Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 53 - Jika Aku Menjadi Mu'alaf?


__ADS_3

Rasa sakit ketika ingin melahirkan itu benar-benar sangatlah menyakitkan seperti seribu penyakit yang di kumpulkan menjadi satu.


“Hikz… A Yusuf kamu kemana? Tahu kah kamu? Aku mempertaruhkan nyawa demi nyawa yang lain. Aku masih menahan sakit itu. Sungguh nyawaku terasa remuk. Ini kah rasanya melahirkan? Di tambah kesakitan itu di rasa saat Aa tidak berada di sampingku!” batin Hafidzah menjerit.


Hafidzah terbangun dari tidurnya, ia melihat ke sekeliling ruangan masih belum menemukan Yusuf di sampingnya. Matanya kembali berderai karena mengingat dengan janji suaminya yang akan mendampinginya saat berjuang melahirkan.


“Sudah siuman, Mbak?” ucap dokter.


“Iya Dokter, Anak saya mana?” tanya Hafidzah tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya yang pertama kalinya.


“Sebentar ya Mbak! Sedang di mandikan dulu oleh suster,”


“…” Hafidzah mengangguk tanda mengerti.


Suasana rumah sakit sangatlah ramai dan damai. Para dokter melakukan tugasnya sangat baik karena para pasiaen ingin mendapatkan pelayanan yang baik pula. Ini lah semangat seorang perempuan cantik dan solihah bernama Hafidzah itu memperjuangkan melahirkan anaknya. Alhamdulillah putri pertama Hafidzah dengan Yusuf yang di beri nama Siti Mikaila Khadizah lahir dengan selamat.


Tak lama kemudian bayi kecil yang telah di bedong oleh seorang perawat di serahkan pada Hafidzah. Hafidzah yang melihat bayi kecilnya tentu saja bahagia ia tak henti-hentinya mengucapkan hamdallah sambil berderai air mata terharu.


“Ea…! Ea…!” Suara bayi itu begitu nyaring terdengar oleh seluruh penjuru dunia bahkan malaikat menyaksikan suara rengekan itu yang begitu merdu.


“Cup… cup... Anak Umi merdu suaranya. Solihah ya, Nak!” ucap Hafidzah pada sang buah hati yang sedang ia timang.


Bayi itu diam dan tersenyum seakan-akan ia mengerti dengan apa yang telah di sampaikan oleh sang Ibu. Ketika Hafidzah sedang asyik menimang-nimang sang bayi tiba-tiba Yusuf menghampiri Hafidzah.


“Masya Allah anak Abi!” ucap Yusuf seraya tersenyum.


“Aa kemana saja? Aku berjuang sendirian! Mana janji Aa yang akan mendampingi Hafidzah saat lahiran?” tanya Hafidzah seraya menangis.


“Maafkan Aa Hafidzah! Aa sedang meeting tadi nggak buka ponsel,” ucap Yusuf dengan wajah menyasal.


“Ya sudah gapapa, A…” balas Hafidzah.


“Maafkan Aa ya! Sini Aa mau gendong putri Aa yang cantik ini!” seru Yusuf sambil mengambil Mikaila dari pangkuan Hafidzah.


“Iya, A” sambil menyodorkan Mikaila pada Yusuf.


“Eh udah tidur bayi cantik Abi,” ucap Yusuf seraya menidurkan Mikaila pada Kasur yang di sediakan perawat.


Tak lama kemudian aku masuk kedalam ruangan. Aku melihat Hafidzah bersama Yusuf sedang berbincang-bincang tiba-tiba aku teringat pada masa lalu saat aku masih menjadi istri Yusuf.


Aku melihat bayi kecil itu sangat lucu tertidur pulas dengan pipi merah jambu cantik seperti sang Ibu.

__ADS_1


“Di beri nama siapa, Zah?” tanyaku sambil memegani pipi bayi Hafidzah.


“Siti Mikaila Khodizah, Mbak” balas Hafidzah seraya tersenyum memandangi Hafidzah.


“Masya Allah cantik sekali namanya seperti wajahnya dan Ibunya…” ucapku.


“Alhamdulillah, Terimakasih…” balas Hafidzah.


“Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu!” aku pamit undur diri.


“Terimakasih ya Mbak, sudah membantu Hafidzah…”


“…” aku mengangguk tanda mengerti.


Pandanganku masih tak ingin berpisanh dengan Mikaila bayi kecil yang berwajah cantik itu, yang masih tertidur pulas di atas Kasur yang menghangatkan tubuhnya.


Tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul 10.00 malam. Aku terlalu larut untuk pulang dan ketika aku keluar dari rumah sakit kulihat jalan sudah mulai sepi kendaraan sudah jarang. Aku bingung mau naik apa aku pulang? Aku hanya berjalan kaki menuju kedepan sedikit demi sedikit sampai ada taxi.


“Raisa!” Panggil seseorang yang berada dalam mobil berwarna putih.


Aku menghentikan langkahku dan menoleh kearah suara yang nyaring. Suara pemuda yang berada dalam mobil putih itu adalah Morgan. Ujung mataku kembali berair ketika aku menolehnya. Aku tak sanggup jika terus-menerus seperti ini. Cinta ini terlalu dalam namun kebersamaan itu tak mungkin bersatu. Tanpa berpikir panjang Morgan keluar dari mobilnya lalu menghampiriku.


“Raisa…” sapa Morgan.


“Kenapa kamu masih di luar malam-malam gini?” tanya Morgan seraya tersenyum.


“Aku sudah menjenguk Hafidzah di rumah sakit. Hafidzah melahirkan.” balasku lalu melanjutkan langkahku.


“Berarti kamu bertemu dengan Yusuf?” Morgan mulai meninggikan suaranya.


“Iya,” Aku menghentikan langkahku lalu menoleh kepadanya.


“Kamu nggak tahu, kalau aku cemburu!”


“Kamu cemburu?” tanyaku seraya mengeryitkan dahiku karena keheranan.


“Morgan, kamu mau cemburu atau nggak itu tak akan mengubah keadaan cinta kita, cinta kita tak mungkin bersatu!” balasku dengan meninggikan suaraku. Aku pun kembali melangkahkan kakiku.


“Kalau aku mualaf gimana?!” tanya Morgan.


Aku yang mendangar kata-kata mualaf yang keluar dari mulut Morgan aku langsung kembali menghentikan langkahku lalu berbalik arah kehadapannya dan menghampirinya.

__ADS_1


“Mu'alaf?” tanyaku.


“Iya, kalau aku mu'alaf dan pindah keyakinan gimana?”


“Itu nggak mungkin! Agama itu nggak bisa di permainkan Morgan! Jangan karena kamu mencintai aku kamu pindah keyaikinan. Mualaf itu harus datang dari hati kamu!” balasku seraya menatap tajam matanya.


“Tapi Raisa!”


“Taxi!” belum saja Morgan melanjutkan pembicaraannya Aku sudah memanggil taxi lalu menaiki taxi itu.


“Raisa!”


“Raisa!”


“Raisa!”


Morgan berteriak memanggil-manggilku.


***


Hari ini hari minggu. Morgan sedang duduk di kursi tempat olah raga sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba perutnya terasa lapar lalu Morgan bergegas ke dapur untuk memasak telur karena Bu Angel sedang keluar kota.


Saat Morgan sedang berjalan menuju dapur Morgan melirik ke meja ruang tamu. Ia melihat satu buah buku yang berjudul “ISLAM ITU INDAH” yang ia beli kemarin sore. Ia menghentikan niatnya untuk memasak telur lalu menghampiri buku itu lalu ia duduk di sopa dan membaca buku itu dari mulai lembaran awal.


Lembar demi lembar sudah ia baca sampai ia menemukan sebuah kutipan yang membuat ia terketuk pintu hatinya ketika menemukan sebuah Hadist Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam yang diriwayatkan oleh Muslim :


أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلِهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ


Artinya “Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya, dan bahwa hijroh menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya bahwa haji menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya.”


Morgan juga menemukan Hadist Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam yang diriwayatkan oleh Bukhari :


إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلَفَهَا


وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ


ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهَا


Artinya “Apabila seseorang masuk Islam kemudian Islamnya menjadi baik, niscaya Allah akan menghapus segala kejahatan yang telah dilakukan. Setelah itu, ia akan diberi balasan yaitu setiap kebaikannya akan dibalas Allah sepuluh sampai tujuh ratus kali. Sedangkan kejahatannya dibalas (hanya) setimpal kejahatannya itu, kecuali jika Allah memaafkannya.”


Dari beberapa hadist di atas bisa disimpulkan bahwasannya menjadi seorang mualaf akan membawa keutamaan / keuntungan yang sangat besar bagi seseorang, diantaranya

__ADS_1


Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu Allah akan mencatat semua kebaikan yang telah dilakukan dan akan membalas kebaikan-kebaikan tersebut dengan pahala sebanyak 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, sedangkan untuk satu kejahatan yang pernah ia lakukan akan mendapat balasan dengan balasan yang setimpal kecuali jika Allah telah memaafkannya.


Morgan mulai terketuk hatinya dan Morgan mulai kuat dengan keyakinannya untuk menjadi seorang mu'alaf.


__ADS_2