Ibu mengetuk pintu kamarku. tapi aku tidak membukanya aku hanya menangis dan terbaring lemas. Ibu pun masuk membuka pintu kamar karena tidak di kunci. Ibu pun duduk di tepi ranjang kemudian mengusap rambutku.
"Sabar, Sayang!" Ucap Ibu dengan penuh kasih sayang.
"Tya... tapi Bu, aku hanya mau menikah sama Yusuf, bukan sama Satria!" aku sambil terisak-isak tangis.
"Ibu gak bisa berbuat apa-apa Caca. Kamu tahu kan sifat Ayah gimana?"
__ADS_1
"Iya Bu, tolong aku!" aku bangun dari tidurku dan memeluk Ibu. Ibu pun membalas pelukanku.
"Ibu hanya bisa mendo'akan untuk kebaikan kamu."