Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 28 - Ayah Meninggal


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan kicauan burung berterbangan di angkasa, mereka menari-nari menggambarkan bahwa hidup harus di nikmati.


Setelah sarapan aku membersikan piring


-piring kotor yang ada di atas meja lalu aku membawanya ke dapur untuk aku cuci. Ketika aku mau menyabuni piring tiba-tiba aku tak sengaja menjatuhkan piring itu


Prak...


Suara piring jatuh ke lantai.


Aku sangat kaget dan aku mulai merasakan pirasat yang tidak enak di hati.


Ibu yang sedang menjemur pakaian di depan halaman rumah langsung menghampiriku.


"Ada apa Ca?" tanya Ibu penasaran.


"Ini Bu piring tiba-tiba jatuh," balasku,"


Kring... Kring... Kring...


Suara panggilan telepon dari arah ruang tamu. Ibu langsung bergegas ke ruang tamu untuk mengangkatnya.


Orang : "Bisa bicara dengan keluarga Pak Agus Salim? "


Ibu : "Iya saya istrinya, "


Orang : "Suami anda mengalami kecelakaan, sekarang Pak Agus sedang di larikan ke rumah sakit," ujar orang itu.


Ibu : "A... Apa?"


Ibu tak kuasa melanjutkan pembicaraannya lagi ia langsung menjatuhkan ponselnya lalu terjatuh di lantai.


Aku yang melihat Ibu terjatuh ke lantai, aku langsung menghampiri Ibu.


"Ada apa Bu?" tanyaku penasaran.


"Ayah Ca, Ayah... " Tak kuasa menahan tangis.


"Ayah kenapa Bu? " Aku semakin panik dan penasaran.


"Ayah kecelakaan... "


"A... Apa! "


Aku langsung memeluk Ibu dan menangis sekeras-kerasnya. Aku tak kuasa menrima semua kenyataan ini.


Aku dan Ibu langsung bergegas ke rumah sakit dan tanya ke ruang informasi.


"Mbak, Pasien yang bernama Agus Salim di rawat di ruangan mana ya?" tanyaku.


"Sebentar ya Mbak, saya cek dulu,"


"Iya cepat ya Mbak!"


"Pasien yang bernama Agus Salim masih di periksa di ruangan UGD, Mbak... "

__ADS_1


"Makasih, Mbak... "


Setelah aku dan Ibu menemukan ruangan UGD aku melihat seorang dokter keluar dari ruangan UGD aku langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Ayah.


"Bagaimana ke adaan suami saya, Dok? " tanya Ibu pada dokter.


"Apakah Ibu dan Mbak keluarganya? tanya dokter.


" Iya Dok kami keluarganya, "


"Silahkan! Pak Agus mencari kalian,"


"Terimakasih, Dok..."


Aku dan Ibu langsung masuk kedalam ruangan dan menghampiri Ayah. Di dalam ruangan UGD aku melihat Ayah dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Air mataku mengalir deras tak kuasa melihat keadaan Ayah seperti ini.


"Istriku, Maafkan aku selama ini aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu..." Ayah meminta maaf pada Ibu dengan kata-kata yang terbata-bata.


"Anakku Raisa... Maafkan Ayah Nak! Gara-gara kesalahan Ayah kamu menjadi korban, maafkan Ayah selama ini tidak bisa jadi Ayah yang baik untukmu... "


"Ayah ngomong apa sih? Caca yakin Ayah akan sembuh..." kataku sambil terisak-isak tangis.


"Ayah pasti sembuh..." kata Ibu sambil menangis.


Itu kata-kata terakhir dari mulut Ayah. Ayah mulai tidak bisa ber kata-kata Apa-apa lagi, lidahnya keluar seakan-akan ia sedang menahan rasa sakit yang tak bisa di ungkapkan.


"Ya Allah apakah Ayah sedang mengalami sakaratul maut?" Batinku.


Ibu memegangi tangan Ayah untuk membantu Ayah mengucapkan dia kalimat Syahadat.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah".


Setelah Ayah mengucapkan dua kalimat Syahadat di bantu Ibu, Ayah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku tak menyangka Ayah pergi meninggalkan kami secepat itu. Aku tak tahu kehidupan selanjutnya tanpa di hadiri Ayah.


"Ayah maafkan aku!" jeritan batinku.


Tidak ada sesuatu yang dialami anak Adam dari apa yang diciptakan Allah lebih berat daripada kematian. Baginya kematian lebih ringan daripada apa yang akan dialaminya sesudahnya. (HR. Ahmad)


***


Setu hari setelah Ayah meninggal.


Aku duduk di tepi sofa sedang memandangi foto Ayah.


"Selamat jalan Ayah..." batinku sambil mengusapi foto Ayah.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu terdengar dari arah pintu depan, aku langsung bergegas membukakan pintu dan yang ku lihat adalah Yusuf dan istrinya.


"Assalamuallaikum," Yusuf dan Hafidzah mengucapkan salam secara bersamaan.


Aku yang melihat mereka datang tentu saja kaget. Apa yang mereka akan lakukan? Apa mereka datang hanya untuk menambah luka setelah kepergian Ayah?.


"Ngapain kalian kesini?" tanyaku.

__ADS_1


"kami mau menjengukmu," jawab Yusuf.


"Kalian pasti mau manas-manasi aku kan?" tanyaku.


"Ngak Mbak Caca, kami ikut prihatin atas meninggalnya Ayah Mbak Caca..."


"..." aku tidak menjawab.


"Mbak Caca, aku tahu Mbak masih mencintai A Yusuf, maka dari itu aku mau melamar Mbak Caca untuk jadi istri ke dua A Yusuf," ujar Hafidzah sambil memegangi pundakku.


"Hafidzah apaan sih kamu?" tanya Yusuf berusaha mencegahnya.


Aku yang mendengar ujaran Hafidzah tentu saja kaget, aku tak menyangka Hafidzah akan sesolihah itu membiarkan suaminya menikah lagi dengan orang lain. Ia mengiklaskan hatinya seakan-akan tak peduli akan rasa sakit yang akan di alaminya setelah di poligami nanti.


Aku yang mendengar ujaran Hafidzah merasa terpukul karena selama ini aku selalu berpikiran negatif padanya, aku selalu merasa Hafidzah yang merebut Yusuf dariku.


Aku akhirnya mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan mereka duduk di sofa. Setelah aku, Yusuf dan Hafidzah duduk kemudian kami meneruskan pembicaraannya.


"Aku mohon A, Aa harus menikahi Hafidzah agar tidak ada lagi kekecewaan di antara kita," Hafidzah melanjutkan pembicaraan tadi.


"Tapi gimana dengan perasaan kamu?" tanya Yusuf.


"Aku gapapa A, yang penting Aa dan Mbak Caca bahagia. Kalau Aa dan Mbak Caca bahagia aku pasti bahagia,"


"Maafkan aku Hafidzah!" kataku lalu memeluk Hafidzah.


"Ini istriku yang meminta aku menikahimu Caca, maka aku akan menikahimu..." ujar Yusuf.


Hati Yusuf sebenarnya bahagia bisa menikah denganku karena ini yang selama ini ia harapkan, tetapi ia berusaha tidak menunjukan kebahagiaannya karena takut Hafidzah sakit hati.


"Tapi A, Aa harus berlaku Adil padaku dan pada Caca! Aa harus memberikan hak yang sama pada kami!" perintah Hafidzah pada Yusuf.


"Terimakasih Hafidzah, kamu sudah mengizinkan aku menikah dengan Yusuf," balasku sambil memegangi punggun tangan Hafidzah.


"..." Hafidzah tersenyum.


"Tapi aku harus minta izin dulu sama Ibu," ujarku.


"Ibu!"


"Ibu!"


Tak lama kemudian Ibu muncul dari arah dapur menghampiriku, Yusuf dan Hafidzah.


"Eh ada tamu..." sapa Ibu sambil menyodorkan tangannya pada Yusuf dan Hafidzah, mereka pun mencium punggung tangan Ibu.


Setelah Ibu duduk di sampingku, aku langsung menceritakan maksud dan tujuan kedatangan Yusuf dan Hafidzah mereka bermaksud turut berduka cita, selain itu mereka juga bermaksud untuk melamarku. Aku meminta Izin pada Ibu untuk menjadi istri kedua untuk Yusuf. Ibu pasrah dengan keputusanku untuk menikah dengan Yusuf asal Yusuf harus bisa membahagiakan aku dan berlaku adil.


***Yuhu... gimana teman? baper banget kan?


Terimakasih ya teman-teman yang udah setia ngikutin cerita Wanita Solihah Pujaan Hati.


Jangan lupa Like, Vote, Comen, dan bintang 5.


dan jangan lupa Favoritkan agar tidak ketinggalan episode-episode selanjunya***.

__ADS_1


__ADS_2