
“Ibu jangan seperti itu donk!” ucap Morgan pada Bu Angel yang sedang duduk berhadap-hadapan di meja makan.
“Morgan kamu harus memilih calon istri yang seiman dengan kita! Ibu akan kenalkan kamu dengan anak teman Ibu namanya Aurel. Aurel adalah sosok perempuan yang sangat cantik, sopan, terhormat, mempunyai pendidikan yang tinggi di luar negeri dan Aurel adalah anak orang kaya…” ujar Bu Angel pada Morgan sambil menuangkan minuman kedalam gelas.
“Bu, cinta itu tak bisa di paksakan!” tegas Morgan.
“Oh, jadi kamu mau memaksakan memilih Raisa yang tidak seiman dengan kita? Kamu itu harus berpikir dengan cerdas!” tegas Bu Angel lalu bangkit dari tempat duduknya dan pergi.
***
Aku terbangun dari gelapnya malam setelah mengunjungi alam mimpi. Langit yang perlahan berubah dari gelap menjadi terang membuat air-air embun menetes dari pohon-pohon yang berdiri kokoh ikut terbangun dan berdzikir. Rasa dingin dan sejuk yang menusuk raga mulai perlahan hangat karena pancaran mentari yang mulai terbit ke angkasa.
Rasanya raga ini tak ingin bangun dari tempat tidur, namun apalah daya sang mentari telah masuk ke dalam kamar melalui jendela menyilaukan mataku. Jiwaku meronta teringat pada ucapannya yang terngiang kedalam gendang telinga yang mulai naik keatas pikiranku. Mengapa Morgan bersikap seperti itu? Hatiku menjerit banyak tanya yang belum ada jawabannya.
“Kamu bangunnya siang sekali, Nak?” tanya Ibu sambil memasak sayur di dapur.
“Aku sedang haid, jadi aku keasikan tidur,” balasku sambil menguap lalu duduk kursi meja makan.
“Memang kamu sekarang nggak berangkat ke sekolah?” tanya Ibu lagi.
“Nggak Bu sekarang aku mau ke toko buku untuk mencari reperensi buat kompetisi lomba tahfidz hari Sabtu…” ucapku.
“Semoga berhasil anak solihah!” ucap Ibu padaku.
“Aamiin…”
Setelah mandi aku langsung mengajak Delia untuk menemaniku ke toko buku. Ketika aku bersama Delia akan berangkat tiba-tiba suara ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk. Aku pun sepontan mengambil ponselku di dalam tas lalu mengangkatnya.
Raisa : “Hallo, Assalamuallaikum…”
Morgan : “Waalaikum salam…” balas Morgan dengan lirih.
Raisa: “Kamu kenapa?”
Morgan : “Maafkan aku atas sikap aku kemarin!”
Raisa : “Nggapapa kok, aku ngerti pasti kamu sedang ada masalahkan?”
__ADS_1
Morgan : “Iya, Ibu kaget melihat kamu memakai jilbab. Aku belum cerita dengan Ibu soal aku akan menjadi mu’alaf,” ucap Morgan merasa bersalah.
Raisa : “Iya aku mengerti, tidak mudah untuk Ibu kamu menerimanya, apalagi soal keyakinan,”
Morgan : “Aku akan secepatnya pindah keyakinan!”
Raisa : “Morgan, aku sangat bersyukur kalau kamu mua’alaf,”
Belum sempat Morgan melanjutkan pembicaraannya tiba-tiba Delia memanggilku.
“Ca, ayo kita berangkat sekarang!” panggil Delia dari teras rumah.
“Iya Del, bentar!”
Raisa : “Sudah dulu ya! Aku mau ke toko buku dulu,”
Morgan : “Mau aku antar?”
Raisa : “Nggak usah, aku udah di temenin sama Delia. Ya sudah aku tutup teleponnya ya? Assalamuallaikum…”
Setelah pulang dari toko buku aku langsung ke dalam kamar untuk membaca buku yang telah di beli. Lembar demi lembar buku telah aku baca sampai halaman terakhir sehingga aku siap untuk mengikuti kompetisi hari sabtu nanti.
Malam hari ketika aku sedang duduk di teras rumah menatap langit yang penuh dengan bintang. Terlintas di pikiranku memikirkan dengan apa yang di katakana Morgan pagi tadi di dalam telepon. Apa memang benar aku bersama Morgan tidak akan bersatu?
Aku percaya Allah telah menyiapkan jodoh yang terbaik untukku. Yang harus aku lakukan sekarang adalah fokus menghafal Al-Qur’an agar aku bisa membahagiakan Ayah di syurga. Rasanya aku dzolim jika aku hanya memikirkan tentang cinta saja melebihi cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku sungguh tidak ingin terulang lagi kejadian di madu oleh Yusuf tanpa ada keadilan dan di tinggalkan tanpa sebab memilih istri pertamanya.
MALAM JUM'AT
Jam dinding kamarku menunjukan pukul 07.15. Adzan baru saja berkumandang mengingatkan sudah masuk waktu isya. Aku baru saja selesai murojaah untuk memantapkan hafalanku. Aku membuka pintu rumah lalu keluar rumah untuk menghirup udara segar. Aku melihat kearah gerbang. Tampak Morgan berdiri di samping gerbang sambil melihat kearahku.
“Assalamuallaikum…” ucapan salam dari Morgan sambil menghampiriku.
“Waalaikumsalam…” balasku seraya tersenyum.
“Ada apa Morgan malam-malam kesini?” tanyaku penasaran.
“Kamu belum tidur?” tanya Morgan lalu duduk di kursi teras rumahku.
__ADS_1
“Belum, aku baru saja selesai mengaji dan shalat isya,”
“Aku besok mau membawamu ke suatu tempat,” ucap Morgan.
“Besok aku nggak bisa,” balasku dengan nada pelan.
“Memangnya kenapa? Kamu marah?” Morgan mengangkatkan alisnya karena kecewa.
“Besok aku ada kompetisi lomba Hafidz Al-Qur’an sekota Bandung…”
“Oh, kalau begitu aku akan menemanimu!” seru Morgan semangat.
“…” aku menganggukan kepalaku beberapa kali tanda setuju.
***
Hari ini hari Sabtu. Hari dimana aku akan mempertaruhkan kemampuanku di hadapan ribuan orang. Dimana aku akan memanfaatkan Hafalanku untuk di jadikan tauladan bagi orang-orang di luar sana.
“Hafidz Al-Qur’an selanjutnya!” ucap MC.
Jenk… Jreng… Jreng…
“Raisa Adita!!!”
“Raisa Adita adalah seorang Guru dan Hafidz Al-Qur’an dari SMP Bandung. Raisa Adita hari ini akan membacakan surah As-Saff.” Ucap MC lagi.
Prok… Prok… Prok…
Semua penonton termasuk Morgan berdiri dan bertepuk tangan memberikan afresiasi untuk penampilanku.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ”
“سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3) إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي
سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ (4) }”
Morgan yang mendengar aku melantunkan ayat Al-Qur’an sepontan meneteskan air mata. Hatinya terasa tenang mendengar ayat demi ayat yang membuat dirinya yakin untuk menjadi mu’alaf.
__ADS_1