Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 09 - Awal Pertemuan


__ADS_3

Lima tahun yang lalu.


Waktu berlalu begitu saja setelah kepergian Satria ke Korea.


Aku berkuliah di salah satu Universitas di Bandung. Sekarang aku sudah menjadi guru Sastra di SMP Garuda Bandung sebagai guru honorer. Selama setelah lima tahun ini aku tidak pernah menjalankan hubungan dengan siapapun. Hanya saja pernah tersirat dipikiranku apakah aku akan bertemu dengan Yusuf lagi..


Namanya Muhamad Yusuf.


Yusuf Tinggal di salah satu pesantren yang terkenal di Cianjur.


Yusuf adalah seorang penulis terkenal. Dia adalah penulis yang banyak di kagumi banyak pembaca. karena dengan karyanya yang sangat bagus, dia juga terkenal dengan sosok yang sangat ramah.Yusuf juga adalah sosok yang selama ini aku tunggu. Yusuf sudah sukses di usia mudanya. Yusuf mempunyai keperibadian yang sangat baik. Jadi tak heran jika dia banyak di kagumi kaum perempuan.


Aku pergi ke toko buku untuk membeli buku bahan mengajar nanti. Tidak lama kemudian aku menemukan sebuah buku karya Muhamad yusuf dan di Covernya terdapat Foto Yusuf.


"Yusuf..."Gumamku sambil mengusapi foto Yusuf yang ada di cover buku itu.


Di dalam buku itu terdapat sumber penerbitnya.


"Aku harus datang ke tempat penerbit ini, dan menanyakan alamat Yusuf," kataku dalam hati.


Di suati tempat pengajian Yusuf sedang mempromosikan buku ke-23 yang berjudul Wanita Solihah Pujaan Hati. Ia banyak sekali de kerumuni banyak pembaca untuk meminta tanda tangannya.


"Yusup...!" mengkrumuni Yusuf berdesak-desakan.


"Kak Yusuf...!" banyak orang yang baru berdatangan meminta tanda tangan.


Yusuf datang dengan di dampingi salah satu santri perempuan bernama Hafidzah. Hafidzah adalah salah satu sosok orang yang ahli agama, cerdas, dan cantik.Hafidzah adalah putri dari pemilik pesantren tempat Yusuf menimba Ilmu.


"Hafidzah...? tolong bawakan buku ini dan tas-tasnya!" kata Yusuf.


"Iya, A Yusuf," Hafidzah memanggil Yusuf dengan sebutan Aa.


Hafidzah sudah lama mengagumi Yusuf. Dari pertama kali Yusuf tinggal di pesantren milik Ayahnya. Tetapi selama ini Hafidzah hanya mengagumi Yusuf dengan diam tanpa berani mengungkapkan.


Kembali ke pergi ke tempat penerbit.


Kakiku melangkah menelusuri lobi tempat penerbit. Ku ketuk pintu sembari mengucapkan salam.


"Assalamuallaikum..."


"Iya, Waalaikumsalam Mbak, ada yang dapat saya bantu...?!" Kata satpam menghampiriku.


"Saya mau ke pusat informasi disini!"


"Baik Mba, saya antar!" kata satpam sambil membawaku kepusat Informasi.

__ADS_1


Setelah aku menuju ke Pusat informasi kemudian aku di sambut oleh petugasnya dengan ramah.


"Selamat Siang,Mbak?"


"Iya, Assalamuallaikum?"


"Waalaikumsallam."


"Begini Mbak! Saya mau menanyakan tentang penulis yang bernama Muhamad Yusuf?!"


"Mau menanyakan prihal apa ya, Mbak?"


"Saya mau minta alamat Yusuf, Mbak..."


"Saya harus menghubungi dulu pak Yusuf nya."


"Baik,"


Setelah pusat penerbit memberikan alamatnya Yusuf, aku langsung bergegas pergi ke tempat tinggal Yusuf.


Sesampainya di tempat Yusuf, aku melihat dirinya sedang duduk di depan teras rumahnya sambil membuat Novel dengan komputer.


"Assalamuallaikum...?!" ku langkahkan kakiku menuju teras rumahnya.


"Waalaikumsalam," Yusuf berdiri tercengang seakan-akan tak percaya aku ada di hadapannya.


"Caca..." Kata Yusuf.


"Ia Yusuf, ini aku." kataku sambil tersenyum.


"Kemana saja kamu Ca? aku mencarimu selama ini?!" ternyata Yusuf juga mencariku.


"Aku juga mencarimu, " tak sadar aku meneteskan air mata.


"Kenapa waktu itu kamu gak pamit sama aku?" kataku.


"Sebenarnya aku Pamit tetapi aku buru-buru. Waktu itu kamu sedang tertidur lelap. Sepertinya kamu kecapean.


Enam tahun yang lalu sebelum hari ini.


( Dalam bayangan masalalu)


Hujan lebat membasahi bumi di kediaman rumahku. Sebagian pohon tumbang tersambar petir. Salah satu pohon itu jatuh membasahi kepala Yusuf pada pukul 22.00 malam. Beruntung. Pohon-pohon itu tidak terlalu besar.


Yusuf mengetok pintu rumahku perlahan dengan menahan rasa sakit di kepalanya.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu.


"Iya, dengan siapa?" waktu itu kebetulan ada Ayah yang membukakan pintu.


"Assalamuallaikum..."kata Yusuf mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam. Yusuf mau apa kamu ke sini?" kata ayah dengan nada tinggi.


"Caca nya ada, Om?"


"Caca sudah tidur,"


"Bisa Om bangunkan sebentar?!"


"Gak bisa!" lalu Ayah mengusir Yusuf dan menutup pintu.


Kembali ke masa kini!


"Terus kenapa kamu bisa berada disini?" tanya Yusuf.


"Mulanya aku datang kesebuah toko buku yang gak jauh dari rumahku. Aku disana menemukan sebuah buku yang berjudul Wanita solihah pujaan hati, di situ tertera kamu adalah Author buku itu dan di dalam buku itu tertera alamat penerbit itu, aku langsung bergegas ke tempat penerbitan dan menanyakan alamat kamu," aku menjelaskan panjang lebar asal mula alamat Yusuf.


"Oh jadi yang kemarin meminta alamat aku itu kamu?"


"Iya,"kataku.


"Oh, gimana kabarumu sekarang?" tanya yusuf.


"Baik yusuf," kataku.


"Oh ya Ca aku minggu depan kebetulan aku ada tugas di Bandung. Mau mengadakan seminar cara membuat novel, di sana aku akan lumayan lama sekitar satu bulanan, kita bisa ketemukan?" tanya Yusuf. Aku mengangguk tanda mengerti.


"Nah... Caca, sekarang kamu pulang ya! Aku sekarang sedang banyak kerjaan, sampai ketemu di Bandung.


"Iya, Oh ya yusuf... Aku boleh minta nomer ponselnya gak? Biar kita bisa gampang ketemunya," kataku. Yusuf mengangguk tanda setuju dan memberikan nomer ponselnya.


"Makasih," kataku dengan wajah memerah.


"Sama-sama Caca," kata yusuf.


"Assalamuallaikum?" aku mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan Yusuf.


"Waalaikum salam."

__ADS_1


Langitpun menjadi cerah. Hati pun berbinar-binar. Rasanya aku ingin terbang ke awang-awang saking bahagianya. Aku tak nyangka bisa dipertemukan lagi dengan Yusuf setelah 6 tahun tak bertemu.


__ADS_2