Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 36 - Dua Garis Merah


__ADS_3

"Suf, malam ini kamu sama Hafidzah dulu ya..." kataku sambil memeluk Yusuf dari belakang yang sedang menonton televisi.


"Loh! Emangnya kenapa?" tanya Yusuf sambil menoleh ke hadapanku.


"Aku kangen sama ibu," ujarku pada Yusuf sambil memasang muka memelas.


"Mau aku antar?" tawar Yusuf padaku.


"Nggak usah! Aku bisa sendiri, kok..." balas ku seraya tersenyum.


"Ya udah, kamu hati-hati!"


Aku langsung pergi meninggal kan Yusuf bersama Hafidzah berdua saja di rumah.


Malam ini terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik yang bersahut-sahutan di luar rumah padahal waktu baru menunjukan pukul 07.30 malam. Yusuf merasa kedinginan sehingga ia langsung mematikan televisi dan hendak masuk ke kamar Hafidzah. Sesampainya di kamar Hafidzah, Yusuf melihat sosok Hafidzah berwajah pucat seperti terlihat sakit.Yusuf langsung naik keatas ranjang untuk menenangkan Hafidzah.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Yusuf sambil membelai rambut Hafidzah.


"Nggak tahu, tadi aku muntah-muntah,"


"Apa muntah-muntah?! Kenapa kamu gak bilang sama Aa?" tanya Yusuf merasa cemas.


"Hafidzah gak mau mengganggu waktu Aa sama Mbak Caca," jawab Hafidzah dengan nada lemas.


"Kamu jangan seperti itu! Kamu juga istri Aa, istri pertama Aa..." tegas Yusuf seraya emosi.


"Maaf!"


"Sudah sekarang kita ke rumah sakit!" balas Yusuf.


Yusuf langsung menggendong Hafidzah ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Melihat kondisi jalanan macet di dalam Mobil Yusuf merasa cemas terhadap Hafidzah, ingin rasanya Yusuf terbang ke angkasa agar cepat sampai di rumah sakit. Karena merasa kesal Hafidzah langsung tak sadarkan diri di dalam mobil yang membuat Yusuf semakin khawatir.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Hafidzah langsung di bawa ke ruangan UGD untuk di lakukan pemeriksaan.


Tak lama kemudian setelah dokter melakukan pemeriksaan Hafidzah membukakan matanya, ia melihat ruangan itu asing baginya. Hafidzah meraba kepalanya berdenyut masih merasa pusing, kemudian ia melihat di pasang infus di tangannya. Hafidzah melihat ke sekeliling ruangan itu sampai menemukan sosok perawat yang sedang merawatnya, tetapi Hafidzah tidak menemukan sosok Yusuf.


"Mbak..." sapa Hafidzah pada perawat itu.


"Alhamdulillah, Mbak sudah sadar," balas suster.


"Saya kenapa, Sus?" tanya Hafidzah sambil berusaha bangkit dari tidurnya.


"Mbak nggak papa, Mbak hanya sedang hamil muda," balas suster.


"Ha... Hamil, Sus?"


"Iya, selamat ya!"


Hafidzah yang mendengar kata-kata Hamil matanya berkaca-kaca tanda bahagia. Air matanya berlinang bukan karena sedih tetapi sangat bahagia. Hafidzah tak menyangka dirinya akan menjadi seorang Ibu.


Tak lama kemudian Yusuf masuk ke dalam kamar perawatan Hafidzah, ia melihat sosok Hafidzah yang sedang terisak-isak tangis sambil mengusap-usap perutnya.


"Kamu kenapa? Sakit perit?" tanya Yusuf sambil mengusap perut Hafidzah.


"Tebak! Aku kenapa?"


"Kenapa sih? Tadi nangis sekarang senyum-senyum sendiri kenapa sih?" Yusuf penasaran.


"Aku hamil A..."


"Apa! Hamil!"


"Iya..."

__ADS_1


Yusuf yang mendengar kabar hamil dari Hafizah langsung sepontan meneteskan air mata. Ia tak menyangka kebahagiaan di tahun ini lengkap.


"Anak Abi sehat-sehat ya di dalam perut umi!" kata Yusuf sambil mengusapi perut Hafidzah lalu menciumnya.


Hafidzah yang mendengar perkataan Yusuf sangat tersentuh, Hafidzah merasakan bahwa Yusuf begitu mencintai janin yang sedang di kandung istrinya itu.


***


Keesokan harinya aku pulang dari rumah Ibu sangat pagi sekali karena harus mempersiapkan makanan untuk sarapan hari ini. Sesampainya di rumah dan melihat ke dapur Yusuf dengan Hafidzah sudah ada di meja makan dan bersiap-siap untuk sarapan. Aku merasa kalah cepat oleh Hafidzah yang sudah menyiapkan sarapan untuk Yusuf.


"Kamu sudah pulang, Ca?" tanya Yusuf sambil menuangkan nasi kedalam piring lengkap bersama lauknya.


"Udah," balasku.


"Oya Mbak, duduk sini! Aku mau ngasih kabar gembira,"


Aku pun duduk di samping Hafidzah.


"Sekarang aku hamil..."


"Oh, selamat..." balasku lemas.


"Kamu kenapa sih, Ca?" tanya Yusuf kecewa dengan sikafku yang seperti tidak bahagia mendengar kabar kehamilan Hafidzah.


"gapapa..." balasku simple.


"Kamu kaya yang gak bahagia gitu mendengar kabar Hafidzah Hamil!" Yusuf mulai meninggikan suaranya.


Aku meyimpan sendok dan berdiri "Terus aku harus gimana?" aku langsung masuk kedalam kamar tidak jadi sarapan.


"..." Yusuf hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Setelah aku masuk kedalam kamar aku langsung naik ke atas ranjang lalu menangis. Aku merasa gagal jadi istri Yusuf tidak bisa memberikan anak untuk Yusuf seperti Hafidzah dan aku merasa jika Hafidzah hamil akan tersingkir dari kehidupan Yusuf.


__ADS_2