Wanita Solihah Pujaan Hati

Wanita Solihah Pujaan Hati
ep 16 - Di Paksa Menikah Part 2


__ADS_3

Pukul 04.30 pagi.


"Allahuakbar... Allahuakbar..."


Suara Adzan berkumandang di angkasa. dengan lantunan yang sangat merdu membuat aku yang tertidur lelap membukakan mata dan tersenyum.


"Alhamdulillah," aku menghembuskan napas dari hidung dan membuangnya dari mulut sambil mengucapkan Hamdalah.


"Terimalasih Ya Allah Engkau telah memberikan kesempatan untuk bisa bangun di pagi hari ini." batinku sambil tersenyum.


Pagi ini kepalaku terasa berat, napas terasa sesak dan perut pun terasa sakit. Aku tidak seperti biasanya yang bangun sebelum Subuh, mengambil Wudlu dan melaksanakan Shalat Subuh karena aku sedang Haid. Aku hanya turun dari atas ranjang kemudian mandi dan setelah mandi aku kembali naik keatas ranjang untuk kembali merebahkan tubuh.


Ibu yang melihat aku tak seperti biasanya tentu saja kaget, kemudian Ibu masuk pintu kamar aku yang tidak di kunci.


"Kanapa ini anak gak biasanya jam segini belum bangun," batin Ibu.


Ketika Ibu memasuki kamarku, Ibu langsung duduk di tepi ranjang dan mengusap kepalaku dengan tangannya.


"Caca...?" sambi membalikan badanku dan mengusap kepalaku yang terasa panas.


"Ya ampun Caca, badan kamu panas sekali." kata Ibu sambil memegang tanganku.


"Kamu sakit, Caca?" tanya Ibu dengan panik.


"Gak tahu Bu, badan Caca berat banget." kataku dengan suara pelan.


"Ya sudah... sekarang Ibu bawa kamu ke rumah sakit." kata Ibu sambil membangunkan tubuhku yang tak berdaya.


"Gak usah Bu, Caca hanya butuh Istirahat!" aku mencegah Ibu untuk membawaku ke rumah sakit.


"Tapi Ca...?"


"Sudah Bu, Caca gapapa Bu." aku meyakinkan Ibu.


"Ibu tahu, kamu seperti ini pasti memikirkan perkataan Ayah semalam, kan?" tanya Ibu.


Aku tidak menjawabnya aku hanya meneteskan air mata dan memeluk Ibu.


"Maafkan Ibu Caca, Ibu gak bisa buat apa-apa. Kamu tahu sendiri kan, gimana keras kepalanya Ayah?" aku hanya mengangguk dan semakin terisak-isak.


Bumi ini terasa runtuh menerima semua kenyataan ini. Aku berharap ini semua hanya mimpi. Aku berharap kenyataannya itu aku bisa menikah dengan Yusuf sang pujaan hati.


Tak lama kemudian ponselku bergetar tanda ada pesan masuk.


Yusuf : "Assalamuallaikum, Caca?"


Raksa : "Waalaikumsalam, Yusuf,"

__ADS_1


Yusuf : "kamu lagi ngapain?"


Raisa : "Aku lagi rebahan di atas ranjang,"


Yusuf : " Kamu sehat?


Raisa : "Sehat," terpaksa aku berbohong pada Yusuf, karena takut Yusuf khawatir.


Yusuf : "Syukur Alhamdulillah kalau gitu, aku jadi lega." Yusuf selalu bahagia dan senyum-senyum sendiri jika sedang Chatan denganku.


Yusuf : "Oh ya Caca, seminggu lagi aku akan ke Bandung untuk melamarmu,"


Raisa : " O..yah...?" aku hanya memberi jawaban yang simple.


Yusuf : "Iya... aku akan bawa orang tua aku kesana,"


Raisa : "Kalau rencana lamaran kamu di tunda dulu gimana?" balasanku dengan hati-hati.


Yusuf : "Kenapa kok tiba-tiba...? pasti ada yang gak beres.


Raisa : "Gapapa... kasih waktu aku lagi ya!"


Setelah aku membalas pesan terakhir dari Yusuf aku tidak membalas lagi chatannya, aku langsung mematikan ponselku dan menarunya dibawah bantal. Tak lama kemudian tak terasa air mataku mengalir deras dan batinku merasa tersiksa.


***


"Wah... kaya sekali keluarga Satria. Baru lamaran udah ngasih sayuran dan uang 10.000.000, baru melamar aja udah ngasih uang segini banyak apalagi udah jadi menantu," batin Ayah dengan matanya melihat katas dan mengepalkan tangannya dibawah dagu kemudian senyum-senyum sendiri.


Mereka berbincang-bincang di ruangan tamu dengan minum kopi yang dibuat oleh Ibu.


"Raisa nya mana, Tan? kok gak keliatan?" tanya Satria karena tak sabar ingin ketemu denganku.


"Ada di kamar dia sedang Istirahat," kata Ayah.


"Bisa panggilin sebentar saya akan mengatakan sesuatu pada Raisa?!" kata Satria dengan menyeruput kopi.


"Baik," Ayah langsung bergegas memanggilku.


"Caca?" Ayah memanggilku dengan nada tinggi.


"Keluar kamu!" aku berusaha tidak menghiraukannya.


"Satria sudah menunggumu dari tadi,"


"Aku gak mau Yah, aku maunya sama Yusuf," air mata pun jatuh.


"Ayah gak mau tahu sekarang kamu ke luar dan terima lamarannya Satria!" Ayah terus memaksaku.

__ADS_1


Ayah adalah sosok yang sangat keras kepala, segala keinginannya harus di turuti. Ibuku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini.


Setelah Ayah keluar kamar aku langsung masuk kedalam kamar mandi untuk cuci muka. Setelah cuci muka aku langsung memakai kerudung lalu keluar kamar untuk menemui Satria.


"Nah... itu Raisa baru keluar," kata Ayah. Tangannya menunjuk kehadapanku lalu melambaikan tangannya menuruhku duduk di sopa dekat Satria.


"Eh, Kak Satria?" aku menyapa Satria sambil tersenyum terpaksa.


Setelah aku duduk di sopa, Satria langsung mengutarakan maksud dan tujuannya datang kesini. Aku tak tau harus berbuat apa lagi. Aku hanya bisa pasrah dan berdo'a agar Allah bisa memberikanku yang terbaik.


"Om, Tante?" kata Satria sambil mengambil sesuatu di dalam sakunya.


"Ia Satria," kata Ayah.


"Maksud kedatangan Saya kesini, bermaksud ingin memnta izin kepada Om dan Tante didepan Mama dan Papa saya untuk melamar Raisa," Sambil memegang cincin lengkap dengan kotaknya.


"Tentu saja Om izinkan Nak Satria," kata Ayah tanpa basa-basi menerima lamaran Satria.


"Bagaimana Raisa, kamu menerimanya?" kata Papa nya Satria ( Susilo Hariono).


Tadinya aku tidak akan menerima lamarannya Satria, tapi Ayah terus memelototi aku dan mengedip-ngedipkan matanya tandanya aku harus setuju.


"I...i...ya.. a...aku mau," aku menerima lamaran Satria. Tanpa sadar air mataku tak bisa ku bendung lagi.


"Yeeesss..." kata Satria saking bahagianya.


"Jadi bagaimana dengan acara pernikahannya?" kata Ayah menuju kearah pernikahan.


"Yah...?" kataku.


"Suts...!" kata Ayah menyuruhku diam.


"Saya Rasa besok kita adakan pernikahannya. Biar Saya urus semua persiapannya,"


"Loh, kok bisa secepat itu?" kataku.


"Karena Saya hanya tiga hari di Indonesia, lusa Saya harus pulang lagi ke Korea," kata Pak Susilo.


"Tidak masalah, Saya setuju." kata Ayah.


Hari itu aku resmi di lamar oleh Satria. Besok adalah hari pernikahan aku dengan Satria. Hari itu juga dunia terasa runtuh, lautan terasa tumpah kebumi. Perasaanku hancur menjadi debu.


"Ya Allah, bagaimana dengan Yusuf, Hikz...hikz...hikz..." batinku.


Waktu sudah menujukan pukul 16.00 WIB.


Setalah acara lamarannya selesai, Satria dan keluarganya pamit pulang karena mereka akan melaksanakan pernikahan besok.

__ADS_1


Setelah mereka pergi, aku langsung masuk kedalam kamar lalu membanting-banting kan barang-barang yang ada di kamar karena terlalu emosi.


__ADS_2