
“Aku merinding mendengarnya, suara kamu merdu sekali…” ucap Morgan padaku.
“Terimakasih atas pujiannya…” balasku.
Setelah diriku tampil, tak lama kemudian MC memanggli peserta dengan nama yang tak asing lagi terdengar di telinga.
“Hafidz Al-Qur’an selanjutnya dengan peserta terakhir!” ucap MC membuat semua peserta penasaran.
Jreng… Jreng… Jreng…
“Hafidz Al-Qur’an dari sebuah pondok pesantren dari Cianjur! HAFIDZAH!!!” ucap MC seraya mempersilahkan Hafidzah untuk naik ke atas panggung.
“Hafidzah adalah Hafidz Al-Qur’an sekaligus pemilik sebuah pesantren yang berada di Cianjur. Hafidzah akan membacakan surah Maryam…” ucap MC lagi.
Prok… Prok… Prok…
Semua penonton kembali berdiri dan bertepuk tangan.
Ternyata yang di ucapkan oleh sang MC adalah Hafidzah. Orang yang selama ini pernah jadi bagian hidupku dan orang yang selama ini menjadi insfirasi ketika diriku menjadi istri Yusuf
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
(1)كٓهيعٓصٓ
(2)ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَبۡدَهُۥ زَكَرِيَّآ
(3)إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيّٗا”
Aku yang mendengar Hafidzah membaca Al-Qura’an sepontan berderai air mata, karena dengan suaranya yang merdu, nagmah yang sempurna dan ayat demi ayat yang di bacakan oleh Hafidzah sangatlah menyentuh hati.
Tiga puluh peserta Hafidz Al-Qur’an sekota Bandung telah tampil, kini saatnya juri mengumumkan pemenang dari seluruh peserta. Semua peserta hatinya berdebar menunggu moment-moment kemenangan itu tiba.
“Pemenang lomba Hafidz Al-Qur’an tahun 2020 sekota Bandung adalah…?” ucap MC seraya membuat seluruh peserta dan penonton penasaran.
Jreng… Jreng… Jreng…
“HAFIDZAH dari CIANJUR!!!”
Suasana aula dimana tempat kompetisi itu di gelar sangat ramai. Semua juri dan penonton yang hadir berdiri dan bertepuk tangan.
Aku berusaha menerima semua keputusan yang di tetapkan juri meski kini aku tak bisa membanggakan sekolah namun aku akan terus berusaha belajar lebih baik lagi.
__ADS_1
Aku bersama Morgan menghampiri Hafidzah yang sedang di gandeng oleh Yusuf.
“Selamat, ya!” ucapku pada Hafidzah.
“Terimakasih, Mbak…” ucap Hafidzah seraya tersenyum.
Yusuf menelan ludah. Kesal dengan kedekatan aku bersama Morgan dan membuat dirinya kembali mengingat masalalu itu. Meskipun kini Yusuf sudah bukan menjadi suami istri lagi namun rasa cinta itu masih kepadaku. Mata Yusuf memandangi Morgan dengan tajam namun Morgan tidak menghiraukannya.
“Kita pergi dari sini!” ucap Morgan seraya menarik tanganku kearah parkiran.
“Jangan pegang-pegang Gan! Bukan muhrim!” balasku seraya menepiskan tangannya.
“Iya Maaf, tapi tadi si Yusuf lihat kamu terus …” ucap Morgan dengan wajah kesal.
“Apa sekali lagi?” ucapku sambil menyodorkan telinga ke depan mulutnya.
“Yusuf melihat kearah kamu terus…” ucap Morgan lagi. Wajah Morgan sepontan berubah menjadi merah.
“Cemburu ya?!” Ledek aku.
“Enggak! Siapa yang cemburu, sih?” ucap Morgan semakin memerah.
“Cemburu?!”
Di tengah trik sinar matahari.
“Assalamuallaikum Ibu. Ibu maaf aku kalah kompetisi Tahfidz Al-Qur’an. Aku tidak bisa membanggakan sekolahan…” ucapku sambil berlinang air mata di pelukan Ibu.
“Tapi tetep kamu itu prestasi untuk Ibu…” balas Ibu seraya tersenyum dan menghapus air mataku.
“Terimakasih, Ibu…” ucapku lirih.
Di dalam kamar aku langsung menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Karena seharian ini aku banyak urusan di sekolah dan di tamah dengan persiapan lomba Tahfidz Al-Qur’an.
“Astagfirullahaladzim, tulang-tulangku terasa remuk…” ucapku sambil mengusap pinggang.
***
Malam hari setelah shalat isya Hafidzah sedang duduk di sopa bersama Yusuf sambil membuka amplop hasil kompetisi Tahfidz Al-Qur’an.
“Ini A, untuk Aa…” ucap Hafidzah sambil menyodorkan uang di dalam amplop.
__ADS_1
“Kenapa di kasih Aa? Ini uang kamu sayang…” ucap Yusuf menolak pemberian uang dari Hafidzah.
“Iya tahu sayang, tapi sebaiknya ini pergunakan untuk modal membuat buku baru Aa!” balas Hafidzah kembali menyodorkan uangnya.
“Jangan sayang! Aa masih punya tabungan…” balas Yusuf.
Hafidzah tidak memaksa. Hafidzah langsung memasukan uang di dalam amplop itu kedalam tas miliknya.
Keesokan harinya, Yusuf sudah siap berangkat seminar buku di Jakarta dengan setelan jas berwarna coklat dan celana coklat senada dengan dasi yang di kenakannya. Ia membawa sejumlah buku yang ia tulis ke dalam koper besar karena akan sekaligus memamerkan di sebuah perpustakaan ternama di Jakarta.
“Aa berangkat dulu …” ucap Yusuf sambil mengelap mulit menggunakan tisu karena sehabis sarapan bareng.
“Hati-hati ya, A! Semangat kerjanya!” ucap Hafidzah sambil menuangkan air putih kedalam gelas lalu di berikan kepada Yusuf.
“Iya Sayang, jaga dirimu dan Mikaila baik-baik!”
“Baik, Bos!” balas Hafidzah lalu mencium punggung tangan Yusuf.
Setelah Yusuf berangkat ke Jakarta, Hafidzah langsung memasuki kamar bayi karena Hafidzah mendengar Hafidzah mendengar suara rengekan Mikaila.
Morgan memasuki kantor dengan wajah kurang ceria. Namun di balik wajahnya yang kurang bersemangat seperti biasa Morgan bersikap propesional dan ramah kepada seluruh karyawan kantornya. Morgan lalu duduk di kursinya tak lama kemudian Rey masuk ke dalam ruangan Morgan lalu menghampiri Morgan yang sedang melamun.
“Kamu kenapa kaya banyak masalah gitu?” tanya Rey pada Morgan.
“Aku lagi pusing…” balas Morgan.
“Kanapa lagi?” tanya Rey penasaraan.
“Ibu aku nggak setuju aku sama Raisa…” ucap morgan dengan lirih lalu menyeruput kopi.
“Sudahlah Gan, cari cewek lain aja!” perintah Rey pada Morgan.
“Apaan sih?”
“Ibu aku nggak setuju karena Raisa ngga seiman denganku, terus Ibu aku mau jodoh-jodohin aku sama cewek lain,”
“Terus rencana mu’alaf kamu gimana?” tanya Rey sambil menyeruput air putih.
“Aku belum siap karena melihat sikaf Ibu aku seperti itu. Jangankan aku menjadi mu’alaf, aku nikah dengan Raisa aja nggak setuju…”
“Ya udah kamu yang sabar aja!” ucap Rey sambil mengusapi pundak Morgan.
__ADS_1
“Keluar kamu aku mau sendiri!” perintah Morgan.
“Ya udah iya, galak sekali!”